Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Entang Sastraadmadja

Mantan anggota DPR RI era Orde Baru | Anggota Kelompok Kerja Khusus Dewan Ketahanan Pangan

Pesan Moral Kaum Nelayan Bagi Prabowo Subianto

OPINI | 25 August 2013 | 19:51 Dibaca: 121   Komentar: 1   0

Nelayan, khusus nya nelayan gurem dan nelayan buruh, seringkali dikaitkan dengan profesi yang tidak menjanjikan. Nelayan bukan idola nya anak-anak. Kalau kita tanya anak-anak soal apa yang menjadi cita-cita nya nanti, hampir tidak ada yang bercita-cita untuk menjadi nelayan. Pilihan untuk menjadi PNS, Jendral, Presiden, Pengusaha, Pilot, Dokter, Insinyur, Pengacara, rupa nya lebih diminati anak-anak ketimbang untuk menjadi nelayan. Di mata anak-anak, nelayan bukanlah sebuah profesi yang membanggakan. Lebih hebat lagi, ternyata pesan nelayan terhadap putera-puteri nya juga mengagetkan. Isi pesan nya : “nak kalau sudah besar jangan pernah bercita-cita untuk mau jadi nelayan”.

Nelayan, rupa nya bukan profesi yang menjanjikan. Nelayan belum mampu menarik minat generasi penerus untuk menggeluti nya secara serius. Profesi nelayan masih dipandang sebelah mata. Bukan saja, nelayan terkesan identik dengan kesengsaraan, ternyata upaya Pemerintah untuk memberdayakan dan memartabatkan kaum nelayan pun terkesan masih setengah hati. Saat ini, khusus nya dalam memasuki Tahun Pemanasan Politik ini, Pemerintah terlihat lagi asyik mengurusi politik dan kekuasaan. Fokus elit bangsa tidak lagi ke upaya peningkatan kesejahteraan kaum nelayan misal nya, namun mereka lebih berusaha untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan untuk periode lima tahun ke depan.

Dalam benak kita, sudah sejak lama, yang nama nya kaum nelayan, dipersepsikan sebagai warga bangsa yang kondisi kehidupan nya masih memprihatinkan. Nasib dan kehidupan kaum nelayan, tidak jauh berbeda dengan nasib dan kehidupan kaum tani yang selama ini terjerat dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung pangkal. Oleh karena itu, tatkala kita berkehendak untuk melakukan pemberdayaan kaum nelayan, maka yang dibutuhkan, bukan lagi sekedar wacana, namun sampai sejauh mana hasrat tersebut dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata di lapangan. Kaum nelayan sudah bosan dengan teori. Mereka menantikan langkah nyata Pemerintah, yang benar-benar mampu merubah potret diri nya sendiri.

Upaya pemberdayaan nelayan, semesti nya dilandasi pula oleh spirit untuk menggunting jerat kemiskinan yang selama ini melingkari kehidupan kaum nelayan. Sejak puluhan tahun silam, Pemerintah sendiri telah tampil dengan berbagai kebijakan dan program guna mensejahterakan kaum nelayan. Jargon “nelayan bangkit mengubah nasib”, tak henti-henti nya mengumandang dalam setiap peresmian Program Kenelayanan. Pemerintah dan DPR sepakat, kaum nelayan haruslah tampil menjadi warga bangsa yang berpribadi. Nelayan tidak boleh lagi hidup nelangsa. Nelayan perlu terbebas dari belenggu kemelaratan yang mendera nya. Bahkan spirit agar nelayan dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri dan profesional, rasa nya hampir setiap saat digaungkan oleh para pengambil kebijakan di negeri ini.

Konsep pemberdayaan nelayan yang digelindingkan, tentu bukan hanya ditempuh lewat program pendidikan dan pelatihan, dengan titik kuat pada usaha peningkatan kemampuan semata. Namun yang tak kalah penting, juga ada nya kesungguhan untuk memartabatkan mereka agar dapat hidup secara layak di atas kampung halaman nya sendiri. Makna pemberdayaan dan pemartabatan sudah sepatut nya melekat dalam konsep pendidikan dan pelatihan yang selama digarap oleh Pemerintah. Pemberian “ability”, memang harus diiringi pula dengan upaya pemberian “authority”. Tentu dengan pola yang utuh, komprehensif dan holistik, sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh di masingg-masing daerah.

Ada nya penelaahan yang lebih seksama terhadap Nilai Tukar Nelayan, tentu perlu kita sambut dengan gembira. Nilai Tukar Nelayan sendiri adalah ukuran untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kesejahteraan nelayan dapat diwujudkan. Apakah biaya yang dikeluarkan keluarga nelayan selama ini lebih besar dari pendapatan yang diperoleh nya ? Atau sebalik nya, pendapatan nelayan ternyata lebih besar dari biaya pengeluaran kehidupan nya ? Rasio inilah yang ingin diketahui dari Nilai Tukar Nelayan. Yang kita harapkan adalah pendapatan nelayan harus lebih besar dari biaya yang dikeluarkan guna memenuhi kebutuhan hidup nya. Inilah sebetul nya pesan moral bagi Prabowo Subianto selaku Calon Presiden NKRI 2014 - 2019 yang sangat getol membela kaum nelayan. Salam !

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 7 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 9 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: