Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Shokib _unitri

satu langkah lebih cepat untuk menggapai impian di iringi usaha & Do,a

Gebyar Budaya Masyarakat Desa Wonosari (Gunung Kawi)

REP | 20 November 2013 | 11:25 Dibaca: 279   Komentar: 0   0

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pesarean Gunung Kawi merupakan salah satu tempat ataupun obyek Wisata ritual, yang menyangkut berbagai unsur kebudayaan, yang di dalamnya terdapat banyak budaya yang di bawa pengunjung yang berasal dari berbagai daerah, dengan latar belakang budaya yang berbeda. Kemudian di situ terjadi komunikasi antar budaya, sehingga melahirkan suatu interaksi untuk kemudian memunculkan proses perpaduan antar budaya yang satu dengan yang lain yaitu adanya perpaduan arsitektur yang ada di sekitar lokasi peziarahan.
Sebelum pesarean Gunung Kawi berkembang menjadi suatu tempat Wisata ritual, di ketahui Pesarean Gunung Kawi merupakan makam kedua tokoh Agama Islam dari Keraton Mataram abad ke­19. Karena sifat patriotik yang dimiliki kedua tokoh Agama tersebut sehingga banyak mendatangkan kunjungan yang sifatnya peziarahan. Berangkat dari banyaknya kunjungan peziarahan, yang sehingganya memunculkan persepsi­persepsi tentang Pesarean Gunung Kawi saat ini.
Sementara itu persepsi negatif adanya pesugihan, dikarenakan munculnya isu­isu yang berkembang dalam masyarakat persepsi seperti ini lebih banyak dinyatakan oleh pengunjung yang baru pertama kepesarean Gunung Kawi. timbul satu pemikiran dari penulis untuk bergerak untuk melakukan penelitian ke desa tersebut, dengan maksud mengetahui lebih dalam tentang budaya masyarakat gunung kawi secara umum.
Tempat utuk melakukan penelitian berada di Desa Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Tipe penelitian yang di pakai adalah penelitian deskripsi dengan jenis data kualitaif dimana sifatnya alamiah, penelitian deskripsi dimaksudkan untuk klarifikasi mengenai satu fenomena atau kenyataan sosial, Teknik pengumpulan data yang di pakai adalah wawancara atau interviuw.

1.2. Rumusan Masalah
a) Bagaimanakah budayanya masyarakat gunung kawi secara umum?
b) Apakah tipe masyarakat gunung kawi termasuk masyarakat kota atau masyarakat desa?
c) Apa dampak modernisasi pada masyarakat gunung kawi?

1.3. Batasan Masalah
Di dalam karya tulis ini, penulis batasi dalam pembahasan terkait dengan budaya masyarkat gunung kawi secara keseluruhan, akan tetapi pembahasan hanya di ambil garis besarnya agar lebih sistematis dan fokus.

1.4. Tujuan Masalah
a) Untuk mengetahui budaya masyarakat gunung kawi secara umum.
b) Untuk mengetahui tipe masyarakat gunung kawi termasuk masyarakat kota atau masyarakat desa.
c) Mengidentifikasi dampak modernisasi pada masyarakat gunung kawi.

1.5. Manfaat Penelitian
a) Memberikan informasi kepada pembaca tentang budaya yang ada di gunug kawi.
b) Agar masyarakat dapat memahami betapa pentingnya menjaga budayanya masing-masing.
c) Agar pembaca dapat mengetahui lebih banyak tentang keunikan budaya masyarakat yang ada di gnung kawi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Defiisi Desa Menurut Para Ahli
a) Menurut Sutardjo Kartohardikusumo
Desa adalah satu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.

b) Menurut Prof. Drs Bintarto
Desa adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di suatu daerah serta memiliki hubungan timbal balik dengan daerah lain.

2.2. Definisi Masyarakat Menurut Para Ahli
a) Menurut Karl Marx
masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
b) Menurut Paul B. Horton & C. Hunt
masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.

2.3. Definisi Budaya Menurut Para Ahli
a) Koentjaraningrat
Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya dalam rangka kehidupan masyarakat, yang di jadikan milik dari manusia dengan belajar.
b) E.B Taylor
Budaya adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang di dapat oleh mausia sebagai anggota masyarakat.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Budaya Masyarakat Gunung Kawi Secara Umum
Bicara budaya masyarakat gunung kawi, tentunya hal itu tak lepas dari namanya desa Wonosari. Dimana disitu terdapat tempat dua makam tokoh Agama Islam, yaitu Kanjeng Eyang Mbah Djoego dan R.M. Soedjono, beliau seorang tokoh besar yang mempunyai karisma pinasih waliwulloh dari Keraton Mataram, yang di jadikan sbagai obyek wisata ritual. Dengan wafatnya Kanjeng Eyang Djoego pada hari Senin Pahing, maka pada setiap hari Senin Pahing diadakan sesaji dan selamatan.
Apabila, hari Senin Pahing tepat pada bulan Selo (bulan Jawa ke sebelas), maka selamatan diikuti oleh seluruh penduduk Desa Wonosari yang dilakukan pada pagi harinya. Kegiatan ini sampai sekarang terkenal dengan nama Barikan. Acara-acara ritual yang sangat sakral di laksanakan setiap pada satu suro dengan pimpinan adatnya yaitu kepala desa, seperti kirab budaya pembakaran ogo-ogo, yang dipercayai mempunyai tujuan untuk menghilangkan mala petaka dan kesialan yang ada di daerah tersebut.
Lebih uniknya lagi masyarakat yang ada di desa Wonosari berasal dari berbagai macam agama dan kota mulai dari cina, madura, jawa,tiong hua dan lain-lain. Ketika waktu acara satu suro mereka juga mengikuti adatnya orang jawa dengan memakai kebaya yang perempuakan. Masyarakat desa ini setiap ada acara gebyar budaya satu suro setiap RW, di beri tugas wajib yang di sepakati bersama untuk membuat ogo-ogo yang besar. Bahkan untuk pendanaan pembuatan ogo-ogo itu tidak hanya dana kecil melainkan dana yang begitu besar, mulai berkisar 17 juta bahkan nyampek 20 juta. (narasmber: Nuraji selaku ketua RT.2)
Mata pencarian untuk kebutuhan hidup, masyarakat yang ada di desa Wonosari lebih kepada berwirausaha dan bertani. Dalam bertani masyarakat disitu penghasilan pokok yang lebih menonjol yaitu ubi jalar dan yang lainya seperti, jagung, kopi, pisang. Notaben masyarakat gunung kawi 90% beragama islam.

3.2. Tipe Masyarakat Gunung Kawi
Masyarakat gunung kawi jika dilihat dari segi norma, tingkahlaku, sikapnya mereka lebih ramah terhadap orang lain tapi sedikit mempunyai watak yang keras. Masyarakat gunung kawi masih termasuk masyarakat desa, karena dapat di lihat saja dari jumplah penduduk yang lebih kecil. Meskipun tidak ada ukuran pasti, dikatakan desa memilliki kepadatan penduduk yang relatif kecil di bandingkan dengan kota. Kepadatan penduduk ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembangunan perumahan.
Di desa gunung kawi jumplah penduduk sedikit, tanah untuk keperluan perumahan cenderung ke arah horizontal, jarang ada perumahan yang bertingkat. Hal itu karena masyarkat di situ dalam membangun untuk kebutuhan perumahan lebih memilih pelebaran ke samping di banding mengarah keatas. Lingkungan masyarkat gunug kawi lebih dekat dengan alam bebas, udaranya bersih, sinar matahari cukup serta tanahnya di selimuti berbagai pepohonan. Semua ini sangat berlainan dengan lingungan perkotaan yang sebagian besar di lapisi beton, bangunan menjulang tinggi saling berdesak-desakan, udara yang seringkali terasa pengap karena asap kendaraan.
Corak kehidupan masyarakat desa gunung kawi dapat di katakan masih bersifat homogen, hal itu karena di sana saling bertemu antara berbagai suku, agama, kelompok dan masing-masing memiliki kepentingan yang berlainan. Dalam interaksi sosialnya masyarakat gunung kawi, apabila disitu terjadi konflik mereka berusaha untuk di rukunkan, karena memang prinsip msyarakat ini hidup rukun dan gotong royong.
Dalam menjalin dan mempertahankan hubungan silaturahmi mereka mempunyai trik sendiri yaitu dengan mengadakan tahlilan seminggu sekali tepatnya tiap hari selasa malam. Dalam masyarakat kawi, disitu ada kepercayaan-kepercayaan yang di yakin masyarakat setempat, seperti apabila orang kejatuhan daun pohon dekat dengan makam dua tokoh islam tersebut, konon rezekinya orang tersebut sudah dekat. ( narasumber:Nuraji selaku ketua RT.2)

3.3. Dampak Modernisasi Terhadap Perkembangan Masyarkat Gnung Kawi
Seiring perkembangan arus modernisasi, masyarakat Wonosari tentunya telah tersentuh dengan adanya perkembangan zaman, untuk menuju arah perubahan. Akan tetapi masih dengan erat mempertahankan kebudayaan yang mereka miliki. Seperti halnya nilai-nilai gotong royong pada msyarakat Wonosari tumbuh subur dan membudaya. Msyarakat di situ senantiasa menjaga dan mempertahankan budaya lokalnya, walaupun di situ sudah muncul keragaman budaya, yang di bawa oleh arus migrasi atau perpindaahan penduduk yang sifatnya sukarela.
Datangnya orang baru dari luar daerah, baik untuk menetap atau sekedar singgah, hal itu menciptakan interaksi sosial jenis baru, contohnya saja msyarakat Wonosari yang awalnya dalam berkomunikasi menggunakan bahasa daerah, dengan adanya para pendatang seakan-akan di tuntut menggunakan bahasa indonesia dalam berkomunikasi. Walaupun itu masih sebagian masyarakat yang menggunakan bahasa indonesia, namun masih banyak masyarakat yang masih mempertahankan bahasa daerahnya, karena merupakan salah satu ciri khas warisan nenek moyangnya yang harus di jaga.
s(Athony giddens) modernisasi ditandai dengan institusi modern yang mencirikannya dan tidak ditemukan pada masyarakat sebelumnya, yaitu 1) alat tukar simbolik (symbolik token), yaitu media pertukaran yang bisa dialirkan tanpa memperdulikan watak atau karakter individu atau kelompok yang menangani mereka pada momen tertentu. Contohnya uang; dan 2) Pemapanan sistem ahli (expert system). Berbeda dengan masyarakat gunung kawi yang yang kebanyakan masih mempercayai pada dukun atau ahli adat, masyarakat modern lebih banyak bersentuhan dengan para ahli

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
1) Jadi dapat dideskripsikan bahwa budaya masyarakat gunung kawi merupakan suatu budaya yang sangat unik dan merupakan obyek Wisata ritual. Dimana di situ terdapat berbagai macam unsur kebudayaan di dalamnya, yang dibawa oleh masing­masing pengunjung yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Msyarakat disitu notabenya masih mempercayai acara ritual seperti kirab budaya pembakaran ogo-ogo, yang dipercayai mempunyai tujuan untuk menghilangkan mala petaka dan kesialan yang ada di daerah tersebut.

2) Masyarakat Wonosari bisa di katakan orangnya mempunyai sikap yangramah-ramah, sopan, mudah beradaptasi dengan orang lain yang baru di kenal, walaupun sedikit mempunyai watak keras. Disitu juga ada kepercayaan-kepercayaan yang di yakini masyarakat setempat, seperti apabila orang kejatuhan daun pohon yang berdekatan dengan makam dua tokoh islam tersebut, konon rezekinya orang tersebut sudah dekat.

3) Dengan adanya modernisai masyarakat yang ada di desa wonosari, mereka mampu beradaptasi untuk menuju suatu perkembangan walaupun masih belum keseluruhan. Seperti halnya saja dalam berkomunikasi dengan orang lain masih sebagian yang menggunakan bahasa indonesia, hal itupun digunakan ketika ada pendatang dari luar daerah. Bahasa yang di gunakan berkomunikasi sehari hari lebih banyak bahasa daerah.
4.2. Saran
Dengan munculnya persepsi negatif adanya tempat pesugihan di gunung kawi , dikarenakan munculnya isu­isu yang berkembang dalam masyarakat, persepsi seperti ini lebih banyak dinyatakan oleh pengunjung yang baru pertama kepesarean Gunung Kawi . untuk itu sebelum kita mempunyai persepsi itu terlebih dahulu kita pahami lebih dalam budaya masyarakat gunung kawi.
DAFTAR PUSTAKA
• Koentjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi, Reneka Cipta, Jakarta.hal.88
• Giddens,2000. Jalan Ketiga (The Third Way), Gramedia, Jakarta.
• Moedjanto, G. 1997. Konsep Kekuasaan Jawa Penerapanya Oleh Raja-Raja Mataram,Jogyakarta.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Burung tentang Bandung: Superhero …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 14:15

Ikhlas, Kunci Ibu Bisa Bahagia …

Sekar Sari Indah Ca... | | 20 December 2014 | 13:33

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Mazagran: Lahir dari Perang, Lalu …

Kopi Keliling | | 20 December 2014 | 13:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 7 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 8 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: