Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Bobby Triadi

Lahir di Medan, berkecimpung di dunia jurnalistik sejak tahun 1998 dan terakhir di TEMPO untuk selengkapnya

Sumpah Pemuda 2013: Pemuda Indonesia Tidak Boleh ‘Cengeng’

OPINI | 27 October 2013 | 04:15 Dibaca: 1385   Komentar: 1   0



Sumpah Pemuda delapan puluh lima tahun silam, 28 Oktober 1928 merupakan gambaran sejarah tekad dari Pemuda Pemudi Indonesia untuk menyatukan tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Peristiwa delapan puluh lima tahun silam itu, bukti otentik perjuangan panjang pemuda Indonesia, suatu kebulatan tekad untuk mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia dan menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaan saat itu.

Panjang lebar Moehammad Yamin menuliskan Rumusan Sumpah yang kemudian dibacakan pertama kali oleh Soegondo.

Heroisme Sumpah Pemuda delapan puluh lima tahun silam itu hendaknya dijadikan spirit bagi generasi muda sekarang untuk membangun negeri ini menuju negara yang besar dan disegani.

Kita pun harus sadari, setiap generasi memiliki persoalan dan tantangan berbeda. Musuh utama pemuda dan bangsa pada zaman itu adalah penjajah. Semangat heroisme mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan, menjadi pekik yang tak terhenti disuarakan bahkan tertuliskan di tembok-tembok.

Kini kita berada pada era gadget, tantangannya pun jauh berbeda dan lebih sulit yakni mempertahankan apa yang telah diperjuangkan pemuda pemudi Indonesia delapan puluh lima tahun silam.

Semangat Sumpah Pemuda harus tetap menjadi inspirasi bangsa untuk terus bangkit, meraih kejayaan seperti yang pernah terukir di persada nusantara ini. Tantangan sekarang memang lebih beragam wujud dan coraknya. Korupsi, kemiskinan dan keterbelakangan merupakan deretan persoalan bangsa yang tak berujung.

Pemuda bangsa ini sekarang sedang mengalami problem ketidakpercayaan diri, pemuda bangsa tanpa kepercayaan diri tentu tidak menghasilkan produk-produk unggul. Keunggulan hanya diraih, jika pemuda bangsa memiliki kebanggaan terhadap bangsa dan negerinya sendiri.

Pandangan sinis terhadap negara, tentu merendahkan derajat dan martabat Indonesia dalam pergaulan antar bangsa. Inferioritas Indonesia dewasa ini menuntut kehadiran pemuda-pemuda yang cepat, tanggap dan trengginas. Pemuda yang tidak terhipnotis euforia politik yang penuh dengan cerita heroisme jalanan. Bangsa ini sesungguhnya membutuhkan semangat pemuda yang memberikan konstribusi moral, kultural dan intelektual yang diwujudkan dalam program konstruktif.

Heroisme Sumpah Pemuda tidak sebatas koreksi bagi bangsa, tetapi sebagai penyadaran posisi jati diri bangsa secara kultural dalam persepsi kewilayahan tanah dan air Indonesia.

Dari kekuatan kesadaran sebagai penghuni negara kepulauan, akan lahir ketajaman visi dan strategi yang cerdas kreatif sesuai amanah Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia.

Ada salah kaprah tentang definisi pemuda selama ini. Pemuda, hanya ditinjau dari segi fisik dan psikis, pemuda sering dikaitkan dengan usia produktif atau semangat yang menggelora.

Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya: “The time of life between childhood and maturity, early maturity. The state of being young or immature or inexperienced, the freshness and vitality characteristic of a young person”.

World Health Organization (WHO) pun menggolongkan usia 10-24 tahun sebagai young people, remaja (adolescence) berusia 10-19 tahun. Di Kanada justru menerapkan: “After age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”.

Dalam Al-Qur’an pemuda diterjemahkan dalam konteks sifat dan sikap. Pemuda dinilai memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam perkataan.

Kisah Ash-habul Kahfi, disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pemuda-pemuda yang optimis, teguh dalam pendirian dan konsisten dalam perkataan (QS.Al-Kahfi:13-14).

Pemuda juga digambarkan sebagai sosok yang tidak kenal putus asa, pantang menyerah apalagi mundur sebelum mencapai cita-cita seperti diperankan pemuda (Nabi) Musa kepada muridnya (QS.Al-Kahfi:60).

Kita harus menolak lupa garis besar amanah Sumpah Pemuda, satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia, nyaris mengalami kepunahan. Lahirnya kelompok-kelompok massa kepemudaan berbasis suku, menjadi pemicu perpecahan.

Tak jarang kita mendengar perang antar suku, bentrokan antar ormas yang pemicunya hanyalah perebutan daerah kekuasaan atau hal-hal yang dianggap sepele lainnya. Belum lagi bentrokan antar pelajar yang dari hari kehari semakin meresahkan. Sampai hal yang paling memalukan, bentrokan antar mahasiswa.

Sungguh ironis, ironis dikala mengingat sejarah yang ada delapan puluh lima tahun silam. Pemuda dari berbagai suku dan etnis bersatu melawan penjajah demi mencapai kemerdekaan Indonesia. Para pemuda turun ke medan perang melawan penjajahan, baik dengan pemikiran mau pun dengan mengorbankan darahnya.

Dengan bergesernya perubahan masa dan waktu, lalu apa yang harus diperjuangan pemuda saat ini hingga dunia hancur punah?

Pemuda harus mempertahankan tanah air dan bangsa. Tak hanya mempertahankan dalam arti menjaga kedaulatan NKRI dengan tenaga dan darah melalui peperangan antar Negara, tetapi bersatu, berangkulan, bersama-sama meningkatkan perekonomian dan pendidikan, menjaga marwah bangsa juga termasuk dalam mempertahankan tanah air dan bangsa.

Betul bila dikatakan kemiskinan masih menjadi momok yang memalukan di Indonesia, apalagi bila kemiskinan itu berada digaris perbatasan negara yang merupakan beranda negeri. Tapi apakah pemuda Indonesia harus ikutan merengek-rengek atas kemiskinan?

Tentu tidak, sebahagian pemuda Indonesia justru berperang melawan kemiskinan dan keterpurukan dunia pendidikan. Sudah banyak contoh pemuda kreatif yang bekerja keras berperang dengan kemiskinan dan memerangi kemiskinan. Dan banyak juga contoh pemuda Indonesia yang memerangi kebodohan diwilayah-wilayah yang luput dari perhatian pemerintah.

Ketika berharap kepada pemerintah sudah menjadi ketabuan, maka gerak inisiatif pemuda menjadi penting. Pergerakan pemuda tak harus melulu harus menjual proposal, yang ditawarkan sambil merengek-rengek.

Untuk itu pulalah, Sumpah Pemuda yang menjadi spirit pemuda pada tahun 1928 di update. Sumpah Pemuda pada 2013 seharusnya;

Pertama, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bersatu untuk mengembangkan perekonomian dengan kreatifitas dan mencintai produksi anak bangsa Indonesia.

Kedua, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang bersatu mengembangkan pendidikan dan moral anak bangsa Indoneisa.

Ketiga, Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung tinggi persaudaraan sesama bangsa dan antar agama untuk kemajuan Indonesia.

Keempat, Kami Putra dan Putri Indonesia, berjanji tidak akan merengek-rengek atas kemiskinan untuk mendapatkan sesuatu yang instan demi marwah dan martabat bangsa Indonesia.

Demikianlah…

Twitter: @bobbytriadi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 10 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 20 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di Bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 13 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 13 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 13 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 13 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: