Potensi Wisata

Dari Purwokerto ke Jakarta

OPINI | 19 May 2013 | 12:12 Dibaca: 362   0

Hari Sabtu sore minggu lalu,  saya menerima berita melalui Whatsapp yang dikirim oleh teman asal Purwokerto. Beritanya singkat, hanya minta  dijemput jam 3 pagi di station kereta api Senen.
Seperti pertemuan sebelumnya, teman yang keren ini selalu memberikan jabatan tangan.
Ciri khas yang diucapkan oleh teman saya itu adalah “Bond…. James Bond”

Memang teman ini selalu bergaya James Bond, karena itu saya juga memanggilnya James Bond From Purwokerto.
Sosok artis ini juga penulis di kompasiana dan juga berteman dengan bapak Singgih.

Seperti biasanya James Bond yang mempunyai tugas khusus dan mempunyai lisensi untuk membunuh, kalem dan selalu santai.
Demikian juga teman saya ini., mengginap di hotel mewah dan pagi hari berenang sebelum tugasnya.

Untuk tidak di ketahui kedatangannya, teman saya ini menyamar sebagai turis lokal.
Seperti dalam film James Bond, kali ini teman saya juga menunggu pasokkan alat alat canggihnya.
Kami ketemu dengan seorang TIM ahlinya di suatu tempat dan kami langsung menuju Taman Mini Indonesia Indah.

Di TMII saya tidak paham tentang apa yang mereka berdua lakukan, semua titik titik penting budaya di abadikan dengan kamera khusus.
Dan dari sekian lokasi di TMII yang paling banyak difoto adalah di museum suku ASMAT di Papua.

Waktu sangat cepat sekali, saya hanya termenung tentang apa yang mereka foto.
Tidak seperti biasanya orang turis mengambil foto.

Tanpa meninggalkan jejak kehidupan, langsung saya harus antar ke hotel mewah dengan segala barang barang berteknologi tinggi dalam ransel yang sangat besar. Untung saja ransel itu tidak meledak di mobil saya.

Saya agak lupa urutan liputan dari teman saya ini, tetapi yang pasti lokasi wisata Kota Tua Batavia, Monas, beberapa mall mewah, rumah makan mewah.
Semua itu di datangin da nada yang diajak bicara oleh teman saya tanpa saya bisa dengar pembicaraan tersebut.

Yang membuat saya takut adalah diskusinya teman saya di Monas dengan para tim mobil lapangan yang mempunyai satelit.
Mobil itu bisa pancarkan berita melalyi mobilnya ke seluruh dunia.
Wah gawat teman saya ini.
Jangan jangan saya nanti bisa masuk siaran berita di TV.

Kadang sayapun menjadi takut bila harus antar ke lokasi yang sangat strategis dengan penjagaan keamanan yang sangat ketat. Sebut saja di daerah perkantoran super mewah Casablanca dan sekitar perkantoran Bursa Efek Jakarta.
Sungguh ngeri melihat teman saya bawa ransel hitam besar.

Setelah satu minggu di Jakarta dan mengamati daerah Bisnis strategis maupun pusat wisata, maka kedua teman saya ini minta diantarkan ke Taman Bunga Nusantara di Cipanas.
Dan lagi lagi, sayapun menurut perintah saja, karena saya paham bahwa teman saya ini mempunyai lisensi untuk membunuh.

Dari Jakarta kami berangkat jam 03.30 menuju Puncak Cipanas ke Taman Bunga Nusantara.
Di Cipanas, kami makan bubur pagi untuk mengisi perut yang masih kosong dan udara dingin.

Yang membuat saya heran adalah, permintaan melihat lokasi Villa mewah yang komplek nya sudah tidak terawat alias seperti rumah hantu. Sungguh mencekam mengantarkan teman saya ini.
Belum juga saya paham tujuannya melihat lokasi villa mewah ini, sayapun diperintahkan langsung saja menuju Taman Bunga Nusantara.

Tiba di Taman Bunga Nusantara sekitar jam 07.45 dan harus menunggu jam operasionalnya jam 08.00.
Lagi lagi kedua teman saya ini membuat keanehan.
Dari jam 08.00 sampai jam 13.30 hanya berputar putar saja dengan kamera canggihnya.
Bukan kamera biasa, katanya kamera inframerah pendeteksi panas.

Bukan untuk alat fotografi tetapi alat pendeteksi panas yang dikeluarkan mahluk hidup atau mesin.
Setiap yang difoto, selalu dibawa ke hotel dan tiap hari dibahas dalam rapat bersama.
Sungguh luar biasa tugas mereka.
Peralatan sangat canggih, kecil dan berharga ratusan juta rupiah.
Hasil fotonya tidak dalam bentuk gambar tetapi semua dalam bentuk data digital.

Tidak mengertilah saya ini, pokoknya antar kemana mereka butuh data penelitian.

Sampai suatu saat, saya hilang akal.
Tidak tau lagi saya harus antar kemana di Jakarta ini.
Dan saya pun mulai lapar dan saya mnengajak anak saya yang juga menulis di Kompasiana.

Saat itu, teman saya mau foto citra pemanasan global di Banjir Kanal Timur, maka saya ajak kesana.
Dan disana kebenaran ada kesukaan saya untuk makan enak, menurut saya sangat enak.

Kami semua turun dan makan di pinggir jalan.
Heran pula saya melihat teman saya yang bercira khas James Bond ini.
Saya kira sedang mengamati gedung salah satu partai berkuasa saat ini.
Terpikir oleh saya, apakah teman saya ini dikirim oleh partai yang gedungnya disamping tempat makan kami itu?
Ternyata tidak. Ternyata saya salah menduga.
Teman saya bukan memandang gedung partai tetapi tertengun bahwa kita makan disamping penjual kambing.
Memang lokasi warung makan kami ini di pinggir jalan dekat gedung partai dan disamping penjual kambing.

Setelah menunggu pesanan dan diantarkan oleh pemilik warung, teman saya tidak mau makan.
Saya agak sungkan karena teman saya tidak mau makan tetapi berulang ulang difoto terus.
Dengan alat kecil berharga ratusan juta rupiah dan menampilkan data data spesifikasi serta jumlah panas objek yang difoto.

Setelah kamera inframerah itu mengeluarkan signal bunyi alarm dan lampu hijau berkedap kedip maka tandanya makanan itu boleh dimakan.
Kata teman saya, makanan setelah di scan dengan alatnya dan hasilnya layak dimakan manusia.
Pusing saya melihat pola kerja dan pola makan teman saya ini.
Semua makanan harus di foto dan dianalisa oleh alat kecil itu.

Sampai kedua teman saya pulang, ternyata saya baru tahu.
Mereka datang ke Jakarta, menginap di hotel mewah serta membawa alat canggih ratusan juga.
Ternyata hanya mencari sumber energy untuk manusia.
Sumber makanan ber-protein tinggi dan murah meriah.

Dan sekarang saya baru paham, mereka mencari IKAN GABUS PUCUNG.
Luar biasa senangnya teman saya setelah berhasil makan ikan gabus pucung.
Dan yang saya tidak sangka, bahwa kedatangan teman saya ini dari Purwokerto ke Jakarta hanya untuk mencari makanan bergizi tinggi.
Dan ketemunya di pinggir jalan dalam bentuk menu IKAN GABUS PUCUNG.

” Nikmat dan berkesan “
Hanya kalimat itu yang saya terima melalui Whatsapp setelah teman saya berangkat pulang dari station kereta api Senen menuju Purwokerto.

Mungkin saat ini teman saya dengan kereta menuju Purwokerto hampir melewati Klender dimana lokasi warung ikan gabus pucung itu.
Bisa bisa teman saya yang mempunyai lisensi untuk membunuh akan memaksa masinis kereta untuk berhenti dan menunggu temanku makan ikan gabus pucung.

Itulah sekilas kunjungan teman saya dari Purwokerto yang telah datang dua kali ke Jakarta dan telah hampir melihat 80 persen kota Jakarta.

Semoga teman saya tiba tepat waktu di Purwokerto.
Salam dari Jakarta untuk James Bond From Purwokerto

1368938493761898191

Dua turis lokal dari Purwokerto. Foto milik pribadi

1368938585781940693

Turis lokal dari Purwokerto. Foto milik pribadi

1368938747702375205

Turis lokal dari Purwokerto. Foto milik pribadi

Kita ke Museum Asmat yuk….
Bagus budayanya dan ramah yang menerima kedatangan kita.
Juga bisa berfoto disana dengan indah.

1368938867154930028

Turis dari Purwokerto. Foto milik pribadi

1368939021373236617

Bergaya James Bond dengan kamera laras panjang. Foto milik pribadi

1368939159797101462

Turis lokal dari Purwokerto

Inilah foto foto teman saya.
Teman yang satunya harus ikut seminar yangs angat padat tentang teknologi canggih inframerah sebagai alat deteksi panas untuk proteksi mesin produksi.
Bila ada waktu senggang maka kita jalan jalan wisata .

1368940153184348330

Bunga di Taman Bunga Nusantara. Foto milik pribadi

1368940252514540395

Bunga di Taman Bunga Nusantara. Foto milik pribadi

1368940311802583550

foto milik pribadi

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta