Sosial Budaya

Mercy

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Pengalaman manis tapi pahit, ikutan Fit and Proper Test di DPR.

Jokowi “Bercerai” dengan Ahok, dan Jokowi vs Ahok. Kenapa?

OPINI | 12 July 2013 | 22:55 Dibaca: 1782   1

Tulisan ini bukan primbon, ramalan, apalagi prediksi politik. Bukan. Tulisan ini terus terang berasal dari kecemasan saya, sebagai warga Jakarta kalau akhirnya Jokowi terpaksa “bercerai” dengan Ahok. Bukan cuma harus “bercerai” karena ada peluang Jokowi dan Ahok malah menjadi musuh.  Lho kenapa begitu?

Selama ini pasangan Jokowi dan Ahok, terlihat kompak, bak suami istri mengatur rumah tangga dan anak-anaknya, ya termasuk anda dan saya yang warga Jakarta. Jokowi hobbi keluar rumah dan cari “rejeki” di luar rumah. Yang saya maksud rejeki itu nggak harus duit,  mendapat data aktual tentang kondisi lapangan itu juga rejeki. Menangkap basah aparat pemda, lurah, camat yang seenak udelnya masuk kantor itu juga rejeki.  Menemui masyarakat untuk tahu persis keluhannya itu juga rejeki.  Bahkan setiap hari puluhan bahkan wartawan media berlomba-lomba mengais berita dari blusukannya, itu juga rejeki.

Sedangkan Ahok memilih di dalam. Seperti para ibu yang tinggal di rumah untuk mengatur rumah tangga, menerima tamu, dan menghitung cermat keuangan. Di ruang kantor Ahok yang adem, bersih, dan terawat;   staf yang ramah dan cekatan, Ahok sibuk menerima tamu. mengatur dan memeriksa keuangan pemda DKI.

Harmonisnya Ahok dan Jokowi memang patut diacungkan jempol Saya jadi usil ingin membandingkan pasangan Foke dan Prijanto.  Akhirnya setelah ditahan-tahan, Prijanto minta cerai juga dari Foke, alasannya  bisa ditebak, ada KDRT hahahaha. Maksudnya, pembagian proyek nggak rata kaleee.

Perceraian antara kepala daerah dan wakilnya, bukan cuma sekali kita saksikan. Ada artis Dicky Tjandra dan bupati Aceng Fikri yang baru setengah perjalanan sudah bubar jalan  (mungkin juga itu dilatarbelakangi ketidakpuasan Aceng karena Dicky tua, tidak semuda, istri muda Aceng wkwkw).

Ada gubernur Ahmad Heryawan yang ternyata sudah talak cerai dengan wagub Dede Jusuf, yang akhirnya baru ketahuan, karena Aher telah punya simpanan, yang baru diperkenalkan ke publik, saat pilkada gubernur Jawa Barat. Bisa dong tebak, siapa pasangan baru Aher?  Dan masih banyak cerita sejenis.

Kalau memang pasangan kepala daerah itu tidak harmonis, dan akhirnya bubar jalan, yah rakyat cuma bisa terima saja. Apalagi kalau pasangan itu tidak banyak mencetak prestasi, kalau mereka bubar, rakyat bisa katakan, “ya sudahlah.”

Namun kalau Jokowi dan Ahok harus bercerai, aduuuuh pasti banyak yang sedih, yang menyayangkan. Walau sesungguhnya proses mak comblang Jokowi dan Ahok konon cuma sekilas, seperti perjodohan orangtua, tetapi sejauh ini kelihatan mereka saling mencintai, alias saling mengerti dan saling mendukung. Ahok yang meledak-ledak yang beberapa kali membuat orang geram –dan mengadukan ke Jokowi– biasanya jadi adem setelah ditenangkan oleh Jokowi.

Sebaliknya Jokowi yang dinilai sering obral janji kepada masyarakat, bisa direm oleh Ahok, yang hitung-hitungannya mantap, bahasanya tegas, dan tidak suka memberi angin sorga.

Menurut Ahok, Jokowi yang sering kluyuran (minjam istilah Ahok  sendiri di acara diskusi Radio Smart FM dengan Rossy Silalahi) memang harus didukung oleh wakil dan staf yang betah ngurusin “dalam negeri”. Kalau nggak, hasil blusukan Jokowi di TKP nggak bisa langsung diaplikasikan  dengan cepat dan tepat, sehingga Jakarta Baru, benar-benar dapat langsung dinikmati rakyat.

Berkaca dari cerita di atas, ternyata  mencari pasangan kepala daerah sangat sulit, tidak semudah yang rakyat pikirkan.  Kepala Daerah dan Wakil harus mampu menari dengan irama yang sama.  Gubernur dan Wakil Gubernur harus tahu bagian masing-masing, dan saling menghormati.  Demikian juga dengan Presiden dan Wakil Presiden harus seiring sejalan, harus saling mendukung dan saling setia.

Masih inget dong, bagaimana perang urat syaraf sewaktu Habibie menggantikan Soeharto.  Bagaimanan Gus Dur dengan Mega; –sekalipun tidak ada yang berani mengungkap, tetapi wajar kalau ada perasaan yang kurang enak–  sewaktu Gus Dur dilengserkan dan Mega langsung mau dilantik jadi Presiden baru. Bagaimanan Sby dengan JK yang akhirnya ketahuan, tidak cocok di ujung masa kekuasaannya.

Kembali ke Jokowi dan Ahok, saya berharap mereka berdua bertahan dan awet sampai kakek nenek, ups maksudnya sampai 5 tahun pemerintahannya, dan kalo bisa disambung ke 5 tahun berikutnya.  Rasanya 10 tahun membenahi Jakarta Baru, bisa menjadikan Jakarta dan warganya lebih bagus.  Banjir, macet, pedagang kaki lima, sudah bisa dibereskan dan membuat warga Jakarta lebih manusiawi.

Namun kalau akhirnya Jokowi dan Ahok harus bercerai, apa boleh buat. Nah pertanyaannya mengapa bercerai?

Analisis politik minggu ini mengembuskan bahwa Jokowi akan dipinang menjadi calon presiden dan disandingkan dengan wapres yang trah Soekarno, Puan Maharani. Namun kalau saya jadi Bu Mega, maka saya akan meminta Jokowi menjadi wakil saya. Jadi pengantin dari Kampung PDIP adalah Bu Mega dan Jokowi. Buat Bu Mega, ini peluang paling besar untuk menjadi Presiden  (kemarin kan kurang dari 5 tahun) sekaligus menuntaskan dendam lama … hm.

Dengan elektabilitas Jokowi yang dashyat, kayaknya peluang pasangan PDIP ini sangat besar untuk memenangkan Pilpres 2014. Tinggal diperlukan komunikasi yang cerdas agar rakyat Indonesia bisa menerima kondisi Jokowi jadi wapres dulu, dan akan giliran jadi Presiden di 2019.

Namun, apakah PDIP dibiarkan melenggang untuk memenangkan 2014? Kayaknya nggak mungkin. Demokrat sudah jual kendaraan untuk para pejabat yang malu-malu kucing, ngebet jadi Presiden. Walaupun menurut analisis saya, Demokrat sudah mati angin, selain image partai yang tukang boong, obral janji tanpa bisa menepati, dan sarang koruptor. Para calon presiden dari Demokrat juga kelihatannya tidak mampu memikat rakyat (kecuali dengan duit dan variasinya, Balsem)

Jadi lupakan Demokrat. Bagaimana dengan Golkar yang mengusung ARB. Saat saya menulis artikel ini, pas banget Kick Andy menampilkan korban Lapindo yang jujur mengatakan, Belum jadi presiden saja, persoalan lapindo tidak bisa beres dan korban lapindo sudah sengsara. Bagaimana kalau ARB jadi presiden. Jadi, jangan pernah pilih ARB. hadoooh.

Bagaimana dengan Nasdem, yang disebut ARB sebagai partai panas adem alias partai nggak jelas. Surya Paloh yang sempat naksir Jokowi,  untuk jadi wapresnya,  tetapi bertepuk sebelah tangan. Kalau mencari wapres saja bingung,  bagaimana rakyat mau terpikat.

Nah, satu-satunya yang bisa dijadikan saingan adalah Prabowo Subianto. Walaupun survey LIPI Juni 2013 mengatakan, elektabilitas Jokowi 24, 8% di tempat pertama, maka Prabowo adalah runner up dengan 14,8%. Memang jauh juga, karena perbedaan 10% itu kalau dikali 200 juta pemilih = 20 juta orang.

Nah, bagaimana cara Prabowo untuk menaikkan elektabilitasnya. Menurut saya, Prabowo harus meminta Ahok menjadi calon wapresnya. Ha???

Coba pikir,  siapa lagi yang bisa menyaingi kepopuleran Jokowi, selain Ahok. Terlepas dari berbagai berita miring yang mengomentari ucapan ceplas ceplosnya, Ahok telah muncul sebagai sosok pemimpin yang berani, jujur, tulus, dan sangat cerdas.  Dan jangan lupa, para penguasa negeri ini,  para orang kaya negeri ini tidak punya keberatan Ahok menjadi wakil presiden.  Apalagi Ahok yang suka dangdut itu  pelan pelan bisa mengurangi antipati sebagai kalangan yang alergi (maaf) pada keturunan China. Sejak jadi wagub, Ahok bisa membuktikan mental dan spiritualnya sama seperti  Jokowi, sama-sama  Indonesia.

Nah begitu dulu proyeksi saya, bahwa akhirnya demi permintaan Bu Mega pada Jokowi, dan Prabowo pada Ahok, maka mau tidak mau, terjadilah perceraian Jokowi dan Ahok. Bahkan bisa saja terjadi babak baru, pertarungan Jokowi vs Ahok.  Wah, saya kok nggak mau mikirin pertarungan itu yaaaa

Bagaimana pandangan para Kompasianer?

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta