Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Laili Triwahyuni

Man Jadda wa jada. suka menulis dan membaca. pribadi yang sederhana dan mencintai kebersihan dan selengkapnya

Saat “Hijab” Tak Lagi Menjadi “Sakral” bagi Perempuan Muslim

OPINI | 24 April 2013 | 18:35 Dibaca: 446   Komentar: 2   1

Tiiiin…!!
Tiiinnn!!!

Pagi yang mancet, padahal masih pukul 6 pagi. Aku sedang dijalan menuju kantor. Tanpa sengaja, sedekat mata memandang, pengendara mobil ford fiasta putih,tampak kesal mengendarai, memang harusnya kesal kali yah.. Pagi-pagi sudah macet. Namanya juga jakarta,populer dengan macet.
Tidak ada yang salah,dengan pengendara mobil yang sedang kesal dengan rokoknya akibat macet. Namun apanya yang berkesan salah?…
Pengendara tersebut adalah perempuan berhijab rapi dan sangat muslimah. (Dweeeeng…),
Doi dengan asiknya membuka kaca jendela mobil dengan full terbuka, lalu tangan kananya dikeluarkan tepat diatas kaca jendela mobil sambil memegang sebatang rokok di sisi jari telunjuk dan jari tengahnya. Lengakp dengan hijabnya, wanita ini tanpa malu dengan tindakanya.

Meski mobil adalah area pribadinya, namun posisinya saat itu adalah tepat di jalan raya, jalanya para pengguna kendaraan bermotor. Dan saat itu, adalah pagi yang sangat macet, dimana setiap orang pasti berhenti didekatnya, baik motor maupun mobil disampingnya.

Bagaimana, aku harus berkata?
Apakah ini lumrah? ..hanya karena ini era globalisasi?

Atau aku harus diam saja, bahkan tidak menulis ini di media sosial ini??

Para pembaca yang budiman,
Saat aku menemukan pengendara lalim itu, aku jadi berfikir, apakah ini ciri perubahan dan perkembangan mode di zaman globalisasi ini?

Yaitu, beralihnya makna dan fungsi hijab (kerudung/jilbab), bukan lagi menjadi sebuah busana yang sakral untuk kaum muslimin, tapi telah beralih fungsi dan makna menjadi sebatas style,mode, atau fashion semata?,,

Aku sangat senang dengan adanya model-model dan jenis hijab baru yang juga mengikuti perkembangan zaman, seiring banyaknya aktifitas perempuan-perempuan dikota-kota besar. Justru sangat indah dan masih sedap dipandang.

Memang, semua ini kembali kepada individualnya masing-masing, justru karena kembali ke individualnya masing-masing, apakah mereka tanpa sadar melakukan hal tersebut?… Apakah mereka tak mampu menjaga kehormatan hijabnya tersebut??
Dan apakah mereka justru hanya mengingat hijab (kerudung/jilbab) adalah mode gaya baru dalam eksistensi diri?,

Begitu besarnya pengaruh hijab dengan mode baru yang makin familiar, maksud hati hendak mengajak muslim lainya agar mau menutup auratnya, tanpa harus berfikir bahwa perempuan berhijab itu ribet, dan terbatas eksistensinya. Eh.. Ko malah  sedikit juga ya yang kurang paham akan makna hijab sesungguhnya.
Perempuan muslim dan pembaca yang budiman,

Saya sadar, bahwa seburuk-buruk wanita muslim adalah dia yang menutupi auratnya (berhijab)”, maka sesungguhnya tulisan ini bukan saya maksudkan bahwa diri saya adalah lebih baik dari mereka yang berhijab, sangat salah dan bukan itu maksud dan tujuan saya.
Melainkan, sebatas share atas apa yang telah saya lihat lalu saya kelola dipikiran saya, dan syukur-syukur (sy sangat bersyukur sekali) - bila ada pembaca yang akan menjadi pelopor pertama perempuan berhijab dengan pembaharuan sikap, akidah, dan akhlak seorang perempuan berhijab. Sehingga mampu menjadi perbaikan disetiap pengguna hijab, dan meniadakan pandangan buruk ttg islam di mata luas yang memandang.

Salam hangat
╭( ‘̀⌣’́ )งː̖́ menulis dan berbagi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah Bantuan Sangat Mendesak yang …

Siwi Sang | | 18 December 2014 | 09:08

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | | 18 December 2014 | 00:46

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59

Membangun Bangsa dari Pabrik Fillet Patin …

Indar Wijaya | | 18 December 2014 | 08:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 4 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 6 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Mesin Pemetik Buah untuk Ringankan Tugas …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Priyayi dalam Birokrasi …

Sarwo Prasojo | 8 jam lalu

Amuk SBY kepada Jokowi …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Budidaya Ikan Mas dan Kebutuhan Masyarakat …

Nila Utami | 8 jam lalu

Agar Lebih Sehat, Umur Lebih Panjang, …

Irsyal Rusad | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: