Transportasi

Saherman

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Tinggal di Bogor. Penggiat HAM di Jakarta.

Melatih Kepedulian Anak untuk Mengurangi Kemacetan

HL | 28 August 2012 | 00:11 Dibaca: 454   0

1346089970576112128

Ilustrasi/ Admin (shutterstock)

Di tempat tinggal saya di sebelah Timur daerah Cibubur, Jakarta Timur, terdapat banyak sekali sekolah. Setidaknya ada sekolah Islam Al-Jannah di dekat perumahan Mahogani, Global Mandiri di perumahan Legenda Wisata, Sekolah Pilar Indonesia di daerah Ciangsana, Sekolah Alam Cikeas yang berdekatan dengan rumah orang nomor satu di Indonesia, Sekolah Islam Terpadu Fajar Hidayah di perumahan Kota Wisata, Sekolah Bunda Hati Kudus, Sekolah Al-Azhar Syifa Budi di daerah Nagrak dan banyak lagi. Siswa sekolah-sekolah ini bahkan rata-rata jumlahnya di atas seribu anak.

Daerah Ciluengsi dan sekitarnya yang sudah masuk dalam wilayah kabupaten Bogor merupakan kawasan perumahan para pekerja yang ada di Jakarta. Di hari kerja dan hari-hari sekolah, jalan alternatif Cibubur - Cileungsi yang merupakan lalu lintas begitu padat beberapa tahun terakhir. Mereka para komuter menuju Jakarta berebut jalan dengan anak-anak sekolahan sejak subuh hingga sekitar pukul sepuluh pagi. Kendaraan umum, berupa bis, minibis, angkot berdesakan dengan pengendara pribadi pengguna sepeda motor hingga mobil mewah seukuran Mitsubishi Pajero dan Toyota Fortuner. Mereka bergerak pagi selepas subuh untuk menghindari kemacetan terutama menjelang jam masuk sekolah sekitar pukul tujuh hingga pukul delapan pagi. Di jam padat itu, jalan alternatif Cibubur - Cileungsi sudah seperti neraka bagi mereka yang memburu waktu untuk bisa tiba di tempat tujuan dengan segera.

Sekolah-sekolah yang ada di kawasan ini menyediakan mobil angkutan bagi para siswanya. Namun seperti tak ingin disebut anak orang kebanyakan, para orang tua seolah tak peduli pada kemacetan yang mereka timbulkan karena mengangkut anak-anak mereka berangkat dan pulang sekolah dengan kendaraan pribadi yang isinya cuma seorang anak dengan sopirnya atau, tak sedikit, dengan ibu anak-anak tersebut. Suatu pagi beberapa bulan lalu, saya mengendarai sepeda motor dengan anak dan istri dari desa Ciangsana menuju Cibubur. Seorang ibu yang baru mengantar anaknya ke sekolah  Al-Azhar Syifa Budi terlihat menggerutu, seolah memaki kepada para pengendara yang memadati jalan di depan sekolah anaknya tersebut. Mobil yang dikendarinya tak dapat bergerak keluar meninggalkan sekolah itu. Seorang diri mengendarai mobil Mitsubishi Pajero, ibu itu seolah mengutuk kemacetan yang sesungguhnya ia pula yang menjadi salah satu penyebabnya.

Pada tahun 2009 lalu, Dick Doang, aktivis lingkungan dan pengembang sekolah alam Kandang Jurank Doang pernah berujar di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Alam Natur Islam Bekasi. Dick Doang membiasakan mendidik anak-anaknya untuk berangkat sekolah menumpang kendaraan umum atau naik ojek jika mereka berangkat sendiri-sendiri. Jika berangkat dari rumah beberapa orang sekaligus maka barulah mobil keluarga mereka akan keluar dari rumah. Pertimbangannya, semua orang di dalam keluarga harus menyadari mengendari kendaraan umum jauh lebih peduli pada lingkungan sekitar, tidak menyebabkan kemacetan dan menambah tinggi polusi udara serta polusi suara di Jakarta dan sekitarnya. Sejak kecil anak-anak sudah dilatih untuk peduli pada orang lain. Ada berapa banyak orang tua yang melakukan hal semacam ini di Jakarta?

Saya perhatikan, anak-anak di sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggal saya adalah anak-anak orang mampu. Mereka tinggal di perumahan yang cukup elit seperti kawasan Raffless Hills, Bukit Golf, Kota Wisata, Legenda Wisata, Mahogany dan sekitarnya. Orang tua mereka adalah orang-orang berpendidikan. Bukan mustahil kalau mereka adalah bagian dari pemuda-pemuda Indonesia yang pernah bersekolah dan tinggal di negara-negara maju di bumi Eropa, Australia atau Amerika. Mereka pernah mengecap bagaimana kenikmatan tertib sosial di negara modern. Kendaraan umum menjadi pilihan bersama untuk mobilitas sehari-hari di sana. Kereta bawah tanah, trem, bis, kereta monorail, merupakan kedaraan utama. Bahkan di Singapura sekalipun, untuk membatasi kemacetan dan polusi di negeri Singa ini, izin memiliki kendaraan pribadi sama nilainya dengan harga rumah di Amerika. [1] Kembali ke Jakarta bukannya ikut memajukan dan mendorong penggunaan moda transportasi yang sama, malah mereka pula ikut meramaikan jalanan dengan kendaraan roda empat dengan alasan tak ada pilihan lain untuk kenyamanan diri sendiri dan keluarga di jalan raya. Tak peduli pada masalah yang menjadi keluhan sebagian besar orang-orang yang hidup di Jakarta dan daerah-daerah di sekelilingnya.

Rasanya teramat menyedihkan mengetahui cara pandang para kelas menengah di sini dalam melihat masalah kemacetan sehari-hari. Mengutuk kemacetan dan buruknya manajemen pemerintah dalam urusan transportasi, sembari terus menambah banyak kendaraan yang memadati jalanan. Bahkan kendaraan semacam truk pengangkut barang yang mungkin adalah kebutuhan pokok masyarakat justru yang disalahkan, bahkan dilarang melewati jalanan di siang hari. Di akhir 2011 lalu, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Riza Hashim, di jalan-jalan Jakarta terdapat pertambahan sekitar 216 mobil setiap harinya. Tentu saja mobil-mobil juga banyak yang bergerak dari daerah-daerah sekitar Jakarta. [2]

Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, menyebutkan jumlah kendaraan di Jakarta pada tahun 2007 sebanyak 5,8 juta unit dengan rincian 2,2 juta mobil dan 3,6 juta motor. Pada tahun 2008, jumlah kendaraan kembali meningkat menjadi 6,3 juta unit dengan rincian 2,3 juta mobil dan 4 juta motor.

Di tahun 2009, jumlah tersebut menanjak menjadi 6,7 juta unit dengan rincian 2,4 juta mobil dan 4,3 juta motor. Setahun kemudian, jumlah kendaraan menembus angka 7,29 juta unit dengan rincian 2,56 juta mobil dan 4,73 juta motor.

“Tahun ini meningkat lagi jadi 7,34 juta unit, kendaraan roda empat sebesar 2,5 juta unit dan kendaraan roda dua hampir 5 juta unit,” katanya.

Sekitar bulan September 2011 lalu, jalan tol Jagorawi selesai mengalami pelebaran untuk memecah kemacetan dari arah Bogor menuju kota Jakarta. [3] Di bulan-bulan pertama usai pelebaran, jalan tol ini terasa agak lapang untuk kendaraan yang lalu lalang. Sekarang, hampir setahun setelahnya, jalan tol ini kembali mengalami kepadatan luar biasa yang mengundang kutukan-kutukan para penggunanya. Tengoklah ke arah kendaraan-kendaraan pribadi yang sedang melaju, kebanyakan isinya hanya satu orang, atau paling banter seorang pemilik mobil dan seorang sopirnya. Sebuah insiden kemacetan terjadi pada sekitar tiga tahun lalu. Seorang pengendara mobil sedan pribadi mengacungkan pistol dan mengancam sopir minibis yang saya tumpangi dari arah Ciluengsi ke Cawang. Pada kejadian di jalan tol Jagorawi, di sekitar Taman Mini Indonesia Indah itu, sopir minibis dipaksa memberi jalan kepada mobil sedan tersebut. Si pengendara sedan bersuara lantang menyebut dirinya seorang “Anggota”. Tak jelas apakah ia anggota POLRI atau TNI, namun pistol yang ia acungkan tak hanya menakuti sopir minibis tetapi juga kami para penumpangnya.

Kembali ke soal anak sekolahan tadi. Mengantarkan anak-anak menuju sekolah dengan kendaraan pribadi, apalagi hanya seorang anak dengan seorang yang mengendarai mobil pribadinya, tentu bukanlah pendidikan bagus buat anak-anak itu sendiri. Sejak kecil mestinya mereka mendapatkan pendidikan kepedulian pada sesama dengan kesadaran bahwa kendaraan pribadi mereka ikut berkontribusi pada kemacetan sehari-hari. Bis antar-jemput sekolah bukan semata ‘proyek’ pemilik sekolah untuk mengeruk keuntungan dari pengumpulan ongkos siswa secara bulanan. Ia juga merupakan pendidikan tentang sosialisasi anak dengan teman-temannya sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah dan dari sekolah pulang menuju rumah. Ia juga mengajarkan bahwa jalan raya juga merupakan milik bersama, bukan semata kepunyaan pemilik kendaraan pribadi yang merasa membayar pajak kendaraan lebih tinggi sehingga berhak menguasai.

Jika sejak kecil anak sudah mendapatkan pengetahuan tentang kemacetan dan penyebabnya, mendapatkan pendidikan budi pekerti sejak dini tentang rasa peduli, mungkin mereka akan jauh lebih berempati pada orang lain dibandingkan dengan generasi orang tua mereka saat ini. Jika hal demikian yang terjadi, maka siapapun yang mencalonkan diri menjadi Gubernur Jakarta tak usah bersusah payah mengampanyekan diri sebagai problem solver salah satu masalah yang paling mengganggu kenyamanan hidup di Ibu Kota negara ini. Sekarang, tinggal kita sebagai orang tua menunjukkan sejauh mana kepedulian itu, dan sampai mana pendidikan budi pekerti itu kita berikan pada anak-anak kita.

Catatan akhir:
[1] Informasi tersebut dapat dibaca di sini.
[2] Silahkan baca beritanya di sini.
[3] Baca beritanya di situ ini.

*Foto ilustrasi diambil dari website ini.

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta