Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Hilwin Nisa'

sedang mengarungi samudera ilmu di UIN Maliki Malang jurusan Matematika, dan proses belajar tulis menulis selengkapnya

Patenkan Kesenian Hadrah Bawean

OPINI | 07 April 2013 | 22:28 Dibaca: 229   Komentar: 0   0

Hadrah Bawean merupakan salah satu kesenian yang ada di Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Seni hadrah sendiri merupakan seni menabuh terbang, sambil menyanyikan lagu-lagu islami yang biasanya ditampilkan setiap acara pernikahan atau hajatan. Selain untuk mempertahankan citra Gresik sebagai kota Santri, seni hadrah juga memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Gresik.

Selain dinikmati keindahan suaranya, Hadrah Bawean ini juga bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan syiar agama Islam. Pendengar bisa menikmati keindahan seni hadrah dan pemain seni hadrah juga bisa berdakwah melalui lagu-lagu islami yang telah dilantunkan. Keindahan seni Hadrah Bawean tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Gresik saja, akan tetapi juga telah dikenal oleh masyarakat luar Gresik. Bahkan dalam salah satu media online (Kompas.com edisi Minggu, 20 Januari 2013) diberitakan bahwasanya seni Hadrah Bawean mulai menjadi incaran Malaysia untuk diklaim. Hal ini dikarenakan banyaknya orang Bawean yang tinggal di Malaysia dan mereka memperkenalkan Hadrah Bawean di sana. Mereka mendapat dukungan dan diperhatikan oleh pemerintah Malaysia.

Sebelum kejadian yang terjadi pada Tari Pendet dan Reog Ponorogo yang telah diklaim oleh Malaysia terulang pada salah satu kesenian lokal Gresik ini, alangkah baiknya jika Hadrah Bawean tersebut segera dipatenkan. Selama ini pemerintah Kabupaten gresik dinilai kurang begitu peduli terhadap perlindungan kesenian khas Gresik dengan memberikan hak paten. Padahal itu sangat diperlukan sebelum kesenian khas Gresik direbut oleh negara lain.

Sudah sepantasnya dinas pariwisata dan kebudayaan melindungi kesenian khas Gresik agar tidak diklaim oleh daerah lain, ternasuk Hadrah Bawean. Mengingat Hadrah Bawean merupakan salah satu kesenian lokal masyarakat Gresik yang memang seharusnya dijaga dan dilindungi. Selain itu tidak sedikit pula masyarakat Gresik yang menggantungkan sumber penghasilannya dari Hadrah Bawean tersebut.

Masyarakat Gresik memanfaatkan Hadrah Bawean sebagai salah satu sumber mata pencahariannya. Mereka membuat rebana, alat musik yang digunakan dalam Hadrah Bawean. Pembuatan rebana tersebut memberikan sejumlah uang yang cukup menjanjikan bagi para pengrajin rebana. Ketika Hadrah Bawean tetap berkembang, sebenarnya bukan hanya pengrajin rebana saja yang diuntungkan, akan tetapi juga mereka yang menjual bahan-bahan untuk membuat rebana. Para penjual kayu mahoni, kayu nangka, kayu jati, kayu mangga, kayu mimba, dan penjual kulit kambing betina yang merupakan para penjual bahan-bahan untuk membuat rebana pun juga ikut andil mengambil keuntungan dari berkembangnya Hadrah Bawean. Dalam sebuah media online (Indonesia Berprestasi), dijelaskan bahwasanya harga satu set rebana untuk hadrah buatan salah seorang pengrajin rebana di Bungah, Gresik seharga Rp 880.000.

Keuntungan dari segi ekonomis pun juga akan didapatkan para seniman Hadrah Bawean. Seni Hadrah Bawean biasanya dipentaskan pada setiap acara pernikahan atau hajatan. Pada setiap pementasan, para pemain seni Hadrah tentunya juga akan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalan dari pementasannya. Bukan tidak mungkin jika Hadrah Bawean pun juga dinikmati dan diminati oleh masyarakat luar Gresik. Sudah barang tentu pementasan ke luar Gresik upah yang didapatkan juga akan semakin bertambah banyak. Belum lagi jika ada yang mau belajar Hadrah Bawean atau Hadrah Bawean dijadikan sebagai salah satu kegiatan ekstra di sekolah, sudah barang tentu hal ini juga akan membantu perekonomian para seniman Hadrah Bawean.

Hadrah Bawean tidak hanya menguntungkan masyarakat Gresik dari segi ekonomi saja, akan tetapi juga dari sisi budayanya. Jika seni Hadrah Bawean tetap dikembangkan oleh masyarakat sekitar, harapannya para remaja Gresik juga akan lebih tertarik pada seni hadrah daripada musik barat dan hiburan negatif lainnya yang ditakutkan akan berdampak pada pergaulan yang kurang baik. Kota Santri pun akan tetap ada dan bukan hanya sekedar nama saja. Akan tetapi juga ditunjukkan dengan akhlak masyarakat Gresik yang identik dengan akhlak para santri.

Berdasarkan yang sudah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwasanya Hadrah Bawean memberikan banyak manfaat bagi masyarakat sekitar. Akan lebih baik jika Hadrah Bawean dipatenkan dan tetap dikembangkan. Pematenan ini bukan berarti Hadrah Bawean tidak boleh dinikmati dan diminati masyarakat luar Gresik. Pematenan ini hanyalah untuk tetap menjaga keaslian Hadrah Bawean sebagai kesenian lokal Gresik agar tidak diklaim oleh daerah lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menengok Harga BBM dan Cara …

Tjiptadinata Effend... | | 28 August 2014 | 18:04

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | | 28 August 2014 | 15:41

Foto Dicuri, Om Dedes Descodes Ngetop …

Widianto.h Didiet | | 28 August 2014 | 17:02

Masih Soal Final Piala Dunia 2014 …

Ahmad Khadafi | | 28 August 2014 | 16:28

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 7 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 13 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 14 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 16 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Perbedaan antara Cinta dan Nafsu …

Fikri At Tamimy | 9 jam lalu

Protes; Tayangan Marsha and Bear …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Yang Janggal di Drama Korea …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

Florence: di Mana Bumi Dipijak di Situ …

Ifani | 9 jam lalu

Hitam Putih Kopi Hitam …

Ibnu Hasan Sadeli | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: