Back to Kompasiana
Artikel

Sosial Budaya

Fandi

Dilahirkan di mamasa, sulawesibarat, putra ke 2 dari 4 bersaudara, saat ini saya menempu pendidikan selengkapnya

Pelacuran Seumur dengan Peradaban Manusia

OPINI | 06 November 2012 | 16:22 Dibaca: 99   Komentar: 0   0

Pelacuran

Tak asing di telinga bagi kebayakan masyarakat Indonesia, namun apakah ketidak asinganya menjadikan hal ini etis. Ketidak asingan meraka karena hal ini menjadi sebuah masalah social yang kemudian tak luput dari perbincangan masyarakat. Sebelum saya membahasa lebih jauh ada baiknya saya memberika pengertian tentang pelacuran itu sendiri, pelacuran itu berasal dari bahasa Latin “Pro-stituere atau Pro-staueere” yang berarti membiarkan diri berbuas zinah, melakukan persundalan, pencabulan,  atau dikenal juga dengan istilah WTS (Wanita Tuna Susila). Tuna susila si artikan juga sebagai kurang beradab karena keloyalan relasi seksualnya, dalam betuk penyerahan diri pada laki-laki untuk pemuasan seksual, dan mendapatkan imbalan jasa atau uang bagi pelayananya.

Tak dapat disangkal jika dikatakan bahwa pelacuran itu adalah “profesi”,  karena ini merupakan tingkah laku yang bebas, lepas tampa kendali dan cabul, karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenis tampa mengenal batas-batas kesopanan. Dapat pula di general bahwa pelacuran selalu ada disetiap Negara berbudaya, sejak saman purba sampai sekarang. Dan aku blang ini senantiasa menjadi masalah social, atau menjadi objek urusan hukum an tradisi. Dalam profesi pelacuran juga dari jaman ke jaman semakin berkembang juga tingkatan dan bentuknya, ini yang kemudian menjadi pemicu sehingga pelacuran menjadi sumber pencaraian, jika ia menjadi sumber mata pencaharian, maka jangan menuntut hal ini akan hilang melainkan akan tetap tumbuh berkembang, tak salah jika saya katakana ini menciptakan ketrgantungan atas keloyalan mereka utnuk hidup, lagi pula nafu seks tak akan pernah surut ia menjadi salah satu hakikat manusia. Ya meskipun hal banyak melanggar nilai-nilai dalam masyarakat, misalkan agam adat, namun apa yang menjadi benang merahnya, adalah bahwa hal ini pahtologi (penyimpangan).

Perspektif  Peradaban

Dalam buku yang say abaca 2 tahun yang lau, mengingatkan saya tentang awal mulanya pelacuran ini, harus diketahui bahwa hal ini umurnya sepadan dengan umur kehidupan manusia. Tampaknya, pada masa lampau pelacuran ini mempunyai koneksi dengan penyembahan dewa-dewa dan upacara-upacara keagamaan tertentu. Pelacauran ini tidak hanya di tolerir saja akan tetapi ada praktek-praktek keagamaan yang menjurus pada perbuatan dosa dan tingkah laku cabul, tidak bedanya dengan kegiatan pelacuran. Pada zaman Mesir kuno, Phunisia,Assiria dan Persia, disertai dengan pesta Orgie (orgia) adalah pesta kurban pada para dewa, khusunya pada dewa Bacchus, yang terdiri atas upacara kebaktian penuh rahasia dan sifatnya sanga misterius. Disertai dengan makan rakus-rakusan dan mabuk-mabukan secara berlebihan, dan ketika meraka telah mabuk mereka juga mengunakan obat-obatan pembangkit dan perangsang gairah nafsu untuk melampiaskan hasrat bersetubuhsecara terbuka. Hingga pada jama itu kuil-kuil yang ada di beberpa Negara menjadi pusat perbuatan cabul. Namun aq membayangkan awal mula peradaban di Indonesia tentang pelacuran itu seperti apa, penulis dengan segenap hati mengatakan aku tidak tau awal mulanya dari mana, apakah ia muncul hanya tiba-tiba dengan berpedoman pada media, atau kan juga kemungkinan ada peradaban yg sama di bangun di beberapa Negara yang saya uraikan di atas, namun kesimpulan yang bisa kita tarik adalah bahwa pelacuran juga ada di Indonesia.

Lalu timbul pertanyaan dalam benak saya, lalu apa yang melatar belakangi pelacuran itu,? Bagi banyak tokoh mengatakan bahwa pelacuran di karenakan adanya kecenderungan diri pada banyak wanita menghindarkan dari kesulitan hidup, dan mendapatkan kesengan melalui  “jalan pendek”, kurang pengertian, kurang pendidikan dan buta huruf, ini adalah asumsi bagai banyak orang. Bagi saya bahwa juga yang menjadi pemicunya adalah aspirasi materil yang tinggi pada diri wanita dan kesenagan ketamakan terhadap pakaian-pakaian indah perhiasan mewah. Ingin hidup bermewah-mewah, naun malas bekerja,  dan juga saya menduga bahwa anak-anak gadis yang terlalu di kekang oleh norma-norma susila, akhirnya mereka memberontak terhadap otoritas seksnya. Juga daam disukusi saya dengan banya teman-teman bahwa salah satu yang melatar belakangi adalah pada masa kanak-kanak, pernah melakukan relasi seks, atau suka melakukan hubungan seks sebelum perkawinan  (ada pre-marital sexrelation) untuk sekedar iseng atau menikmati “masa indah” di saat muda, atau juga sebgai symbol keberanian dan kegagahan telah menjelajahi dunia seks secara bebas dengan pemuda-pemuda sebaya, akhirnya terperosoklah mereka ke dalam dunia pelacuran.

Partisipasi para Pelacur

Emmm disarming efek-efek buruk dan mendemoralisir yang ditiumbulkan oleh parah pelacur

9disfungsi dari para pelacur) mereka menjadi sumber eksploitasi bagi kelompok-kelompok tertentu, khusunya mereka itu juga memberika partisipasi social dan ekonomi.

Mungkin  agak kurang nyaman kedengaran jika saya bicara tentang partisipasi soasial dari hal ini, namun yah inilah yang terjadi, kura dari 30 % dari para pelacur terutama dari kelas menengah dan kelas tinggi  mempunya pekerjaan sebagai kedok penutup, misalnya sebagai sekertaris, juru ketik, pelayan took, bar, disko, rumah makan, resepsionis hotel pegawai penginapan dan hotel dll. Pada umumnya mereka itu membenci pekerjaan atau malas bekerja, kalau malam mereka giat hehe siang hari lebih suka tidur dan bersantai-santai. Mereka memberikan jasanya dalam bentuk pelayanan seks hiburan pengisi waktu kosong kepada kaum laki-laki iseng, misalkan kepada kaum pedagang, penjudi, anggota tentara,  pelaut, pengemudi, politisi, dll. Juga memberika kehangatan cinta pastinya hehe. Banyak juga pelacur-pelacur cantik dipakai sebagai alat pelacur dalam bisnis, politik dan spionase, tak hanya berpartisipasi dalam ranah social namun juga ekonomi sumbangan keuangan yang dibetikan para pelacur itu kepada macam-macam pihak. Khusunya kepada mucikari atau madam-madam/mami-mami paling tidak mendapatkan kira-kira 1/3 -1/2 dari penghasilan bersih para pelacur. Pihak lain yang ikut mendapatkan adalah pengemudi-pengemudi taksi mislkan  tukang-tukang ojek, becak daokter, mantra-mantri para penegak hukum, hakim, polisi pengacara, aborsionis atau ahli menggugurkan kandungan, calo-calo dll

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 8 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar dari Sebatang Pensil …

Abukhalid Andayonk | 8 jam lalu

Separo Hatimu Milikku …

Wahyu Saptorini Ber... | 8 jam lalu

Ketika Daycare Menjadi Sebuah Pilihan …

Ulihape | 8 jam lalu

Academy Award dan Pelantikan Anggota DPR …

Rafa Mufida | 8 jam lalu

Strees, Menyebabkan Atau Disebabkan? …

Ahmad Fiqhi Fadli | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: