Sosial Budaya

Aditya Darmasurya

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Seorang WNI aja...^bingung mau bilang apa^

Ahok tidak Sempurna: Stop Fanatisme Buta!

OPINI | 10 November 2012 | 07:10 Dibaca: 4018   1

Siapa seh yang tidak senang dengan langkah-langkah konkret yang diambil Jokowi Ahok setelah terpilih jadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI? Siapa seh yang tidak bahagia bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur DKI menjadi harapan baru bagi warga DKI dan Indonesia pada umumnya? Kita semua pasti senang (dengan mengesampingkan urusan lawan politik ya), tapi jangan sampai kesenangan kita berujung pada fanatisme buta.

Beberapa hari ini saya amati di forum-forum yang menceritakan sepak terjang Jokowi Ahok, hampir seluruhnnya kalau tidak semuanya merupakan komen yang positif dan memang yang diberitakan merupakan berita positif juga. Namun, bagaiman jika yang diberitakan adalah berita negatif, sebuah berita atau informasi yang megutarakan kelemahan atau kesalahan Jokowi atau Ahok?

Baru-baru ini Peter F Gontha menulis surat terbuka untuk Ahok di Ahok dan BB.

Inti dari surat PF Gontha adalah kekecewaannya karena saat PF Gontha mempresentasikan idenya tentang pembatasan kendaraan berdasar warna, Ahok menginterupsi dan mengatakan penelitian tentang kemacetan sudah banyak tanpa merespon ide PF Gontha dan Ahok sibuk ber-BB ria, sambil “lo-gue”-nan dengan bawahannya.

Menurut saya Ahok seharusnya bisa menghargai PF Gontha karena PF Gontha adalah tamu dan juga warga negara yang ingin bertemu dengan pemimpinnya. Berhubung Ahok sudah mengiyakan untuk menerima PF Gontha sebagai tamu, maka harusnya pula beliau menghormati tamu. Apabila tamu yang sudah diijinkan untuk bertamu sedang berbicara hendaknya didengarkan. Apabila tamu itu sedang presentasi hendaknya diperhatikan, walaupun materi yang disampaikan sudah usang. Jangan bermain BB saat tamu datang dan berbicara kepada pemimpinnya.Perhatikan keluhan-keluhannya sebagai seorang warga daerah yang ingin berkeluh kesah dengan pemimpinnya. Kalaupun sang Wagub memiliki urusan penting sehingga tidak bisa tidak, harus disambi dengan mengetik BB atau menerima telepon atau berdialog dengan bawahannya, hendaknya beliau menginformasikannya terlebih dahulu dengan tamunya: “Pak, maaf, apabila pada saat bapak presentasi saya mohon interupsi sebentar karena saya ada urusan penting dan mendadak yang harus saya selesaikan cepat, mohon dimaklumi apabila pada saat bapak presentasi saya mohon izin untuk menerima telepon dan mengetik BB demi belrangsungnya kinerja pemerintahan”.

Selain itu, PF Gontha juga menyesalkan penggunan bahasa “Lo-gue” di gedung perkantoran, antara bawahan dan pemimpinnya, Ahok. Saya membenarkan penyeselan ini, apa sedemikian susahnya Ahok untuk berbicara Bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga harus ikut-ikutan arus jargon “lo-gue”. Bahkan bahasa bawahan pada atasan pun dengan “lo-gue”, sebuah adab berbahasa yang menurut saya tidak pas untuk diteladani di instansi formal.

Namun, ternyata PF Gonthalah yang mendapat hujatan dari kebanyakan anggota forum. Seperti di thread kaskus :

Ahok dan BB semua memaklumi.

Beberapa contoh komentarnya:

“kayak si peter gonta ini ga pernah liat klien atau orang yang diajak dia ngomong main bb aja

pembatasan mobil berdasarkan warna… nanti banyak yang beli cat pilox buat mobilnya

jelas dicuekin..ide sederhana ga istimewa dan tidak masuk akal kok mesti ditanggapin serius

cara cuekin kaskus baru gimana yah?

“Sedih amad pak botak, salah sendiri ide basi dan jelas gk masuk otak masih di bahas

“Ini sih apa pun hasil pertemuan Peter F Gontha dgn Ahok, tujuannya cuma satu yaitu supaya Peter F Gontha bisa show off dan narsis di media”

“Peter F gontha mewek2 soal ahok??? so what gitu loh…..”

“cool deh buat koh Ahok
Simple tegas berwibawa kaga neko2 no lebay…yang gak penting kesampingkan saja dah

“usulan sederhana seperti itu, si ahok musti bilang “WOW” gitu?

ya jelas di cuekin lah. bawahan2 nya dia yang hobi kaji ini itu, juga udah ngasih saran yang mirip2 kek si gonta.

truskan perjuangan mu ahok. klo ente nyapres, gw bakal milih elo. dari pada si haji lendir.”

Beberapa komentar di The Jakarta Globe:

“my question to Mr.PG :

1. u are not happy and very unsatisfied when u meet pak ahok for some reason, but after that u also complain by writing this letter n complain in twitter, so what is the diffent between u and him? are u better than him? u build a public opinion about him, and my simple opinion u are not better than him.

2. how if when he busy typing message using bb and actually he just reply bbm from poor people in jkt who need his help?

3. what is the standard office or protocol for deputy gov? is it must be like military camp or like a buckingham palace?

or maybe the staff need to call pak ahok as a yang mulia?

4. why the small issue like this u blow up to media and looks like u want to all people in the world know about this?

Pak PG tanpa mengurangi respek terhadap Bapak, i have to said this is dangerous Pak.

hahaha..that’s the dumbest thing I’ve ever heard!

It’s like Marie Antoinette telling the poor peasants to eat cake during the flour shortage ( at least she’s much better looking than Mr. Gontha ).

Note to Mr. Gontha :

You’ve been presenting the idea since 2010, and it never took off. It means that the idea sucks !! Get over it, and stop whining.

Long live Basuki and Jokowi !!!!”

Saya tidak begitu tahu siapa PF Gontha, yang saya tahu dia seorang bos, orang kaya, miliarder yang ingin bertemu dengan Ahok dan sudah diterima oleh Ahok. Setiap orang, baik miskin maupun kaya, yang sudah diterima sebagai tamu oleh sang pemimpin, hendaknya sang pemimpin itu menghormati tamunya tersebut. Walaupun kita bukan pemimpin, kita pun juga harus menghargai orang yang bertamu ke rumah kita maupun orang yang sedang berbicara kepada kita. Jangan sibuk ber-BB, ber-SMS, ber-telepon ria saat orang berbicara dengan kita. Bila memang perlu interupsi untuk keperluan-keperluan tersebut, komunikasinlah, minta izinlah kepada lawan bicara Anda. Dan yang terpenting, stop fanatisme buta, jangan menghujat orang yang memiliki visi berbeda dengan idola kita!

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta