Transportasi

Pius Sumaktoyo

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

programmer komputer, wiraswasta

Angkutan Umum Bebas Macet

OPINI | 19 April 2013 | 06:12 Dibaca: 257   0

Berapa kecepatan rata-rata perjalanan di Jakarta pada jam sibuk? Antara 10-20 km/jam, kalau sedang beruntung bisa 30 km/jam, tapi kalau sedang gila bisa 7 km/jam. Sayangnya, jalanan semakin sering gila.

Opini ini tentang alternatif mengatasi kemacetan Jakarta melalui pengoperasian Jalur (Jalan) Ulang Alik Eksklusif (JJUAE).

Dua link di bawah ini merupakan pelengkap penting dari artikel.

<Slide Penjelasan JJUAE> memberikan ‘visualisasi’ konsep JJUAE.

<Penggabungan JJUAE kedalam 183 km Koridor Busway> Bagaimana dengan biaya sekitar Rp. 250 milyar JJUAE mampu meningkatkan kapasitas koridor busway, dari 350.000 penumpang per hari (keadaan sekarang, 2012) menjadi 850.000 penumpang per hari.

Konsep

JJUAE adalah usaha menyediakan angkutan penumpang umum yang,

  • 99% bebas kemacetan;

  • 100% bebas dari pengaruh pertumbuhan volume kepemilikan kendaraan;

  • menjanjikan kecepatan perjalanan rata-rata 25 s/d 40 km/jam, di dalam kota Jakarta, dengan kendaraan umum;

  • ada kepastian waktu tempuh;

  • mudah disiapkan untuk segera menjangkau semua sudut Jakarta;

  • diharapkan mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Salah satu titik tolak pemikiran JJUAE adalah terbuangnya waktu di setiap persimpangan. Seperti diketahui, persimpangan atau lampu merah selain memaksakan waktu tunggu juga menyebabkan timbulnya antrean yang mengawali kemacetan. JJUAE menyediakan angkutan umum yang ‘bebas’ lampu merah.

Saat ini, pembandingan yang paling tepat untuk JJUAE adalah busway. Sama dengan busway, JJUAE memerlukan adanya separasi dan eksklusifitas jalur.

Lebih jauh, ini adalah beberapa perbedaan antara keduanya:

  1. pilihan jenis kendaraan JJUAE adalah mikrobus dengan kapasitas sekitar 16 penumpang;

  2. trayek jalur tempuh busway memerlukan sekitar 60 s/d 90 menit untuk sekali lintas, JJUAE cukup menempuh trayek pendek sekitar 6 s/d 10 menit per lintas;

  3. frekwensi pemberangkatan busway setiap 10 menit (?), JJUAE bisa berangkat setiap 2 menit atau 1 menit;

  4. ketika busway berderet menunggu lampu hijau, JJUAE menurunkan penumpang di dekat simpang lampu merah kemudian berbalik dan mengangkut penumpang dari arah sebaliknya. JJUAE ‘bebas’ lampu merah.

Mengambil pembandingan tersebut sebagai ilustrasi awal, berikut adalah pengertian lanjut tentang JJUAE.

  • JJUAE membagi jarak tempuh ke dalam segmen-jalan yang sambung menyambung;

  • Suatu segmen adalah jalur jalan yang berada diantara dua* perempatan atau dua* lampu merah (* atau lebih);

  • Trayek kendaraan JJUAE hanya bolak-balik di sepanjang segmen;

  • Kendaraan lintas JJUAE ‘menghindar’ dari keharusan berhenti di lampu merah;

  • Penumpang naik di ujung A dan harus turun di ujung B, atau kebalikannya;

  • Penumpang berjalan kaki (atau naik tangga/ban-berjalan) menyeberangi perempatan, kemudian naik lagi di segmen lanjutan;

  • Eksklusifitas jalur memungkinkan kendaraan JJUAE melaju dengan kecepatan rata-rata 60 km /jam dengan ‘tanpa’ hambatan.

Untuk info lebih lengkap tentang JJUAE silahkan klik pilihan ini, <Slide Penjelasan JJUAE>.

Kelemahan dan Kebaikan JJUAE

JJUAE mempunyai satu kelemahan yaitu keharusan bagi penumpang untuk naik-turun berpindah-pindah kendaraan. Tetapi JJUAE mempunyai banyak kebaikan.

JJUAE mampu melintas cepat dan secara teoritis akan selalu tepat waktu.

JJUAE cukup independen terhadap gangguan, misalnya, ketika lampu lalu-lintas mati JJUAE tetap bisa berfungsi normal, ketika suatu segmen tergenang banjir, segmen-segmen yang lain tetap berfungsi seperti biasa.

Meski menggunakan mikrobus, total kapasitas angkut JJUAE diperhitungkan mampu memenuhi kebutuhan jutaan warga Jakarta, karena kendaraan JJUAE bisa diberangkatkan dalam interval waktu yang sangat pendek, 2 menit, 1 menit, atau pun ½ menit.

Tanpa mengecilkan perlu adanya subway dan monorel, membandingkan dengan subway dan monorel yang memerlukan investasi waktu dan puluhan trilyun rupiah, JJUAE bisa segera diterapkan di sarana jalan yang ada sekarang, memerlukan investasi yang jauh lebih kecil, cukup diawali dengan ratusan milyar rupiah. Hitungan biaya operasional per kilometer juga ‘murah’ di bawah Rp. 150 / km / penumpang.

Sisi kurang menyenangkan dari JJUAE adalah Anda tidak akan pernah diantar sampai ke depan pintu rumah atau sampai di gerbang kantor. Anda akan harus naik turun sejak dari rumah sampai halte yang terdekat dengan kantor Anda.

Namun, kerelaan Anda akan terbayar dengan kecepatan dan kepastian waktu, dan tentu saja badan yang tambah bugar karena rutin olahraga jalan kaki pada waktu berangkat dan pulang kerja.

Aktifitas jalan kaki tersebut pasti akan lebih cepat dan cukup menyenangkan kalau pemerintah (atau operator JJUAE) bisa memfasilitasi lintas-jalan-kaki antar segmen dengan koridor yang sejuk atau ditambah travelator. Kalau berjalan kaki dengan kecepatan 3 km/jam di atas travelator yang berjalan dengan kecepatan 3 km/jam maka kecepatan lintas-jalan-kaki adalah 6 km/jam.

Implementasi

Saat ini kondisi paling siap untuk operasional JJUAE adalah menyatukan JJUAE kedalam koridor busway yang mempunyai total panjang 183 km dan kapasitas 350.000 penumpang per hari (akhir 2012).

Alasan ini melatarbelakangi pemikiran tersebut:

  • Ekslusifitas koridor busway adalah sama dengan eksklusifitas yang diperlukan oleh JJUAE;

  • Ada gap panjang antar kendaraan bus(way), baik gap jarak atau pun gap waktu. Gap ini bisa dimanfaatkan untuk operasional kendaraan JJUAE dengan tanpa mengakibatkan gangguan berarti kepada kelancaran bus(way);

  • Hanya perlu dilakukan penambahan yang berupa halte-halte ‘kecil’ dan area putar balik kendaraan JJUAE;

  • Penambahan fasilitas penyeberangan bisa dilakukan kemudian.

Penulis telah menghitung bahwa:

1.  investasi sekitar Rp. 250 milyar akan mampu meningkatkan layanan koridor busway yang berupa:

    • pemberangkatan kendaraan JJUAE dalam interval setiap 1 menit,

    • peningkatan kapasitas 500.000 penumpang, atau dari 350.000 menjadi 850.000 penumpang per hari.

2.  bila dilakukan investasi sekitar 880 milyar, maka peningkatan kapasitas adalah 2 juta penupang per hari.

Untuk info lebih lengkap tentang contoh implementasi (teoritis) JJUAE silahkan klik pilihan ini <Penggabungan JJUAE kedalam 183 Koridor Busway>

Operasional JJUAE yang di luar koridor busway dilakukan dengan memberikan eksklusifitas kepada jalur khusus JJUAE. Tidak dibahas dalam tulisan ini.

Penutup

Apakah implementasi JJUAE menjadikan Jakarta bebas dari kemacetan?

Ya, dalam arti mereka yang mau beralih ke JJUAE akan terbebas dari kemacetan.

Tidak, dalam arti mereka yang menyukai kenyamanan kendaraan pribadi serta mereka yang enggan berpindah-pindah angkutan akan tetap dalam kemacetan; sampai dengan ada perluasan jalan atau sampai dengan ada perpindahan signifikan dari pengguna kendaraan pribadi ke JJUAE atau angkutan lain yang mengurangi kemacetan.

(pms)

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta