Sosial Budaya

Kosmas Lawa Bagho

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Hidup untuk berbagi dan rela untuk tidak diperhitungkan, menulis apa yang dialami, dilihat sesuai fakta dan data secara jujur berdasarkan kata hati nurani.

Ada Apa dengan Lenteng Agung

OPINI | 30 August 2013 | 08:12 Dibaca: 293   1

Menyaksikan acara talk-show malam tadi pada JakTV tentang sebagian warga Lenteng Agung menolak Lurah, sungguh mengagetkan. Awalnya penulis berpikir bahwa mungkin sang lurah tidak memberikan pelayanan yang terbaik dari potensi terbaik untuk warga di Lenteng Agung. Apabila hal spesial itu yang menjadi sebab musebab penolakan sebagian warga terhadap pemimpinnya sang lurah, mungkin bisa diterima dan segera dicari jalan keluar terbaik agar berbagai kebutuhan warga dapat terakses dengan kehadiran sang lurah yang lebih berkompeten, berkepribadian yang utuh dengan skill yang profesional.

Permintaan dan penolakan warga berbasis pada lemahnya kinerja sang lurah, itu sah-sah saja bahkan itu merupakan suatu yang urgen agar para pemimpin mau dan berkomitmen melayani warga dengan sungguh-sungguh sesuai janji setia mereka sebagai pejabat publik yang pegawai negeri sipil. Apabila hal itu yang dipertanyakan maka sepatutnya kita mendukung agar semua pejabat publik mana saja di setiap jejak Republik ini memberikan pelayanan terbaik (CRM) bagi setiap warganya. Tentu,  kita tidak hanya menuntut  lurah Lenteng Agung saja.

Namun, penulis dan mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia pencinta dan pengamal nilai-nilai empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) agak terkejut bahwa alasan penolakan sang lurah bukan masalah kinerja kerja atau performance pelayanan melainkan alasan pribadi sang lurah yang tidak sesuai sosial-budaya warga Lenteng Agung. Mungkin ini menjadi pekerjaan besar bagi seluruh warga masyarakat Indonesia yang pluralis.

Untuk memahami lebih dalam tentang keberagaman atau pluralitas, izinkan penulis mengutip tulisan Andreas Neke, Staf pengajar SMAK St. Clemens Boawae-Flores pada opini media lokal Flores Pos, tanggal 30 Agustus 2013, hal.12 dengan judul “Mengeroposnya Pilar Kebangsaan”.

“… Indonesia sebagai sebuah bangsa dapat berdiri kokoh sampai pada usianya yang sekarang ini justru karena fondasi yang menjadi dasarnya adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Jika tanpa keermpat pilar ini, Indonesia tentunya sudah lama terkoyak dan terbagi dalam ikatan-ikatan primordial. Karena memang rahimnya telah mengandung keempat pilar ini maka lahirlah Indonesia sebagai sebuah bangsa yang dikenal karena kemajemukan suku, ras, bahasa dan agama.

Disadari bahwa identitas yang mencirikan agama atau etnis tertentu justru akan melukai dan mencederai universalitas Indonesia sebagai sebuah bangsa yang plural. Demikian kearifan para founding father bangsa ini telah menyarikan identitas bangsa pada nilai-nilai kebangsaan yang mempersatukan keanekaragaman yang ada. Sejatinya, para penerus bangsa mampu menerima dan menghidupi realitas kemajemukan ini dalam segala dimensi kehidupan. Yang selaras dengannnya, dituntut pula krestivitas untuk mencari dan menemukan corak umum kebangsaan yang dapat mengokohkan identitas keindonesiaan sebagai sebuah bangsa.”

Peristiwa Lenteng Agung menjadi pembelajaran berharga bagi setiap insan Indonesia yang masih mencintai keberagaman dalam kesatuan NKRI yang berdasarkan konstitusi UUD 1945 dan Pancasila. Tentu kita tidak menolak 100% penolakan sebagian warga Lenteng Agung, akan tetapi peristiwa itu menjadi momen refleksi praktis apakah perbedaan ras, warna kulit, suku bahkan agama masih layak kita angkat ke permukaan sebagai salah satu prasyarat yang tidak tertulis bagi anak negeri ini yang secara kebetulan memiliki kompetensi dan kelayakan sebagai pejabat publik.

Apabila perbedaan itu terus menerus dipertajam maka inilah bukti pengeroposan Pilar Kebangsaan yang dimaksud Andreas Neke. Bahkan beliau lebih lanjut menulis, “Namun, tak dapat dipungkiri bahwa upaya pengeroposan terhadap identitas kebangsaan kerap terjadi. Para generasi penerus bangsa ini tidak lagi mencintai bangsa ini dengan lebih suka menonjolkan perbedaan untuk mengedepankan identitas agama dan etnisnya masing-masing. Jurang perbedaan dengan sengaja digali untuk memperdalam dan memperlebar perbedaan yang ada sehingga memutuskan jembatan emas yang menjadi esensi utama yang menyatukan bangsa ini.”

Entah kebetulan atau tidak bahwa keprihatinan Andreas Neke sepertinya tepat dengan peristiwa yang sedang terjadi di Lenteng Agung. Mudah-mudahan apa yang kita dengar sepintas pada acara talk-show malam tadi tidak menggambarkan ke arah sana, sebab Lenteng Agung harus bisa membuktikan bahwa mereka merupakan salah satu daerah pluralis yang menjadi contoh bagi seluruh warga Indonesia bahkan warga dunia. Kita tidak bisa lagi membentuk sebuah “getho” di dunia dan Indonesia yang sangat beragam ini. Kita tetap menghargai berbagai perbedaan dalam kesatuan “kemanusiaan yang sama“.

Thomas Merton pernah menulis, “No man is an island”. Tidak ada satu manusia pun yang hidup sendirian bagaikan sebuah pulau yang kosong. Setiap individu yang otonom harus bisa hidup berdampingan dengan sesama lain.

Untuk itu, hendaknya Lenteng Agung menjadi jendela dunia dan Indonesia untuk mengamalkan keberagaman tanpa menghilangkan identitas diri. Itu sudah kita buktikan selama ini. Jangan lagi hanya karena kepentingan jangka pendek ataupun orang-perorangan tertentu mencederai dan melukai bangsa yang besar karena pluralitasnya.

Betapa indahnya pulau Indonesia (Lenteng Agung) dipenuhi dengan beraneka warna bunga suku, ras, etnis, bahasa dan agama!

Salam pluralitas,

Kosmas Lawa Bagho

Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta