Transportasi

Arinda Putri

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

"一方のみが存在することを真実" (Conan Edogawa)

Bis MGI, Sarana Transportasi Anda

OPINI | 11 April 2013 | 22:24 Dibaca: 698   0

Di Indonesia ada banyak pilihan kendaraan angkutan massal (baca: angkutan umum) yang dapat kita pilih sebagai salah satu sarana untuk menunjang keberlangsungan dan kelancaran aktivitas-aktivitas kita, dan bis adalah salah satunya.

Ketika hari ini mereka, kalangan ekspatriat dan sebagian besar masyarakat golongan menengah ke atas Indonesia tengah begitu ‘hobi’ membeli dan mengoleksi mobil dan motor sebagai tunggangan pribadi, dengan berbagai alasan, berbagai merk, berbagai kualitas, berbagai rentang harga hingga berbagai macam warna, maka sebaliknya, transportasi umum tengah menghadapi dilema luar biasa karena kesemrawutan multidimensi yang tengah menghadangnya. Dari mulai perkara manajemen pengelola, hingga perkara kualitas pelayanan publik dan kelayakan kendaraan. Hebatnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang masyarakatnya terhitung banyak memilih, membeli dan menggunakan mobil maupun motor pribadi sebagai penunjang aktivitas harian serta meningkatkan konsumsi BBM setiap tahunnya hingga membuat pemerintah, terutama menteri ESDM kebingungan mencari solusi untuk mencukupi konsumsi BBM dalam negeri dengan stok yang super terbatas.

Angkutan umum, termasuk bis, bagi kaum ekspatriat dan golongan masyarakat menengah ke atas, seolah-olah sudah tidak memiliki daya tarik sama sekali. Mereka lebih rela dan lebih suka mengkredit mobil-mobil ataupun motor selama bertahun-tahun daripada harus bersusah payah membiasakan diri beraktivitas dengan kendaraan umum, semisal bis, angkot, becak, andong, bajaj, bemo dan kendaraan-kendaraan pengangkut massal yang sejenis. Hal yang tak kalah mengherankan adalah ketika muncul kebijakan dari pemerintah dan pihak Pertamina, sebagai pihak yang mengelola aset negara berupa minyak dan barang tambang, di mana tetapkan bahwa kendaraan yang berplat merah, berstiker khusus dan tergolong kendaraan mewah, maka tidak diperbolehkan melakukan pengisian BBM dalam bentuk premium bersubsidi.

Pemerintah bersama-sama dengan pihak Pertamina menggiatkan kesadaran tersebut, bahkan hingga mengiklankannya. Pertamax yang seharusnya menjadi ‘primadona’ bagi kalangan-kalangan yang dilarang menggunakan premium bersubsidi bagi kendaraannya, ternyata sampai detik ini masih berada ‘di kursi penonton’ saja dan terkesan hanya melengkapi ‘koleksi’ bahan bakar di SPBU. Sayang beribu sayang, akhirnya kebijakan itu hanya menjadi tempelan yang tak berarti banyak disetiap SPBU. Lagi, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah, akan tetapi sejauh mana masing-masing dari diri kita tegas dan disiplin dengan kebijakan tersebut?. Salah satu PR besar bagi bangsa ini untuk menyadarkan masyarakatnya bahwa peraturan ada dan dibuat bukan untuk dilanggar.

Sebetulnya, tulisan kali ini tidak akan terlalu banyak mengupas permasalahan meningkatnya konsumsi terhadap kendaraan pribadi dan BBM. Akan tetapi, di sini saya akan mengajak anda untuk berkenalan dengan salah satu sarana transportasi umum, yaitu bis yang bisa menjadi pilihan bagi anda ketika anda menginginkan kenyamanan. Ada banyak alasan kenapa seseorang enggan mempergunakan sarana transportasi umum. Dari mulai masalah kondisi kendaraan yang kotor, bau, banyak sampah, asap rokok, penuh sesak, kursi yang tidak cukup layak untuk diduduki, biaya yang lebih mahal hingga masalah seringnya kendaraan umum itu ‘ngetem’ alias menunggu penumpang dengan alokasi waktu yang tak jarang begitu sadis membuat para penumpang yang sudah terlebih dahulu duduk menjadi amat sangat terlambat. Belum lagi perkara supir yang ugal-ugalan dan masih ada banyak alasan lainnya yang membuat sebagian masyarakat di negeri ini enggan menggunakan transportasi umum tersebut. Lagi dan lagi, ini PR tambahan bagi bangsa Indonesia. Membenahi sarana transportasi umum agar lebih layak pakai dan menghadirkan kenyamanan yang sesungguhnya.

Mungkin kondisi manajemen dan kinerja sarana transportasi umum di negeri kita yang masih semrawut ini, menjadi salah satu alasan yang kuat, yang menyebabkan golongan ekspatriat dan golongan masyarakat menengah ke atas Indonesia untuk semakin mencintai kendaraan pribadinya. Jika kita ingin mensejajarkan diri dengan negara-negara di Eropa atau Amerika sana bahkan juga dengan negara-negara tetangga di Asia, sepertinya butuh waktu yang tak sebentar untuk bisa mewujudkan kesejajaran transportasi Indonesia  yang ada saat pada masa sekarang. Hmm…tapi kembali saya katakan bahwa inti tulisan ini bukanlah membahas secara mendalam berbagai polemik yang tengah menyerang dunia transportasi Indonesia, seperti saat ini, heboh dengan masalah rencana peniadaan KRL ekonomi.

Sebetulnya, secara pribadi saya bisa mengatakan bahwa saya termasuk masyarakat yang memiliki titik ‘keberatan’ dengan kondisi sarana transportasi umum Indonesia hari ini. Ya alasannya tidak jauh berbeda dengan alasan yang sudah saya ungkapkan di atas. Akan tetapi, sebagai bagian dari masyarakat golongan menengah yang secara ekonomi tidak turun ke bawah dan belum juga naik ke atas (baca: pas-pasan), sehingga pada akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus belajar ‘bertoleransi’ dengan sarana transportasi umum yang ada. Nah bagi anda, masyarakat Jawa Barat, terutama yang tinggal di kawasan Sukabumi, Cianjur dan Bogor tentu mengenal bis yang akan saya ceritakan ini, MGI, itu nama bisnya.

Bis berwarna mencolok, biru tua dengan garis kotak-kotak berwarna putih dan setiap plang rute kota yang dilalui bis tersebut dicetak dengan theme fonts Comic Sans MS, tapi entah ukuran font-nya berapa yang pasti terlihat besar dan jelas. Jujur, saya baru mengenal bis ini semenjak saya duduk di bangku kuliah. Sebelum itu, saya tidak tahu ada bis seperti MGI. Ya semenjak kuliah, mau tidak mau saya yang berkantong pas-pasan, tidak memiliki fasilitas motor terlebih mobil pribadi dan tidak memiliki izin untuk membuat SIM, tentu pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada sarana transportasi umum, ya bis itu salah satunya.

Sejauh ini, selama saya menjadi penikmat sarana transportasi umum, terutama bis, saya katakan bahwa MGI adalah salah satu bahkan dalam banyak kondisi menjadi satu-satunya bis yang terasa begitu nyaman bagi saya pribadi. Semua bis MGI (yang saya tahu) adalah bis AC. Awak bis MGI dengan rute kota manapun selalu terlihat rapi, berseragam khas ala MGI, yaitu kemeja dengan dasar warna putih, motif bertuliskan MGI berwarna biru dan celana kain dengan warna yang senada (untuk supir dan kondektur), sedangkan untuk pengurusnya juga berseragam khas, kemeja full biru tua dengan tulisan di belakang kemeja itu “Pengurus MGI Sarana Transportasi Anda” dan bercelana kain berwarna hitam. Saking sukanya dengan bis yang satu ini, saya sampai sering kali memperhatikan konstum seluruh awak MGI.

Selama saya menjadi pengguna setia bis ini, bis MGI selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi para penggunanya. Dari mulai memberikan minuman gratis (berupa air kemasan gelas terkadang juga teh dalam gelas), tidak mengetem di tengah jalan, selalu berusaha tepat waktu, melakukan pemeriksaan di pos MGI yang ada di kota-kota yang menjadi rute bis tersebut, hampir tidak pernah menaikkan penumpang hingga penuh sesak (penumpang selalu diusahakan untuk duduk, sesuai jumlah kursi yang tersedia), sampai tidak mengizinkan pengamen dan pedagang asongan masuk ke dalam bis ketika bis stand by di terminal maupun dalam perjalanan, terkecuali dalam kondisi-kondisi tertentu.

Meskipun pelayanan yang diberikan terlihat standar, tapi ketika pelayanan itu diberikan dengan berkesinambungan dan konsisten, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengguna sarana transportasi umum, terutama bagi para pengguna bis, seperti saya. Awak MGI mayoritas bersikap ramah dan santun kepada penumpang, bahkan di dalam setiap bis selalu ada sticker yang terpampang dengan jelas yang di dalamnya memuat daftar ongkos, layanan pengaduan, dan apa-apa yang menjadi hak konsumen (baca: penumpang), yaitu salam dan senyum. Jika ada keluhan atau kita tidak mendapatkan hak kita, dengan mudah kita bisa menyampaikan keluhan itu kepada nomor layanan pengaduan yang tertera dalam bis, baik via sms maupun via telepon dengan menyertakan nomor body bis, jam keberangkatan dan isi keluhan yang ingin kita sampaikan. Kondisi kendaraan yang baik, selalu terlihat bersih dan rapi dengan kursi yang nyaman, ketersediaan televisi juga musik sudah lebih dari cukup membuat saya yang berkantong pas-pasan merasa begitu nyaman dengan bis yang satu ini. Apalagi ongkos yang ditetapkan oleh manajemen bis MGI (menurut saya) begitu terjangkau dengan memperhitungkan segudang pelayanan yang diberikan untuk kita, para penumpang.

Bis MGI yang biasa saya gunakan adalah bis dengan rute Bandung-Sukabumi. Kota kecil di mana saya tinggal dilewati oleh rute tersebut, tepatnya Cianjur. Ongkos tertinggi untuk bis MGI rute ini sebesar Rp.21.000, itu adalah ongkos untuk rute Bandung-Sukabumi dan sebaliknya, sedangkan saya yang merupakan warga Cianjur cukup membayar ongkos sebesar Rp.15.000 dengan pelayanan yang sama, sebagaimana yang sudah saya paparkan di atas. Jika anda termasuk pengguna setia MGI, tentu tidak akan heran ketika melihat banyak calon penumpang di terminal yang rela menunggu, bahkan terkadang hingga lebih dari 30 menit untuk bisa pulang maupun berangkat dengan menggunakan bis MGI. Termasuk juga dengan saya, jika ada jadwal bimbingan skripsi ke kampus di Bandung, saya rela menunggu dengan setia di pinggir jalan kedatangan bis MGI, sampai saya hafal betul jam keberangkatan MGI pada pagi hari. MGI selalu menjadi prioritas bis yang saya pilih untuk berpergian ke Bandung sana.

Kenapa saya men-share-kan hal ini?, ini bukanlah sebagai upaya promosi untuk mengajak anda menjadi pengguna MGI seperti saya, akan tetapi saya ingin berbagi kepada anda, para pengguna sarana transportasi umum dan para pengguna sarana transportasi pribadi, bahwa tidak semua kendaraan angkutan massal itu seburuk yang ada dalam pikiran kita selama ini. Jika kita mau mencoba mengenal dan membiasakan diri menjadi pengguna setia kendaraan angkutan massal, perlahan-lahan, kita bisa menemukan kendaraan angkutan massal yang nyaman dan sesuai dengan budget yang kita miliki, seperti bis MGI salah satunya.

Sebagai salah satu sarana transportasi umum, bis MGI pun tentu tidak sepenuhnya dapat menjamin kenyamanan anda seratus persen. Tentu ada kondisi-kondisi yang mengurangi bahkan sama sekali membuat kenyamanan anda (mungkin) terganggu. Akan tetapi jika dibandingkan dengan banyaknya bis (terutama bis AC) dengan rute yang sama (rute yang biasa saya tempuh), sejauh ini, bis MGI adalah satu-satunya bis yang bisa meminimalisasi ketidak nyamanan penumpangnya. Perlu bukti? silahkan anda menyempatkan diri untuk mencoba berpergian dengan bis yang satu ini. Sekalipun perkara kenyamanan dan ketidak nyamanan adalah subjektifitas individu, akan tetapi untuk kesekian kalinya, saya katakan, bis MGI dapat menjadi salah satu pilihan tepat bagi anda untuk menjawab subjektifitas tersebut.

Selama ini, selama saya menjadi pengguna setia MGI, setiap kali saya akan pulang dari kampus ataupun berangkat ke kampus, saya selalu melihat banyak orang duduk dan berdiri dengan manis menunggu MGI. Jika kita datang ke salah satu terminal besar yang ada di Kota Bandung, di mana terminal itu menjadi tujuan akhir dari bis MGI rute Bandung-Sukabumi, anda akan melihat banyak calon penumpang yang lebih memilih untuk duduk dan menunggu ketimbang memaksakan naik bis AC lainnya yang sejenis dengan MGI. Di terminal ada banyak pilihan bis AC, akan tetapi sayang, pelayanan yang diberikan bis AC lainnya dengan rute yang sama belum sebaik dan belum sekonsisten MGI. Beberapa kali (bahkan sering) saya mencoba satu per satu bis AC lainnya yang serute dengan bis MGI yang biasa saya naiki, ada nuansa yang berbeda. Sekalipun itu terdengar subjektif, tapi lagi-lagi saya sarankan anda untuk mencoba dan membuktikannya sendiri.

Dalam pandangan saya, bis seperti MGI ini bisa menjadi salah satu alternatif sarana transportasi umum yang bisa menjawab berbagai keluhan sebagian besar masyarakat terhadap kendaraan angkutan massal, bahkan bis seperti MGI , dalam hemat saya bisa menjadi solusi yang ditawarkan bagi mereka, kalangan ekspatriat dan golongan masyarakat menengah ke atas untuk mulai mencoba dan membiasakan diri menjadi pengguna saran transportasi umum. Jika kembali masalahnya adalah kenyamanan, perlu anda ingat bahwa kenyamanan itu tidak hanya diciptakan oleh pihak pengelola sarana transportasi umum itu saja, akan tetapi perkara nyaman atau tidak, itu pun bergantung kepada diri anda bagaimana anda menciptakan dan membawa pribadi anda dalam kenyamanan tersebut.

Seperti juga motto MGI, saya nyatakan ulang, “MGI sarana transportasi anda”. Selamat mencoba ber-MGI, selamat mencoba mencintai sarana transportasi umum dan selamat memberi kesempatan kepada Indonesia untuk meminimalisasi tingkat konsumsi BBM dan mengurangi dominasi kendaraan pribadi di jalanan. Jika tidak dimulai dari anda, lalu siapa yang akan membesarkan transportasi umum Indonesia?.

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta