Back to Kompasiana
Artikel

Transportasi

Ady Ahmed

http://adyfir1428.blogspot.com/

Drama di Panggung Jalanan

OPINI | 06 May 2013 | 09:45 Dibaca: 124   Komentar: 0   0

Macet!

Ah, percuma mendebat perihal macet jika masih tinggal di kota dengan mobilitas tinggi seperti Jakarta. Sibuk mencari kambing hitam pun hanya sia-sia saja. Pasalnya, akan menjadi tidak bijaksana bilamana kita menunjuk jari kepada pemerintah, seolah ini adalah tanggung jawab tunggal mereka. Toh kenyataan di lapangan, kita sendiri masih sering alpa terhadap kedisiplinan di jalan, seperti melanggar rambu lalulintas. Hayooo jujur!

Abaikanlah itu semua. Anggap saja macet sebagai bonus pelajaran untuk kita yang merasakannya. Lho kok pelajaran? Ya, mau tidak mau kita harus melalui kemacetan tersebut untuk belajar lebih disiplin, belajar sabar dan belajar belajar belajar lainnya.

Setiap hari saya berangkat kerja mesti melewati Jalan Jenderal Sudirman. Mau tidak mau setiap pagi dan sore harus menghadapi macet. Terutama tepat di depan kampus Atma Jaya, setiap sore selalu dipadati kendaraan, terkecuali hari Sabtu.

Nikmati! Begitulah saya mengatur pikiran saya supaya tidak terjebak dalam emosi menghadapi macet serta kesembronoan dari para pengendara. Banyak hal yang dapat dilihat, diamati serta dinikmati ketika sedang macet. Karena jika dalam kondisi lancar, otomatis konsentrasi akan terus terpaku kepada jalan.

Sembari mendengarkan alunan musik yang keluar dari headset, saya menyaksikan beberapa kejadian layaknya sebuah drama di panggung jalanan. Di jembatan penyebrangan, tepat di depan kampus Atma Jaya, kondisinya memang ramai dengan lalu lalang. Sebuah kondisi yang kondusif bagi pengamen jalanan untuk menggelar aksinya.

13678077955603578

Sekelompok pemuda bermodalkan alat musik seadanya, mencoba mencari peruntungan dari kondisi tersebut. Suara gendang yang terbuat dari paralon atau drum dan ditutup dengan karet ban pada salah satu sisinya, dipadukan dengan suara yang dihasilkan oleh bilah-bilah bambu yang dipotong bervariasi ukurannya. Mereka memainkan lagu-lagu daerah dan terkadang mereka campur dengan lagu pop. Sungguh menggairahkan sekaligus menghibur. Dengan memasang wajah yang selalu ceria, mereka memainkan musik seolah tak ada beban hidup yang ditanggungnya. Menebarkan aura positif, aura kegembiraan untuk para pengguna jalan yang sedang bermacet ria.

Lain lagi halnya dengan seorang pria tua penjaja tahu sumedang. Ia berdiri sembari goyang diiringi musik dari pengamen tadi, dengan memasang senyum sumringah ia merasa dengan bergoyang maka terangkatlah lelah seharian bergelut di jalan.

Kalau dipikir ulang, lebih lelah dan letih siapa? Mereka yang berjuang sepanjang hari di jalanan atau kita yang bekerja 8 atau 9 jam sehari. Pendapatan mereka yang tidak pasti setiap bulannya, memaksa mereka berjuang seharian penuh. Masih lebih beruntung para pegawai yang memiliki gaji bulanan, setidaknya pendapatan perbulan sudah dipastikan dalam nominal. Tetapi mereka tegar, tak terlihat kesulitan, selalu ceria. Sungguh sebuah pelajaran berharga.

Lalu, jika sudah tahu resiko tinggal di Jakarta, mengapa kita yang hanya sekedar terjebak macet harus bersungut-sungut? Harus merengut? Harus cembetut?

Nikmatilah! :)

Tags: #macet freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Galah Asin/Gobak Sodor, Permainan Anak-anak …

Bowo Bagus | | 15 September 2014 | 14:47

Punya Masalah Layanan BPJS hingga Keuangan? …

Ilyani Sudardjat | | 15 September 2014 | 11:44

Prostitusi dan Dominasi Turis Arab di …

Sahroha Lumbanraja | | 15 September 2014 | 13:02

Siapa Peduli Kesalahan Prasasti ASEAN di …

Syaripudin Zuhri | | 15 September 2014 | 11:54

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Buat Keju Sendiri Yuk …

Fidiawati | 7 jam lalu

Jokowi dan UU Pilkada Potret Kenegarawanan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Ahok Emang Cerdas Kwadrat …

Ifani | 9 jam lalu

Memahami Cinta, Pernikahan dan Kebahagiaan …

Cahyadi Takariawan | 10 jam lalu

Koalisi Pembodohan …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengapa Saya Memilih “Bike to …

Happy Indriyono | 8 jam lalu

Festival Film Bandung, SCTV, dan Deddy …

Panjaitan Johanes | 8 jam lalu

Masyarakat Ekonomi Asean 2015 …

R_syah | 8 jam lalu

Blusukan = Berunding dan Berdamai …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Ultah Ke-30, Pangeran Harry Merasa Masih …

Darren Wennars | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: