Sosial Budaya

Heri Purnomo

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Awal tiada akan kembali kepada ketiadaan. Karena hanya SATU yang sesungguhnya ADA.

Jokowi Di Tengah Proses Dan Tuntutan Hasil Kerja

OPINI | 08 November 2012 | 18:10 Dibaca: 947   2

Di media-media sosial seperti detik.com, kompas.com dan juga kompasiana.com sering penulis membaca komentar-komentar warga yang tidak sabar menuntut hasil kerja Jokowi-Ahok agar segera terlihat. Mereka bahkan menuding apa yang dilakukan Jokowi saat ini dengan ‘blusukannya’ sebagai pencitraan belaka. Selain para komentator-komentator yang diperkirakan sebagai pendukung Foke-Nara di masa-masa kampanye pilkada lalu, juga tak mau kalah para pejabat yang berada di kubu Foke-Nara turut melabeli kinerja Jokowi sebagai politik pencitraan. Amat disayangkan, sikap tersebut menurut hemat penulis lebih sebagai cerminan ketidaksportifan atau tidak legowo menyikapi hasil pilkada, dan juga tidak menutup kemungkinan adanya rasa iri hati atau juga ketakutan akan hadirnya sosok pemimpin yang bersih dan berani. Tentu ini bisa menjadi batu sandungan atau ancaman terhadap masa depan para politisi yang tidak bersih di kemudian hari.

Berbicara tentang proses, dalam agama  mengajarkan bahwa Tuhan menilai manusia itu dari prosesnya bukan dari hasilnya. Apakah proses yang dijalani manusia itu baik atau buruk, sesuai rambu-rambu yang ditentukan Tuhan atau tidak? Apakah hambanya itu sudah bekerja sungguh-sungguh apa belum? Tuhan tidak pernah menanyakan berapa banyak orang yang sudah kamu ajak ke dalam kebaikan, berapa jumlah orang yang sudah kamu tolong, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menuntut hasil suatu pekerjaan. Nah, kita sebagai manusia tentu tidak adil bukan jika selalu menuntut hasil pekerjaan orang lain, apalagi dengan sikap pongah dan menginginkan hasil cepat, atau ‘dalam hati’ justru menginginkan pekerjaan itu gagal sehingga bisa mengolok-olok dengan bersorak sorai. “Horeeee… apa kubilang, gagal kan? Emangnya gampang jadi gubernur? Bener kan pencitraan?” Mungkin kata-kata itu akan keluar jika Jokowi-Ahok gagal memperbaiki Jakarta.

Mengapa kita tidak fokus terhadap proses yang dilakukan oleh Jokowi-Ahok, dan sebagai warga Jakarta tidak seharusnya menuntut sambil berpangku tangan saja. Alangkah baiknya jika tuntutan itu diimbangi dengan dukungan sebagai warga Jakarta, misalnya dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat, berkendaraan di jalan dengan taat dan tidak melanggar peraturan lalu lintas. Mungkin hal-hal yang nampak kecil itu akan menjadi sebuah dukungan yang besar jika dilakukan oleh setiap warga Jakarta, karena hal-hal yang nampak kecil itu adalah bagian dari program-program yang dicanangkan Jokowi-Ahok untuk Jakarta Baru.

Sulit kita memungkiri, saat ini Jokowi-Ahok telah memperlihatkan kesungguhannya bekerja. Lepas apakah nanti berhasil atau tidak, tentu kinerja yang luar biasa yang beliau lakukan di awal-awal kepemimpinannya ini patut diapresiasi. Jika pun perlu dikritik, bisa disampaikan dengan baik kepada Jokowi-Ahok. Bukankah tempat dinasnya di balaikota sangat terbuka untuk siapa saja? Bahkan nenek tua yang miskin pun diterima dengan baik oleh beliau. Hal yang tak kita temui pada pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Jadi, alangkah baiknya jika kita cukup memantau proses kerja pemimpin baru Jakarta ini. Jika prosesnya keluar dari jalur, misalnya tidak terbuka, korupsi, atau tidak berpihak kepada kebenaran, tidak adil, itulah yang patut kita sampaikan ke Jokowi-Ahok untuk diperbaiki. Kita bisa tuliskan  juga di kompasiana misalnya, apa langkah Jokowi-Ahok yang sudah melenceng, sangat baik untuk disampaikan sebagai teguran dan kritik membangun dari rakyat terhadap pemimpin yang dipilihnya.

Jika semua sudah berjalan dengan benar, tinggal kita lihat hasilnya. Proses yang baik lebih banyak menghasilkan output yang baik, demikian juga sebaliknya. Dan jika pun proses sudah dijalani dengan baik, namun hasilnya tidak sesuai harapan tentu tidak serta merta kita hakimi sebagai kegagalan. Barangkali hasil yang baik itu masih tertunda, atau ada hal-hal yang terlewatkan dan baru disadari saat dilakukan evaluasi, atau mungkin diperlukan kesabaran semua pihak untuk tetap berproses dengan baik sambil tetap optimis untuk hasil yang terbaik.

Semoga, dan selamat bekerja untuk Jokowi-Ahok. Semoga tetap dikaruniai kesehatan dalam mengemban amanah. juga senantiasa menjaga komitmen sebagai pemimpin yang bersih, berani dan mengayomi.

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta