Transportasi

Bai Ruindra

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Saya seorang yang senang mendengar musik dan memainkan kata-kata hingga jadi tulisan berharga! --> Bai RUIndra on Facebook dan @bairuindra on Twitter

Kemacetan yang Tak Biasa

REP | 16 August 2013 | 17:30 Dibaca: 188   1

1376649002474986426

Kata macet bisa jadi hal lumrah untuk kota besar, termasuk ibu kota Jakarta. Kemacetan yang dialami setiap saat sudah menjadi rutinitas yang tak perlu dijadikan masalah. Masalah ini tak pernah terselesaikan mengingat semakin meningkatnya tingkat pendudukan dan kekayaan masyarakat, hal ini ditandai dengan semakin banyak orang mampu membeli kendaraan pribadi sehingga kemacetan tak bisa diatasi.

Kemacetan yang lumrah tentu jadi hal biasa, namun kemacetan yang tak biasa saya alami hampir tiap setahun dua kali. Pernah terpikir dalam benak, kapan saya bisa ke Jakarta dan menikmati macet yang katanya melatih kesabaran tersebut. Karena alasan keuangan saya tidak pernah sampai-sampai ke ibu kota tercinta. Akhirnya mimpi saya yang ingin melebur ke ranah macet terealisasi setahun dua kali. Mungkin ini mimpi yang aneh, terkadang dari keanehan itu pula menjadi sesuatu yang indah dan patut di kenang. Kemacetan di ibu kota tentu bukan hal yang menjadi spektakuler, sebab hal itu terjadi secara berkesinambungan. Kemacetan di kampung halaman saya malah menjadi hal yang wajid diikuti dan berbaur karena tak pernah ada dalam keseharian.

Suasana macet ini terjadi saat malah takbiran, baik malah Idul Fitri maupun Idul Adha. Kota ini memang kecil dibandingkan kota lain, hanya ibu kota Kabupaten Aceh Barat yang penduduknya tak seberapa. Herannya malam takbiran selalu menjadi bencana macet, berbondong-bondong masyarakat Aceh Barat ke ibu kota Meulaboh sekadar melepas lelah sebulan puasa, melihat takbir keliling maupun belanja kebutuhan lebaran.

Saya ikut melebur, mencapai mimpi yang sudah berulang kali saya khayal. Macet! Berbaur dengan berbagai tingkah polah masyarakat Aceh Barat di malam takbiran jadi sesuatu yang menawan. Ketemu teman lama, siswa saya yang juga tak mau ketinggalan ikut takbir keliling, orang tua dengan anak mereka, muda mudi dengan berbagai watak, mobil-mobil mewah yang semakin memecah kebisingan dan tentu saja rombongan peserta takbir keliling dengan mobil hiasan dan drum ala kadarnya; galon air mineral sampai drum beneran.

Alasan saya hanya ingin berbaur dengan macet, selebihnya hanya sekadar mampir sebentar ke minimarket untuk membeli sirup dan kue lebaran yang tak akan menghabiskan uang sampai seratus ribu rupiah. Sengaja saya ikut rombongan takbir keliling biar lama berkecimpung dalam penatnya macet. Kota kecil Meulaboh yang ditengah kota terdapat air mancur menyentak-nyentak terdengar takbir. Takbir terus bergema dan macet pun semakin memanjang, namun tidak ada suara klakson kendaraan, sepertinya semua masyarakat Aceh Barat seperti saya; menikmati suasana macet di kota kami!

Macet ini berlangsung setelah shalat isya sekitar pukul 20.00 waktu Aceh Barat, saat pawai takbiran dimulai. Bermula dari masjid Agung Meulaboh yang berwarna keemasan dan arsitektur menawan, macet memanjang sampai ke seluruh penjuru kota. Jalanan pun ada yang dibuat satu jalur sehingga tak bisa dilintasi oleh kendaraan yang terbiasa dengan suasana lengang. Usai takbir di sekitar pukul 22.00 waktu Aceh Barat pun kemacetan hilang. Keramaian yang tadi membalut jalanan sepi kota Meulaboh di hari biasa mendadak ke posisi semula. Perasaan saya saat sepi seperti ada yang kosong, rasanya ingin lama berada dalam suasana macet.

Macet yang membuat malam takbiran semerbak tawa punya banyak makna bagi saya, terutama tidak terlihatnya orang yang ugal-ugalan mengendarai kendaraan, melatih kesabaran, membuat kota kami hidup dan dipenuhi lautan manusia. Hal ini tentu akan jadi masalah jika setiap waktu menjadi macet; seperti Jakarta. Orang akan bosan, tidak sabar dan tidak mau berlama-lama dalam penatnya duduk di belakang kemudi.

Macet sekali-kali – dua tahun sekali seperti yang kami rasakan – menjadi idaman masyarakat kampung yang tak pernah merasakan hal ini. Seperti yang sudah saya katakan, walau tidak punya keperluan lain di malam takbiran; membeli keperluan lebaran dan lain-lain, merasakan macet sudah cukup. Seakan berada di Jakarta di mana suasana macet selalu dikeluhkan.

Macet? Ada baiknya tidak selalu dikambinghitamkan, tinggal nikmati dan jalani. Suatu saat ketika macet tidak ada, maka kesepian menimbulkan ketakutan tersendiri. Percaya atau tidak, tergantung paradigma yang diciptakan oleh setiap individu.

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta