Back to Kompasiana
Artikel

Transportasi

Jhonny Sitorus

Seorang biasa yang ingin berbagi hidup dengan orang lain malalui tulisan-tulisan.

Lilin-lilin Kecil Stasiun Manggarai

REP | 18 January 2013 | 12:23 Dibaca: 314   Komentar: 0   0

13584846521188295853

Petugas loket Stasiun Manggarai menggunakan lilin untuk melayani calon penumpang (foto: jhonny sitorus)

Pagi tadi, saya menumpang kereta dari Bekasi menuju Jakarta. Awan mendung di langit Jakarta, menyambut para penumpang yang berwajah muram. Sebagian besar menggerutu, karena kereta tak bisa melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kota yang terganggu oleh banjir.

Stasiun Manggarai menyambut kami. Tak ada penjelasan resmi dari petugas Stasiun Manggarai, bagaimana nasib kami selanjutnya. Tanpa dikomando, para penumpang yang masih harus melanjutkan perjalanan, mulai kebingungan mencari transportasi alternatif karena tak hafal rute angkutan. Sejumlah ojek sepeda motor mulai berseliweran di depan pintu stasiun. Rata-rata mereka beralas kaki sandal jepit dengan celana digulung. Sepertinya, trend celana gulung ala Pak Beye, sedang menjangkit para tukang ojek di sini.

Alamak, tukang ojek di sini tiba-tiba mematok tarif tinggi, sekitar 2 kali lipat dari yang biasa. Dari Stasiun Manggarai ke kawasan Gondangdia, langsung dipatok harga Rp 30 ribu. Meski masih bisa ditawar, tapi pengojek ini bertahan di harga tinggi, karena ada ruas jalan menuju tempat tujuan yang tergenang.

Sebagian penumpang tampak berjalan kaki menuju akses terdekat tempat aktivitas mereka. Bahkan, ada beberapa wanita yang nekat menuruni dua tangga curam, yang lokasinya ada di dekat dengan Pasaraya Manggarai dan di dekat Pintu Air Manggarai. Di ujung tangga bawah tersebut, sudah berjejer pengojek yang menunggu di pinggir jalan. Arus lalu lintas menjadi lebih tersendat karena keberadaan mereka.

Saya memutuskan balik-kanan, karena mengetahui daerah menuju kantor saya, tergenang. Setelah lapor Boss, saya bergegas menuju loket untuk membeli tiket. Saya baru sadar, aliran listrik PLN di Stasiun Manggarai, padam sejak kemarin sewaktu Jakarta berstatus Siaga 1 bencana banjir. Beberapa petugas loket melayani calon penumpang dengan dibantu penerangan lilin.

Dari empat loket, hanya dua yang beroperasi menggunakan lilin. Sebenarnya, suasana loket cukup terang, namun tampaknya petugas loket butuh penerangan tambahan, agar tak keliru menerima atau mengembalikan uang penumpang saat bertransaksi. Antrian memang tak panjang, tapi beberapa calon penumpang nasibnya sama dengan saya, yakni batal bekerja dan balik pulang ke rumah.

Situasi di Stasiun Manggarai sebenarnya tampak normal. Tak ada genangan air di jalur rel, walaupun lantai peron terlihat becek dan licin. Sejumlah petugas informasi peron, menyampaikan pengumuman ke penumpang tentang kereta yang tiba atau baru mau berangkat. Ternyata, ruang kendali di sini menggunakan genset, untuk mengganti sumber aliran listrik yang padam.

Semoga, seluruh rute commuter lines Jabodetabek bisa segera beroperasi dengan norma. Mudah-mudahan aliran listrik di Stasiun Manggarai juga bisa segera menyala. Sesungguhnya, para penumpang KRL adalah ‘lilin-lilin kecil’ dalam bagian sarana transportasi publik ini, yang nyala apinya harus dijaga pemerintah untuk menerangi negeri ini.

1358485119210812494

Sebagian penumpang yang turun di Stasiun Manggarai kebingungan, karena tak menemukan mikrolet dan metromini yang biasa mangkal di kawasan ini. Sarana transportasi yang berjaya di sini adalah ojek motor. (foto: jhonny sitorus)

13584853102063816292

Penumpang

13584859621356996755

Penumpang menuruni tangga di ujung Stasiun Manggarai yang dekat ke arah Pasaraya Manggarai. Lokasi ini adalah salah satu sumber kemacetan, karena sopir ojek dan bajai kerap ngetem di sini (foto: jhonny sitorus)

1358486289623200667

Seorang wanita menggendong bayinya naik ke gerbong KRL model baru, yang tak dilengkapi tangga tambahan di peron Stasiun Manggarai (foto: jhonny sitorus)

13584864951097468593

Seorang petugas Stasiun membersihkan lantai peron yang basah dan licin. (foto: jhonny sitorus)

@jhonnysitorus

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 7 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 19 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 20 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: