Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Ni Made Sri Andani

A marketer and a mother of 2 children. Having passion on gardening, art and jewellery. selengkapnya

Grafiti: Ekspresi Seni Jalanan

OPINI | 13 January 2013 | 19:40 Dibaca: 402   Komentar: 0   0

13580804501942172319Berada di kemacetan kota sering membuat kita tak mampu melakukan apa-apa, selain menghibur diri dengan menikmati apa yang ada. Salah satu yang cukup sering saya lakukan adalah melempar pemandangan keluar jendela kendaraan. Terkadang beruntung melihat lukisan atau gambar di tembok-tembok beton tol, pagar jalanan maupun pagar gedung atau rumah orang. Banyak yang cukup menarik, dengan ide-ide yang cukup brilliant, tarikan grafis yang bagus dan komposisi warna yang sangat menghibur. Namun sering juga kita hanya melihat gambar corat coret ala kadarnya, dengan maksud entah apa dan komposisi warna yang amburadul. Atau bahkan terkadang hanya coretan, ekspresi cinta si anu kepada si ani, slogan atau bahkan jeritan kepedihan hidup dan protes atas keadilan sosial yang tak kunjung datang. Tentu saja karya Grafiti ini masih belum bisa dikategorikan sebagai Mural, karena masih terlihat sangat sederhana baik dari sisi pengembangan grafis, tata warna, komposisi bentuk dan sebagainya.

Tentu saja banyak yang pro dan kontra terhadap pelaku grafiti ini. Yang kontra tentu saja menganggap bahwa pelaku grafiti ini merusak keindahan lingkungan dengan melakukan corat-coret yang tak bertanggungjawab, bahkan terkadang hingga merusak keindahan pagar orang lain. Saya pernah mendengar cerita seorang pemilik rumah yang terpaksa mengecat ulang pagar putihnya yang baru saja dicat kemarinnya, karena pagi harinya ia menemukan pagarnya telah penuh dengan corat coret grafiti yang tak bertanggung jawab. Tak jarang keindahan dan kebersihan fasilitas umum pun banyak juga yang terganggu oleh aksi corat-coret ini. Bahkan di batu-batu cadas bekas lahar gunung Batur di kampung saya juga banyak yang dicorat coret oleh pelancong, untuk mengekspresikan bahwa sang pelancong pernah sampai di sana. Sungguh aneh, jika kita lihat dari sudut pandang yang kontra.

Yang pro tentu menganggap bahwa Grafiti adalah sebuah wahana untuk melepaskan ekspresi dari jalanan. Dengan grafiti para kaum yang merasa tertindas dan terkucilkan secara sosial dan ekonomi, menemukan tempatnya. Mereka tidak pernah memiliki channel yang bisa mendengarkan aspirasi mereka. Punya ide yang tak pernah ada yang menampung. Punya jeritan yang tak pernah ada yang mendengarkan. Akhirnya Grafiti jalanan adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk berekspresi!.

Saya sendiri adalah seorang pencinta karya seni. Bukan pihak yang pro maupun kontra. Karena menurut saya, sepanjang ekspresi seni itu dilakukan dengan baik dan optimal serta tidak merugikan pihak lain, tentu itu adalah sesuatu yang bagus.

Ekspresi seni jalanan, jika dilakukan dengan baik bukan tidak mungkin menambah keindahan kota dan lingkungan sekitarnya. Misalnya thema yang jelas, dengan komposisi grafis dan colouring yang baik, tentu akan menghasilkan karya seni jalanan yang menarik.

Namun jika mencorat-coret fasilitas umum ataupun pagar rumah orang lain hanya untuk mengatakan “Ani I Love You” atau slogan jorok yang tak ada gunanya, tentu itu bukan perbuatan yang elok.

Berikut adalah beberapa garafiti yang saya sempat jepret gambarnya di tembok pagar, tepi rel kereta api di Poris, Tangerang. 135808060977824418 1358080600113744168013580805909103970971358080570617533203

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: