Transportasi

Musni Umar

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Sociologist and Researcher, Ph.D in Sociology, National University of Malaysia (UKM)

Musni Umar: Bus-bus TransJakarta yang Dibeli dari RRC Sebaiknya Dibuat Dalam Negeri

OPINI | 10 February 2014 | 08:03 Dibaca: 93   1

Minggu lalu dalam perbincangan saya dengan beberapa wartawan dan aktivis, saya diinformasikan bahwa bus-bus yang dibeli Pemprov DKI Jakarta dari RRC kualitasnya rendah dan cepat rusak.

Informasi itu saya anggap hanya sebagai masukan. Maka saya tidak beri respon. Alasan saya, pertama, saya khawatir sebagai fitnah untuk mendiskreditkan Gubernur Jokowi. Kedua, saya tidak memiliki kepakaran dalam bidang otomotif.

Oleh karena itu, saya hanya menjadi pendengar yang baik dalam perbincangan tersebut. Akan tetapi, berita di Kompas.com (9/2/2014) bertajuk “TransJakarta Diduga Bekas, Jokowi Ditipu Perusahaan China”, dan “TransJakarta dan BKTB Baru Jokowi Diduga Barang Bekas”, mengkonfirmasikan bahwa mungkin ada benarnya walaupun sedikit dari informasi beberapa wartawan dan aktivis tersebut. 

Tulisan di Kompas.com itu sangat menyakinkan masyarakat karena disertai dengan photo-photo pada bagian bus Transjakarta yang rusak dan diduga barang bekas.

Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan apakah bus-bus yang diimpor dari RRC ada yang bekas atau semua baru, tetapi saya ingin menjadikan momentum ini untuk menyarankan supaya bus-bus yang diimpor untuk keperluan transportasi massal di DKI Jakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia dibuat oleh bangsa Indonesia sendiri.

Buat Sendiri

Sebagai seorang Indonesia, sudah sepantasnya kita bangga menjadi orang Indonesia, tetapi kebanggaan itu jangan “kebanggaan kosong”, tidak satupun yang patut dibanggakan, semua yang dipakai adalah barang impor – produk bangsa lain.

Berkaitan dengan itu, sangat relevan dikemukakan pidato Presiden RI pertama Bung Karno pada peringatan HUT RI 17 Agustus 1965, yang menegaskan pentingnya bangsa Indonesia . “Berdikari”, berdiri di atas kaki sendiri (sumber: Hajar Pamundi, Soekarno Online, Berdikari, Kemandirian Ala Bung Karno).

Pidato Bung Karno itu, lebih ditekankan kepada kemandirian dalam bidang ekonomi, tetapi menurut saya harus pula dimaknai “kemandirian” dalam arti yang luas, termasuk kemandirian dalam penyediaan transportasi seperti kendaraan bus.

Pertanyaannya, apakah kita bisa membuat bus-bus gandeng seperti yang dipergunakan TransJakarta sekarang? Pertama, saya yakin 100 persen bangsa Indonesia bisa membuat bus sendiri. Pesawat terbang saja di masa BJ Habibie kita bisa buat, apalagi hanya bus gandeng. Kedua, tenaga ahli, apakah bangsa Indonesia siap? Saya yakin kita siap. Tinggal ada tidaknya kemauan politik (political will) dan keberanian politik (political courage) dari para pemimpin di negeri ini. Ketiga, teknologi, saya juga percaya bangsa Indonesia ini mampu, karena teknologi mesin kendaraan semacam bus, tidak terlalu canggih. SMK saja bisa buat mobil, mengapa RI yang besar ini tidak tidak bisa. Keempat, modal tidak masalah, Pemprov DKI melalui BUMD bisa bekerja sama dengan BUMN strategis untuk membuat bus sendiri, yang sudah memiliki captive market, yang sudah siap pembelinya yaitu Pemprov DKI Jakarta dan berbagai daerah lain di seluruh Indonesia  dan pihak swasta.

Mengapa Harus Buat Sendiri dan Siapa yang Membuatnya

Merujuk pidato Bung Korno yang saya kemukakan diatas, maka menurut saya bangsa Indonesia harus mandiri, karena sudah terbukti menjadi bangsa konsumen lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Pertama, supaya ada kebanggaan sebagai bangsa yang besar. Kalau bus saja impor, apa kebanggaan sebagai bangsa Indonesia?

Kedua, membuka lapangan kerja. Kalau bus-bus yang diimpor dari RRC di buat dalam negeri, maka akan membuka lapangan kerja yang besar. Industri mesin akan tumbuh dan berkembang, begitu pula industri karoseri akan kembali bergairah yang sekarang ini mati suri akibat kebijakan pemerintah yang “import minded”.

Ketiga, alih teknologi. Indonesia tidak bisa tidak harus menguasai teknologi supaya menjadi bangsa yang dibanggakan dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Keempat, hemat devisa. Kalau bus-bus yang banyak sekali di impor dibuat dalam negeri, maka yang untung adalah bangsa Indonesia sendiri karena devisanya tidak terkuras habis untuk membiayai impor bus yang sejatinya bisa dibuat dalam negeri.

Kelima, memperkaya bangsa sendiri. Kalau bus-bus TransJakarta dan bus-bus lainya yang dipergunakan di DKI Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia, diproduksi dalam negeri, maka uang dari APBN, APBD DKI dan APBD berbagai daerah di Indonesia, yang akan menikmati adalah rakyat Indonesia.

Melalui pembuatan bus-bus di dalam negeri, akan terjadi multiplier effect, yaitu rakyat mendapat pekerjaan, dari hasil bekerja, mereka mencicil rumah, membiayai sekolah anak-anak mereka, berbelanja untuk makan sewaktu bekerja dan keluarga berbelanja berbagai keperluan. Hasilnya, ekonomi akan berputar di kalangan rakyat Indonesia, sehingga meningkat kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Kalau impor bus dan berbagai barang lainnya, hanya tiga pihak yang beruntung. Pertama, pihak asing sebagai produsen. Kedua, importir. Ketiga, pejabat yang mendapat komisi. Rakyat Indonesia buntung (merugi) tidak dapat apa-apa.

Marilah kita amalkan Tri Sakti Bung Karno untuk kemajuan, kejayaan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Siapa yang mengerjakan pembuatan bus, sebaiknya BUMN, karena BUMN merupakan representasi dari kepemilikan seluruh rakyat Indonesia. Ini juga untuk menghindari terulang kasus proyek Mobil Nasional (Mobnas) yang gagal karena diserahkan kepada keluarga atau pihak swasta.

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta