Sosial Budaya

Githa Luani

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

hapuskan memoriku

Jokowi Malu atau “Jokowi” Malu-maluin?

OPINI | 13 June 2013 | 05:22 Dibaca: 1600   1

13710732341724795010

Pak Jokowi malu masa kecilnya difilmkan menanggapi rencana pemutaran film “Jokowi” di gedung-gedung bioskop tanggal 20 Juni 2013 atau sehari sebelum ulang tahunnya. Menurut Pak Jokowi pada dasarnya sejak awal dia tidak setuju - meski tak melarang - adanya film tersebut.

Sang produser pun membenarkan, tapi justru jawaban malu itu yang melatarbelakangi pembuatan filmnya.¬†“Itu jawaban sederhana beliau, memang seperti itu. Itulah yang buat saya mengagumi beliau. Dia pejabat yang sangat rendah hati,” katanya.

Boleh saja sang produser berpendapat seperti itu, tapi orang lain pun boleh saja menilai latar belakang pembuatan film “Jokowi” dominan hanya fulus dan fulus (uang).

Apakah ada larangan bagi seorang produser - siapapun produsernya -  membuat film seperti itu?. Apa salahnya mengangkat masa kecil seorang Jokowi ke dalam sebuah film?. Seandainya latar belakang pembuatan filmnya dominan hanya fulus, tidak boleh?.

Bukan hanya sebatas kata “larangan”, “salah” atau “tidak boleh” yang ingin dikemukakan, tapi cenderung ingin mengangkat soal “kejujuran”.

Nama Jokowi sedang naik daun dan tidak sedikit orang yang mengaguminya. Salah satu sebab adanya kekaguman itu karena sosok Jokowi dinilai orang yang jujur, kontras dengan kebanyakan pejabat lainnya yang cenderung pembohong.

Tidak perlu kecerdasan yang tinggi pun dapat diambil kesimpulan, jumlah pengagum Pak Jokowi adalah pangsa pasar yang besar.

Seandainya latar belakang pembuatan fim “Jokowi” bukan semata atas dasar jawaban malunya seorang Jokowi yang mendatangkan kekaguman seorang produser, tapi lebih dominan hanya fulus, terjadilah pembohongan atau kebohongan.

Saat ini Budaya Jujur seperti barang langka yang sulit ditemukan. Ketika seorang Jokowi dapat memenuhi harapan itu, melejitlah namanya.

Apakah film “Jokowi” pun akan melejit di pasaran?. Mengingat film nasional cenderung film yang tidak bermutu atau malu-maluin?. Seandainya film “Jokowi” bermutu rendah atau malu-maluin, apakah secara langsung atau tidak langsung akan membuat Pak Jokowi semakin malu yang nantinya hanya malu-maluin Pak Jokowi?. Atas dasar apa menilai film “Jokowi” tidak bermutu atau malu-maluin, jika belum melihat atau menonton filmnya?.

Dari sisi (hanya) bisnis film “Jokowi” kanan kirinya oke, terlepas sang produser jujur atau tidak mengenai latar belakang pembuatan filmnya.

Asal Gambar dan Berita


Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta