Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Mr Aulia

Menjadi Lentera bukan Angin yang selalu meredupkan upaya penerangan anak-anak bangsa

Evan Dimas: Semua Bisa Dikalahkan, kecuali Tuhan dan Orang Tua

OPINI | 13 October 2013 | 12:57 Dibaca: 976   Komentar: 2   0

Oleh:

M. R. Aulia

138164375267282229

Terima kasih Timnas U 19, Sumber: Bola.net

*Ditulis Minggu Pagi, 13 Oktober 2013.

Suasana haru, tangis bahagia, menderu langit malam Indonesia 12/10/2013. Pasalnya, Evan Dimas dan kawan-kawan, berhasil mengukir sejarah mengalahkan tim asal negara Ginseng, Korea Selatan yang notabene pemegang rekor terbanyak 12 kali juara. Evan Dimas mengungkapkan bahwa ia dan teman-temannya sangat senang dan bersemangat berkat pemain ke 12 yang membanjiri Gelora Bung Karno. Mereka para pemain timnas U 19 tidak pernah melihat GBK semerah dan meriah jika dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Sebelumnya, Evan Dimas merupakan satu-satunya alumni Nike The Chance 2012 di La Masia, Barcelona yang tampil di piala AFF 2013. Namun, Anak muda kelahiran Surabaya, 13 Maret 1995 tersebut, tidak bisa melanjutkan latihannya di La Masia dikarenakan tidak terpilih untuk maju ke tahap selanjutnya. Akan tetapi, kegagalan tersebut tidak membuatnya bersedih, ia berkeyakinan akan ada jalan yang lebih baik nantinya. Terbukti kontribusi besarnya, hatrick ke gawang Korea Selatan.

Malam itu, ketika on match, Evan Dimas Darmono dkk, berhasil memberikan performa permainan yang sangat menarik. Hal itu diakui oleh Pelatih Indra Sjafri selang beberapa waktu setelah pertandingan usai. Anak asuhnya tidak hanya menggetarkan gawang Korea Selatan, melainkan membuat pemain Korea kewalahan melihat cara bermain Evan Dimas Dkk. Ia juga memberikan kepercayaan kepada pemainnya, untuk melawan siapapun, kalian pasti bisa. Tim raksasa asia sekalipun bahkan tim raksasa dunia.

Maka dari itu, Evan Dimas dkk, mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ketenaran dan kebesaran timnas Korea Selatan tidak membuat nyalinya ciut. Ia berkeyakinan bahwa semua bisa dikalahkan kecuali tuhan dan orang tua. Maka tidak heran, tiga lesakan bola yang dihempaskannya masuk sempurna mengelabuhi kiper Korea Selatan.

Kepercayaan diri bangsa Indonesia yang selama ini menggerogoti kualitas timnas Indonesia. Indra Sjafri, sangat optimis bisa mengalahkan Korea Selatan. Namun keyakinan tersebut dibantah banyak pihak. Mereka menyebutkan pernyataan Indra Sjafri tersebut merupakan pernyataan yang sangat arogan. Maka dari itu, Indra Sjafri sangat menyesalkan. Inilah penyakit bangsa Indonesia. Selalu merasa lebih bodoh dibandingkan tim yang sudah dikenal daya tempurnya. Oleh karena itu, Indra Sjafri menyerukan kepada masyarakat Indonesia, mulai malam ini, pasca kemenangan Indonesia, tanamkan dalam hati, bahwa raksasa Asia akan datang dari Indonesia.

Saya sangat setuju dengan optimisme sang pelatih. Walaupun di masa yang akan datang ditemukan hasil di luar harapan, tapi setidaknya, Indra Sjafri memberikan terapi kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang mentalitas sebagai bangsa yang sangat besar. Tentunya tidak hanya besar secara populasi, melainkan besar dalam kualitas.

Akhirnya, apa yang diperagakan Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan dalam pertandingan Indonesai versus Korea Selatan adalah bentuk kepercayaan diri yang telah dibangun Indra Sjafri dan tim. Siapapun bisa dikalahkan. Tak harus ciut ketika dengar profil calon lawan, melainkan coba dahulu dengan penuh daya juang, karena hanya dua yang mustahil di kalahkan di dunia ini, yaitu, Tuhan dan Orang Tua, ujar Evan Dimas saat diwawancarai beberapa saat di terowongan Gelora Bung Karno.

Terima Kasih Evan Dimas

Terima Kasih Coach Indra Sjafri

Terima Kasih seluruh Pemain Timnas U 19

Terima Kasih Seluruh Pemain Ke 12

Dan terima kasih seluruh tim dan official Timnas U 19

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 3 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Rethinking McDonald’s, Opportunity …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: