| 21 January 2013 | 08:07269 Pembaca  |  0

Biarlah Jogja Tetap Menjadi Daerah Istimewa

Pagi ini ketika iseng melihat trending topic di twitter saya menemukan sesuatu yang menarik, bisa menebak apa yang saya maksud? ya, #IbukotaPindahJogja menjadi trending topic di pagi ini (21/01/2013).

Wacana pemindahan ibukota memang bukan lagi wacana yang baru, dari beberapa tahun belakang sudah santer terdengar. Tiap kali Jakarta mengalami musibah, pasti wacana mengenai pemindahan ibukota akan mencuat, habis itu terlupakan kembali. Presiden SBY sendiri berdasarkan informasi memang telah menyiapkan tim pengkaji dan pemindahan ibukota sejak 3 tahun terakhir.

Presiden SBY memberikan 3 opsi yaitu: 1. Ibukota, pusat pemerintahan dan pusat perekonomian (industri) tetap di Jakarta; 2. Ibukota dan pusat pemerintahan dipindahkan keluar daerah sedangkan pusat perekonomian (industri) tetap di Jakarta; atau 3. Ibukota dan pusat pemerintahan tetap di Jakarta dan pusat perekonomian (industri) dipindahkan keluar Jakarta. Begitu lah kurang lebih yang pernah saya baca. Sedangkan bapak Jokowi seperti yang dilansir kompas kemarin (20/01/2013) tidak memberikan pendapat mengenai wacana ini, beliau mengatakan akan fokus terlebih dahulu mengatasi musibah banjir ini.

Sedangkan bapak Jusuf Kalla melalui tribunjogja.com mengatakan wacana pemindahan ibukota ke daerah lain sebaiknya saat ini tidak menjadi prioritas utama, hal yang harus menjadi prioritas adalah perbaikan infrastruktur yang rusak dan membenahi infrastruktur untuk pencegahan banjir datang kembali.

Mengenai #IbukotaPindahJogja yang menjadi trending topic pagi ini ntah siapa yang memulainya terlebih dahulu, ketika saya search mengenai hastag tersebut ternyata menuai beragam pendapat dari masyarakat. Tapi sekilas saya melihat banyak yang tak setuju karena takut biaya hidup di Jogja semakin mahal, mungkin ini yang ikutan berkomentar banyakan mahasiswa dan anak kosan, hehe, saya hanya bergurau.

Ibukota sebelumnya memang pernah pindah ke Jogja dimasa pemerintahan Soekarno-Hatta, pemindahan ini dilakukan karena pada saat itu Jakarta (Batavia kala itu) mengalami situasi keamanan yang buruk untuk terus bertahan menjalankan pusat pemerintahan disana. Maka pada 4 Januari 1946, Soekarno-Hatta pindah ke Jogja sekaligus memindahkan ibukota. Pemindahan ke Jogja tersebut dilakukan dengan menggunakan kereta api yang dikenal dengan Kereta Luar Biasa, dikenal demikian karena kereta berangkat diluar jadwal biasa dengan mengangkut Presiden dan Wakil Presiden beserta staf-stafnya. Ketika itu Soekarno menilai Jogja lah yang paling siap menerima kemerdekaan Indonesia kala itu, siap disini adalah siap dari sisi politik, ekonomi, dan keamanan.

Pemindahan ibukota bukan lah perkara mudah, membutuhkan biaya yang tidak murah. Hatta Radjasa juga menilai bahwa pemindahan ibukota bukan hal yang sederhana, karena Jakarta sendiri telah diatur Undang-Undang sebagai ibukota negara, jadi diperlukan waktu dan proses yang panjang untuk prosesnya. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan.

Saya pribadi tidak setuju jika Jakarta dipindahkan ke Jogja, menurut pendapat saya Jogja cukup menjadi Daerah Istimewa dengan tradisinya yang mampu mengundang wisatawan datang kesana. Ntah kenapa saya tidak rela jika Jogja menjadi macet seperti Jakarta nantinya, hehe. Saya lebih setuju jika ibukota dan pusat pemerintahan atau pusat perekonomian (industi jika memang harus dipindahkan sebaiknya ke Kalimantan saja, alasannya adalah agar perkembangan daerah tidak hanya melulu terpusat di Jawa, selain itu Kalimantan juga dinilai merupakan pulau yang paling rendah resikonya dari bencana berdasarkan pengalaman sejarah. Itu hanya opini saya saja tanpa ada analisis mendalam.

Tapi apakah kita masih tetap meneruskan wacana pemindahan ibukota ketika nanti banjir telah surut dari Jakarta? Seperti biasa yang terjadi di Indonesia, wacana yang datang dari masyarakat biasanya hanya bersifat sementara, tidak untuk diteruskan karena kita seringkali sengaja melupakan dan bersikap acuh, hanya kritis ketika terjadi hal yang tidak menyenangkan. Ibukota memang sebaiknya dipindahkan, dan pemerintah seharusnya mulai serius melakukan kajian dan persiapan mengingat kondisi Jakarta sekarang yang rawan banjir, kondisi lalu lintas yang hampir tak pernah lepas dari kemacetan, kesemberawutan dan berbagai tindak kejahatan yang tinggi.

Komentar

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Hayu atuh Kompasianer Bandung,
urang sasarengan nyerat blog nganggo
Basa Sunda yu?

14 March 2014

wawangsalan

Teu beunang di hurang sawah, teu beunang di pikameumeut.Teu beunang di supa dulang, teu beunang di bebenjokeun.Manuk tukung saba gunung, uyuhan teuing nya diri.Imah ngambang di sagara, ulah kapalang nya ...
Nicolas Saduddin Komentar

14 March 2014

wawangsalan

Teu beunang di hurang sawah, teu beunang di pikameumeut.Teu beunang di supa dulang, teu beunang di bebenjokeun.Manuk tukung saba gunung, uyuhan teuing nya diri.Imah ngambang di sagara, ulah kapalang nya ...
Nicolas Saduddin Komentar

26 August 2013

Ngawangkong

Ieu artikel mung saukur ngawangkong,pedah weh teu boga ide keur nyieun tulisan. Ret kana Kompasiana katingali aya kanal nyunda,nya dumadak beut hayang ngeusian ieu rubrik. Rek ku saha deui atuh ngamumule basa ...
Idoey Thea Komentar