Sosial Budaya

Indra Hutapea

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

yakinlah bahwa hidup ini indah

Ibu Kota Jakarta

OPINI | 14 May 2012 | 03:47 Dibaca: 193   0

Beropini tentang Jakarta bagi saya merupakan suatu hal yang agak menakutkan. Meskipun sejak lahir saya tinggal di Jakarta, tetapi saya amat terbilang muda untuk beropini tentang Jakarta, karena memang baru 20 tahun saya hidup di Ibu Kota dari Negara Indonesia ini. Dulu saat SD saya mendapatkan mata pelajaran khusus tentang Jakarta, yang menjelaskan tentang Keragaman budaya dari Ibu Kota Jakarta namanya PLKJ (Pendidikan Linkungan Kesehatan Jakarta). Saya sering bertanya kepada orang tua (kakek2x/nenek2x) ditempat tinggal saya “Dulu disini seperti apa?” mereka pun menjawab seperti ini, “Dulu itu rumah kamu masih kebon pisang, di sana kebon pepaya, belum ada rumah bertingkat, kalau subuh ramai2 ke masjid, disana rumah keturunan belanda, pokoknya masih asri, nyaman dan aman de..”. Sering juga mendengar celotehan dari bapak/ibu guru plus buku tentang sejarah berdirinya Jakarta, dimulai dari hari jadinya (1527) bernama Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga mendapatkan nama resmi “Jakarta”.

Saat ini rasanya kalau kita berbicara tentang sejarah jakarta “Jakarta Tempo Dulu” rasanya sudah basi, lho kenapa? Karena cerita tentang “Jakarta”Tempo Dulu” telah memiliki banyak arsip diberbagai media diseluruh Indonesia termasuk di dunia (Ensklopedia, dan Wikipedia).

Jakarta Sekarang itu seperti apa?

Pertanyaan yang dibilang sepele, tapi menimbulkan banyak jawaban dan menimbulkan perbedaan (Banyak macamnya). Jakarta itu sumber penghasilan, tempat yang tepat untuk menghasilkan banyak uang, itu kata mereka para pebisnis dan para eksekutif perusahaan di Jakarta. Jakarta itu serba ada dan memiliki banyak tempat hiburan, itu kata mereka para kaum borjuis. “Jakarta itu tempatnya orang gedongan, kalau kamu kesana pasti kamu bakalan kaya” itu kata mereka orang-orang yang tinggal didesa. Dan masih banyak kata-kata lain yang akan keluar dari mulut mereka.

Jakarta memang memiliki warna-warna kehidupan, layak Ibu Kota di setiap Negara. Artinya mau cari apa saja ada, orang berkulit hitam atau putih. Orang Jawa, Batak, Nias, Manado, Ambon, Papua pun banyak. Bahkan orang Negro, Australi, dan China pun banyak. Cari tempat hiburan, berupa mall, diskotik, spa, gym, billyard sudah ada dimana. Sekali lagi semuanya serba ada!!

Tetapi pembodohan dan kebohongan tentang Jakarta pun lebih banyak. Jakarta sebagai kota yang tertib, bersih, aman, damai, nyaman dan asri itu sepertinya sudah tidak layak dikenakan bagi Ibu Kota Negara Indonesia.

Jakarta sudah menjadi Ibu kota yang tidak lagi bersih, yang artinya jakarta memiliki banyak tumpukan sampah - Kalau tidak percaya, pergi dan tengoklah pintu air kali ciliwung yang berada di manggarai sana. Asri itu bukan lagi Jakarta, karena memang jakarta sudah dipenuhi dengan asap kendaraan yang menimbulkan polusi dimana-mana - Jika anda tidak percaya, sisakan waktu siang hari anda untuk mengelilingi kota Jakarta. Rasanya salah kalau kita bercermin tentang ketertiban di Jakarta, karena ketertiban tidak diakui di Ibukota jakarta, lihatlah cara penduduk jakarta untuk membuang sampahnya.

Tidak hanyak itu, kini Jakarta di cap sebagai Ibu kota yang “Keras”. Memang nyatanya seperti itu, kekerasan sudah mendarah daging di Ibu kota Jakarta. “Jangan hidup diJakarta, kalau anda tidak suka dengan kekerasan” sepertinya itu sebuah quote yang tepat untuk orang yang ingin tinggal di Jakarta. Pemerkosaan, Pelecehan, Pencurian, dan Penipuan merupakan sederet tindakan yang setiap hari tidak pernah absen dari liputan media, tentang Ibu Kota Jakarta.

Itulah secuil sisi cacat dari dimensi kebaikan Ibu Kota Jakarta. Belum lagi kalau kita fikirkan tentang mereka wakil rakyat di senayan sana yang sedang asik berbagi proyek “oper duit sana-sini”, tetapi rakyat diluar sana menderita akibat sistem perekonomian dan transportasi yang buruk. Apalagi kalau kita lebih membuka mata hati dan telinga kita, kalau masih banyak para penduduk jakarta yang mengemis dan menjerit kesakitan - tentang kerasnya sebuah Ibu Kota Negara Indonesia.

Sebenarnya masih amat sangat panjang kalau dideskripsikan “seperti apa dan rasanya Jakarta”, kalau digambarkan bagaikan “benang kusut dengan banyak warna”. Kini jakarta berumur 482 tahun, yang artinya selama 482 tahun jakarta terus menerus berkembang. Tentunya setiap orang mengharapkan Jakarta kearah yang lebih baik, lebih canggih, dan selalu lebih unggul dari ibu kota negara lainnya. Bukan lagi ibu kota negara yang selalu mengukur sesuatu dengan “materi”, bukan lagi Ibu kota yang menelantarkan para penduduknya, dan tentunya diharapkan bukan lagi kekerasan yang dimiliki Jakarta. Terakhir yang dibutuhkan bukan berupa janji dari sang pemimpin Ibu kota, tetapi sebuah bentuk nyata yang dapat dilihat, dirasa, dan tentunya berguna untuk Jakarta. Perlu diingat, ingin membangun jakarta atau kembali menjajah jakarta?

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta