Transportasi

Dhanitrilogy

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Catatan ini hanya ilusi, jembatan mengabdi pada diri, bukan elegi namun sebuah persepsi jati diri, untuk apresiasi sebuah kisah dalam jemari

Surat Opini Untuk Pak Jokowi dan Jakarta

OPINI | 16 January 2013 | 11:40 Dibaca: 312   1

Salam Sejahtera pak jokowi, tanpa mengurangi rasa hormat saya menulis ini,karena bapak adalah sekarang salah satu orang nomer 1 di Indonesia yang saya kagumi dengan jurus jitu blusukan bapak,bukan itu saja kenyataan dengan bapak sudah melaksanakan tanggung jawab dengan terjun langsung ke lapangan membuat saya terpesona dan antusias sekali mengikuti pergerakan bapak lewat berbagai macam media baik elektronik maupun media cetak.

Sisi tau bapak belum lama menjabat di kota antah berantah ibukota Jakarta ini,hanya segudang harapan tertunda dalam benak untuk sekedar disimpan kemudian dicurahkan kedalam beberapa lembar coretan sekedar mengenang jika kita perduli pada kelangsungan untuk Jakarta lebih baik lewat kebijakan dan tangan terbuka bapak.

6 Ruas Tol Dalam Kota Jakarta

Isi surat public ini tidaklah penting,hanya harap dari segala arah dengan asa yang sudah pudar bermimpi agar bapak tidak memuluskan proyek 6 ruas tol Jakarta dalam kota,jangan menghancurkan reputasi bapak sendiri yang selama ini sudah kami kagumi,itu bukan solusi biang kemacetan di Jakarta bapakku, sudah banyak tulisan dari kawan pemerhati Jakarta dan media lain kalo itu bukan solusi,pikirlah pak, saya tau kalo bapak menunggu restu dari masyarakat perihal 6 ruas tol ini,tapi saya yakin kalo masyarakat menyatakan Tidak untuk pembangunan 6 ruas jalan tol dalam kota ini.

Pikirkanlah dampaknya pak,salah satunya adalah pencemaran lingkungan yang akan sangat berdampak sekali bagi warga ibukota Jakarta,jadi mohon dengan sangat untuk bapak tidak melanjutkan proyek pembangunan 6 ruas tol dalam kota Jakarta.

Biang Kemacetan

Berdasarkan data Yayasan Pelangi, kemacetan lalu lintas berkepanjangan di Jakarta menyebabkan pemborosan senilai Rp 8,3 triliun per tahun. Data yang sama diungkapkan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bambang Susantono, mengacu pada kajian Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek (SITRAMP 2004). Perhitungan itu mencakup tiga aspek sebagai konsekuensi kemacetan, yakni pemborosan BBM akibat biaya operasional kendaraan senilai Rp 3 triliun, kerugian akibat waktu yang terbuang Rp 2,5 tri- liun, dan dampak kesehatan akibat polusi udara sebesar Rp 2,8 triliun.

Sudah cukup ini masalah yang sangat pelik kan pak,dan ini sudah mengakar bahkan menjadi adat perbincangan sehari hari,gembel macam saya hanya berfikir dan membayangkan solusi sederhana dan bisa dilaksanakan dalam waktu dekat untuk tindakan pak jokowi ke depan,

Gambar macet

13583116111654883492

Ilustrasi Opini Macet

Itu adalah logika gembel macam saya 2 point utama penyebab kemcetan di Jakarta,masih banyak masalah lain, dan sekarang berbicara solusi ini versi gembel macam saya, kenapa pak jokowi tidak memfokuskan titik pada sarana transportasi umum, ramah, nyaman dan tentunya bisa dipastikkan aman dalam jangka waktu dekat ini, kita ambil studi seperti Kopaja misalnya,sudah ada kopaja AC walau belum merata distribusi dan trayeknya.ini sebetulnya solusi jika bisa memperbanyak trayek dan pemerintah menyediakan saran seperti ini.

Gambar bus

1358311633965276892

Ilustrasi Solusi Keinginan Pribadi

Saya akui semua tidak mudah membalikkan telapak tangan,butuh proses dan evaluasi terhadap pemecahan kasus-kasus dijakarta ini

Dan saya membayangkan jika di Jakarta mempunyai sarana transportasi umum yang ramah lingkungan,nyaman dan aman saya yakin 85 % pengguna mobil pribadi di Jakarta akan lebih memilih angkutan umum public ini untuk melakukan aktifitas sehari-harinya. Dan itu bisa mengurangi angka kemacetan di Jakarta, itu hanya jangka pendek, jangka panjang adalah seperti monorel dan sebagainya, yang saya tidak tau apa itu benar bisa mengatasi kemacetan,semuanya mempunyai sisi posotif dan negative dalam pemecahanya,hanya saya berfikir solusi jitu sementara untuk mengatasi kemacetan adalah Ibukota Jakarta mempunyai sarana transportasi umum segala penjuru yang tidak diragukan akan kenyamanan, dan tentunya Keamanannya.

Sekali lagi tidak mudah membalikkan telapak tangan, tapi saya yakin masyarakat akan sadar jika Jakarta mempunyai sarana tranposrtasi aman, mereka akan secara naluri beralih dari mobil pribadi akan menggunakan sarana umum ini.

Kemudian Banjir

Ini hanya opini, keadaan yang mungkin sedikit bisa menggugah nurani akan keadaan ibukota Jakarta, dan saya yakin beberapa pihak jika di minta pak gubernur mereka akan dengan segera melaksanakan,

Ilustrasi Bantaran Sungai

1. Pemerintah DKI bekerja sama dengan dinas terkait

dalam hal ini pihak PU dan semuanya tanpa terkecuali

bergerak serentak untuk membersihkan bantaran sungai

sungai besar di jakarta dari sampah kemudian di

distribusikan ke bantar gebang (sampah trsebut)

Pihak terkait dimaksud : TNI - Basaranas - Warga -

Mahasiswa Pecinta Alam Dan Komunitas Lingkungan lain

2. Waktu 1 minggu mulai pengambilan sampah serempak

di beberapa penjuru sudut sungai besar di jakarta,

3. Waktu 1 minggu berikutnya masih bergerak serempak pula

bekerja sama dengan perusahaan alat berat untuk

mengeruk sungai agar bisa kembali di maksimalkan

kedalaman sungai menampung debit kiriman air

Ilustrasi Pendistribusian sampah ke bantar gebang

1. Tidak juga dalam pendistribusan sampah, team juga

kembali bisa meng’optimalkan tempat-tempat

pembuangan sampah agar bisa di kondisikan kembali,

jika ada yang rusak atau tidak ada bak sampah

di bantaran sungai, setidaknya itu bisa membuat

masyarakat berfikir dua kali untuk membuang sampah

di kali yang sudah di bersihkan

Ilustrasi Pembersihan gorong-gorong/drainase (Sumber foto drainase bulekbasandiang)

1. Team juga bergerak dalam 1 minggu berikutnya untuk membuka

kemudian membersihkan semua sudut gorong-gorong di jalan-jalan

ibukota, setidaknya ini awal dari pembenahan dan lanjutan

program kerja dari pembersihan bantaran sungai

Gambar banjir

1358311676246667959

Ilustrasi Wacana

Sekali lagi tidak mudah membalikkan telapak tangan, tapi ketahuilah jika hanya jokowi yang bergerak, saya tidak jamin dia bisa melakukan sendiri ujungnya kita bakal kecewa lagi alih alih jokowi tidak maxsimal dalihnya, permasalahan bantaran sungai,dari pemukiman dan sampah ditambah drainese yang buruk menjadi penyebab utama banjir di ibukota,kita tidak bisa menyudutkan pihak pihak tertentu saja, ini bak simbiosis mutualisme,dan ini akan terus mengakar, tapi jauh dari lubuk hati saya berfikir jika kemudian ajang gotong royong dilaksanakan secara serempak,itu sangat amat efisien untuk membuat masyarakat berfikir tiga empat kali melihat sungai yang sudah dibersihkan.

Entahlah sekali lagi tidak mudah membalikkan telapak tangan,bukan saya pesimis tapi mari kita bersama-sama membantu jokowi.

Masih ingat tulisan saya untuk Jakarta yang lalu, masih dengan berhubungan orang nomer satu di Indonesia, almarhum Ir Soekarno beliau mengatakan seperti ini

Kekeluargaan adalah suatu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota terhormat

Soekardjo Satu Karyo Satu Gawe (Bung Karno)

Silahkan mendefinisikan sendiri,apalah arti jokowi bergerak sendiri tanpa kita ikut membantu toh itu demi keberlangsungan dan kemasyalahatan bersama,

Dan Sekali lagi Gotong royong mengambarkan satu usaha,

Salam Indonesia Satu

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta