Potensi Wisata

Ihcan Vanjava

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

visit aja facebook: http://www.facebook.com/mazihcsaannc?ref=tn_tnmn twitter: @IHCANvanJAVA

Gunung Talang-Surga di Barat Sumatera

REP | 02 April 2013 | 01:17 Dibaca: 26   0

136481496853343642136481496853343642

JAMBI-SUMBAR EXPLORE 2012

(G kerinci, G Tujuh, G Marapi, G Talang, G Singgalang, G tandikek)

2-9 JULY 2012

“KPA-PUDJAKUSUMA”

Jambi-Sumbar Explore 2012 merupakan sebuah perjalanan pendakian gunung-gunung di wilayah yang meliputi Provinsi Jambi dan Sumatra Barat, yang antara lain terdapat 6 buah gunung yang di antaranya masih aktif. Kegiatan ini merupakan kegiatan mandiri yang kami lakukan, guna untuk mengexplorasi kekayaan alam yang terdapat dari beberapa gunung tersebut, tidak hanya dari segi geografis, estetika alam, serta kultur dan sosiologis.

Pendakian ini awalnya didasrkan dari perasaan suntuk, serta bosan karena aktifitas kampus yaitu setelah KKN, dimana sangat memberikan dampak yang sangat berat bagi otak saya, sehingga muncul dipikiran saya yaitu setelah selesai masa KKN akan segera memulihkan segala kejenuhan, dengan kembali menapaki gunung, menyegarkan jiwa dan raga, inilah cara saya untuk mengobati itu semua, yang pastinya tiap orang mempunyai cara berbeda untuk melepaskan kejenuhanya.

Pendakian beberapa gunung saya lakukan untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan dengan mendaki gunung-gunung yang lain, yang tentu saja memberikan suasana yang baru, dan tentunya medan yang baru pula.

Anggota pendakian merupakan sebagian besar merupakan PUDJAKUSUMA, atau yang kita kenal Putra-Putri jawa kelahiran sumatra. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan buat teman-teman dan sahabat yang lain untuk ikut, di antaranya adalah salah
seorang Mahasiswa jogja kelahiran sumatra. Untuk kedepanya, kami memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk ikut serta dalam kegiatan ini, untuk kalangan siapa saja, dari mana asal anda, apapun bendera dan warna kulit anda, mari kita explorasi kekayaan alam di bumi kita indonesia ini.

Bagi kami, mendaki gunung bukan hanya untuk mencari kepuasan hati, tetapi lebih dari itu yaitu Mencari jati diri, mendekatkan diri kepada Illahi dengan menikmati, dan melestarikan alam yang indah ini. Meskipun kami hanyalah pendaki amatir, tampa pendidikan khusus, tapi kami mempunyai semangat untuk belajar, belajar menjadi pendaki yang sesungguhnya. Disamping itu, meskipun kami belum berpengalaman tetapi semangat yang kuat tetap menjadi energi terkuat.

Karena Jambi-Sumbar merupakan jalur sentral penggunungan di pulau sumatra, jika kita berada di atas puncak Kerinci, Talang, Merapi, merupakan satu kesatuan titik yang hampir sejajar, ketika kita berada di puncak merapi, kita dapat melihat puncak talang, ketika kita berada di puncak talang kita dapat melihat marapi dan kerinci yang Gagah menjulang, menopang pulau sumatra ini.

Berikut adalah segumpal cerita, yang tentunya tidak akan pernah kami lupakan meskipun penuh dengan coba dan tawa, tapi itulah pendakian memberikan rasa yang berwarna. Karena, pendakian gunung merupakan satu cerita yang paling indah dalam hidup anda.

Untuk Kalian Peserta, sahabat-sahabat pendaki yang sempat bertemu ketika mendaki, antara lain:

* Edi Tri Sutrisno (fb:Hamda Utama)

* Mochamad Yusuf (fb:Mang Ucup)


* Aldo Andria Leka (fb: Aldo Andri Leka)

* July (fb: July Van Jawa)

* Toni Ginanjar (fb: Toni Vahtonnie )

* Kentus/Pepy d’explorer

* Ihcan Van Java

* Rio Saputra (G,talang)

* Arnof(G.Talang)

* Sahabat pendaki Gunung Talang

* Ilham Nasution (Marapi, Pasaman)

* Dll,

Sebelum pelaksanaan kami tentu saja mengadakan perencanaan yang sangat matang, agar kegiatan ini dapat berjalan sesuai rencana. Kami menghubungi segenap peserta, baik yang terdapat didalam maupun diluar kerinci. Tentu saja, untu menyiapkan peralatan yang harus disiapkan seelum melaksanakan pendakian.

Awalnya semua peralatan telah tersedia, kami menemukan masalah dalam hal Tenda, kebetulan saat ini kami belum mempunyai tenda, jadi salah seorang calon peserta dari sumbar menyanggupi untuk menyediakan tenda. Tentu saja hal itu memberikan ketenangan pada hati kami, akan tetapi sampai tibanya waktu pendakian yaitu tanggal 2 July, karena tanggal 1 menunngu peserta yang dari jambi. Setelah peserta dari jambi tiba, saya konfirmasikan ke peserta dari sumbar, ternyata ia beralasan tidak dapat hadir mengikuti kegiatan pendakian, padahal sebelumnya ia telah memberanikan diri untuk menyediakan tenda. Otomatis terjadilah sedikit permasalahan sebelum keberangkatan, yaitu kami harus mencari tenda. Kami berusaha mencari tempat penyewaan tenda, tetapi semua tenda telah disewa. Selanjutnya kami mencari pinjaman ke teman-teman pendaki lain, hal yang sama juga dengan berbagai alasan kami tidak mendapatkanya. Tenda merupakan peralatan utama untuk
pendakian gunung, untuk berlindung dari hujan dan udara dingin yang ekstrim. Akhirnya saya berinisiatif untuk meminjam tenda pada teman, meskipun tenda tersebut tidak sesuai setandar pendakian, tidak memenuhi kualitas dan kuantitas pendaki yang ada.

Meskipun demikian, semangat buka berarti nekaattt!!!

Dengan tenda yang seadanya, kami siap melangkahkan kaki, menelusuri rimba, mengayunkan tangan ke puncak-puncak sumatra, dan mengatakan pada dunia. Dan tepiskan kata-kata ini, yang menjadikan energi bagi anda ketika membacanya.

Jangan Bilang kamu orang indonesia, jika belum mendaki kerinci

Jangan bilang kamu orang sumatra, jika belum mendaki kerinci

Jangan bilang kamu orang kerinci, jika belum mendaki kerinci

Jangan bilang kamu orang kayu aro, jika belum mendaki kerinci

Berikut adalah sebuah cerita selama perjalanan menapaki alam di beberapa gunung di Jambi-Sumatra:

A. Gunung Kerinci 3805 M dpl (Senin, 2 July 2012)

Gunung kerinci merupakan gunung berapi aktif tertinggi di indonesia, tentu saja menjadi magnet tersendiri bagi para pecinta alam, karena keindahan yang mengagumkan.

Rencana awal kami mulai pendakian tanggal 1 juli, agar genap 1 minggu pendakian Jambi-Sumbar explore 2012, akan tetapi karena ada salah seorang peserta
yang baru datang tanggal 1 tentu saja kami harus memulai pendakian tanggal Senin, 2 July 2012.

Pendakian kami terdiri dari 6 anggota (Aldo, ucup, kentus, toni, july dan aku). Pendakian awalnya kami rencanakan jam 9 tetapi molor jam 10 lebih kami baru sampai pintu rimba.

Cuaca pendakian pada waktu pagi begitu cerah, dengan sedikit kabut, perjalanan pun kami mulai dengan membaca Basmallah terlebih dahulu. Menurut kami, doa merupakan sesuatu ritual utama ketika kita melakukan sesuatu, aplagi yang kita kunjungi merupakan bukti kekuasaan Allah, kita harus menyerahkan diri kepada pencipta kita.

Perjalanan pun kami mulai, tentu saja Aku menjadi pemimpin dalam regu, kebetulan teman-teman yang ikut ndaki belum ada yang pernah mendaki gunung kerinci. Perjalanan pun kami lalui begitu cepat, ditemani cahaya matahari yang sedikit terik melirik dari dedaunan hutan rimba di sepanjang jalan. Pos 1,2,3 kami lalui dengan semangat, ketika sampai di shelter I kami bertemu dengan beberapa orang pendaki yang usianya sudah cukup lumayan tua, tetapi sangat semangat. Dari raut wajah, kami memastikan bahwa mereka merupakan Orang asing asal cina/orang tionghoa. Refleks, kami menyapa dengan menggunakan “MR”. Setelah itu, malah orang tersebut membalas dengan bahasa indonesia, anehnya lagi dia menggunakan bahasa jawa Asli alias Kromo Inggil. Hahahai. Ternyata mereka orang Tionghoa toh, asal dari jawa. Sontak kami tertawa terbahak-bahak. Meskipian kondisi umur yang cukup tua, mereka memberikan semangat kepada kami.

Selanjutnya sekitar pukul 14.00 kami sampai di shelter II, mengingat kondisi fisik yang mulai lemah, serta kondisi cuaca yang semakin dingin, memaksa kami
untuk istirahat sejenak, memberikan asupan makanan untuk tubuh, karena sebentar lagi kita akan mencapai shelter III. Makan siang kami menggunakan bekal yang kami bawa dari rumah. Setelah makan dan istirahat, ada 2 orang pendaki yang baru saja turun. Tentu saja kita saling menyapa dan bercerita, mereka pendaki asal Tapan. Mereka berbagi tentang kondisi cuaca, air, dan bercerita tentang gunung-gunung yang ada di sumbar. Kebetulan salah satu dari mereka pernah mendaki gunung marapi, otomatis kami banyak menggali informsi dari dia, tentang informasi dan rute, serta medan.

Setelah istirahat, kami lanjutkan perjalanan menempuh shelter III, medan menuju shelter III lebih menantang, karena kita harus memanjat bahkan bergelantungan. Jarak tempuh dapat memakan waktu 1jam menuju shelter III. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, kami sampai juga di shelter III terdapat ada 3 buah tenda pendaki lain, kami memutuskan mendirikan tenda agak jauh dari mereka.

Selanjutnya beberapa dari anggota ada yang bertugas mengambil air di sumber air, yang hanya berjarak lebih kurang 20 m. Setibanya di sumber air, kami di kagetkan dengan Sebongkah Kotoran Manusia, yang tidak bermoral dan beretika, melampiaskan hajat kotornya dekat sumber air, air yang semula juernih menjadi keruh, semoga Allah memberikan teguran kepada mahluk tersebut. Karena mata air yang ada jumlahnya sedikit, mendapatkanya juga tidak mudah. Jadi seharusnya, mata air kita jaga tidak di kotori seperti itu.

Akibat kondisi cuaca yang ekstrim dan berkabut, kami berusaha mencari kayu bakar untuk menghangatkan badan. Dengan kondisi tenda yang darurat, memaksa kami untuk bergantian berada dalam tenda. Sampai menunggu waktu pagi untuk melakukan summit, yang biasanya di lakukan pukul 03.00-04.00 untuk mengejar
waktu sun rise. Hampir satu malam kami semua tidak ada yang dapat tidur, karena suhu yang cukup menusuk tulang, kami terpaksa harus selalu berada didekat api dan membuat air hangat. Sesekali sang bulan mengintip dibalik awan, sesekali bintang menyelinap di kejauhan, bagi teman-temanku yang baru pertama kali mendaki gunung melihat kita seperti diatas awan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Meskipun malam itu tidak begitu cerah, biasanya kita dapat melihat kelip lampu rumah-rumah di kaki gunung dengan jelas. Tapi apapun itu, alam telah menyajikan keindahaanya.

Tibalah saatnya untuk Summit pada 03.00 wib, akan tetapi cuaca masih juga belum membaik, terkadang gerimis kecil menerpa dinginya pagi di temani kabut asap yang begitu pekat. Akhirnya saya memberi keputusan untuk menunggu cuaca agar lebih mendukung, apalagi medan yang akan dilalui lebih berbahaya. Akhirnya hampir jam 04.00 kami menunggu, cahaya bulan memberikan semangat baru dan energi kepada kami. Kami lihat tenda-tenda yang ada tidak summit, mungkin sudah summit kemaren. Kami lanjutkan perjalanan menuju tugu yuda, lebih kurang membutuhkan waktu 2jam, dengan medan yang lebih menanjak. Selama awal summit, kondisi cuaca sudah membaik akan tetapi ketika berada di pertengahan track antara shelter III dengan Tg Yuda, kabut asap yang sangat pekat kembali menyelimuti rombongan, kira-kira jarak pengelihatan hanya 1-2meter, hal ini tentu saja mengancam keselamatan kami jika kami paksakan. Akhirnya saya sebagai pemimpin rombongan tidak ingin mengambil resiko, kita harus menunggu sampai cuaca membaik, apalagi di kanan kiri merupakan jurang-jurang yang terjal. Ditengah penantian di pertengahan antara tugu yuda dan shelter III hanya menunggu dan menunggu, berdoa, adapula sebagian teman yang mengistirahatkan tubuhnya, apalagi dinginya suhu pada saat itu menusuk tulang. Khusus buat saya, pendakian ini memebrikan beban moral tersendiri,
karena saya membawa sahabat-sahabat yang belum pernah sama sekali mencapai puncak sumatra, jadi saya ingin sekali membawa mereka sampai di puncak dan kembali lagi dalam keadaan selamat, inilah prioritas saya.

Hampir 2 jam lebih, dari jam 05.00 – 07.30 lebih saya dan rombongan bertahan di tengah kabut yang begitu pekat, Alhamdulillah kabut sedikit terurai sesekali nampak puncak di kejauhan, yang menjadi semangat dan energy bagi kami. Terkadang muncul keluhan-keluhan dari sahabat, jika kondisi tidak membaik kita harus turun, tetapi semangat kami bisa memudarkan keputus asaan tersebut. Akhirnya dengan semangat kami melangkahkan kaki, meskipun sesekali kabut menerjang pengelihatan, sedikit demi sedikit kamipun melangkah, dan akhirnya sampai pula kami di Tg yuda.

Setelah perjuangan dan penantian yang panjang, kami pun tidak mau berhenti di Tg Yuda, karena puncak hanya sebentar lagi memakan waktu lebih kurang 30 menit. Bagi saya melihat puncak merupakan sebuah pencapaian yang sangat berharga, apalagi membawa sahabat-sahabat pendaki yang baru pertama kali, kepuasan bagi batin saya.

Sebuah kekuasaan Allah SWT, atas kehendaknya setelah perjalanan panjang dari awal, setelah penantian panjang menanti cuaca membaik. Akhirnya kami di Berikan sebuah Rahmat yang tidak terkira, karena tepat kami berada di puncak, Puncak bersih sama sekali dari asap, cerah, kawah nampak jelas, meski pemandangan arah bawah tertutup. Kita nikmatin alam, rayakan pencapaian kita, syukuri kekuasaan Allah. Dan akhirnya setelah 30menit kami di puncak, kami pun kembali turun menuju tugu yuda, tidak beberapa menit kami turun, puncak kembali di selimuti kabut tebal.
Seolah alam memberikan kesempatan kepada kami, untuk sejenak melepaskan lelah di puncaknya.

Kami istirahat sejenak di Tg Yuda, sambil membuat santapan pagi, mengisi energy, karena meskipun turun malah justru lebih berat beban tubuh. Kami membuat masakan seadanya, mie instan, bis kuit dan minuman penghangat tubuh. Sebagian teman membuat nama-nama dengan kerikil gunung, sebagai kenang-kenangan pastinya.

Setelah kami sarapan, perjalanan turun menuju shelter III kembali kami lanjutkan, dengan kondisi cuaca yang berkabut tebal, memaksa kami bergerak perlahan, agar tidak terperosok kedalam jurang. Diantara Shelter III dan Tg Yuda kurang lebih terdapat 4 buah tugu Persegi 4, yang harus kita lewati, disamping itu ada tanda-tanda berupa cat agar kita tidak salah jalur. Sesampainya di Tugu terakhir, saya berjalan melambat, dan didahului salah seorang teman saya, tampa sadar kami sudah melewati semua tugu, eh tiba-tiba saya melewati tugu yang bentuknya bulat, semacam detektor gempa. Kami teruskan perjalanan menurun, dengan teman yang berada di depan, dengan kondisi kabut yang begitu tebal. Dalam Benak saya, Ada perasaan yang aneh, dan tidak enak, perasaan saya belum pernah melewati jalur ini, sontak saya kaget dan tersadar bahwa kami salah jalur, beruntung jalur yang sebenarnya tidak jauh dari kita. Dan kebetulan juga,di tengah kabut pekat ada salah seorang pendaki yang memberikan isyarat dengan Pluit, agar kita kembali kepada jalur sebenarnya. Hal ini menambah pengalaman bagi saya, agar tidak membiarkan sahabat yang baru mendaki, berada dibarisan terdepan.

Setelah itu, kami pun sampai di Campground Shelter III, selanjutnya kami packing, melanjutkan perjalanan turun, dengan membawa semangat dan pengalaman
kepada teman-teman yang baru pertama kali mendaki, karena mendaki gunung bukanlah hanya pendakian fisik, tetapi juga hati.

B. Gunung Tujuh (Danau Gunung Tujuh) Rabu, 4 Juli 2012

Setelah mendaki gunung kerinci, kami (Edi tri Sutrisno & Moh Yusuf) lanjutkan ke gunung tujuh atau danau gunung tujuh, danau yang merupakan danau air tawar tertinggi di asia tenggara. Danau yang memiliki nilai misteri yang tinggi, disana terdapat sebuah mitos yaitu adanya mahluk kerdil dengan kaki terbalik. Disamping misterinya yang menjadi daya tarik, di kawasan ini juga masih terpeliharanya berbagai spesies burung, lutung, bunga-bunga langka, dsb. Yang menarik wisatawan untuk tidak hanya berwisata, tetapi melakukan riset.

Pendakian menuju gunung tujuh, dilaksanakan pada pukul 10an, menggunakan sepeda motor menuju pintu rimba gunung tujuh.

Pendakian gunung tujuh memakan waktu lebih kurang 2jam, setelah sampai di bibir danau banyak hal yang bisa kita lakukan, antara lain berkemah, memancing ikan, memancing kepiting, berenang, dsb.

Setelah turun dari gunung tujuh, perjalanan kami lanjutkan ke Air Terjun telun berasap yang tidak jauh dari desa Pelompek.

C. Gunung Marapi-Sumatera Barat 2.891 M dpl (padang panjang) Kamis, 5 Juli 2012

*PUNCAK MERPATI*

Awalnya ada beberapa sahabat yang ingin ikut melaksanakan pendakian ke Gunung Marapi-Sumbar, tetapi karena ada halangan hanya kami berdua yang pergi (Ihcan Van Java & Hamdan Utama), karena bagi kami sebuah komitmen yang telah
terfikirkan hendaknya wajib dilaksanakan. Karena keinginan yang besar dari hati, semakin meningkatkan keteguhan hati untuk tetap melangkah.

Mulai dari pagi hari, kami menyiapkan berbagai logistik yang akan di bawa. Akhirnya, lebih kurang jam 21.00 kami berangkat melalui desa Patok Empat menggunakan Travel Jurusan Bukit Tinggi. Pada saat itu kami menumpang sebuah travel Avanza yang cukup penuh, terpaksa kami naik di bangku belakang, sebelumnya telah duduk seorang ibu-ibu dengan menggendong anak batitanya yang masih menyusui. Sepanjang perjalanan, saya berfikir dalam hati, ternyata bener-bener berat yah pengorbanan seorang ibu. Kebetulan penumpang mobil rata-rata menuju bukit tinggi, dan ada salah satu yang turun di padang panjang, jadi bisa tanya-tanya kepada beliau tentang keadaan gunung kerinci.

Jika kita dari kerinci, kita menuju padang panjang melewati kota solok. Akhirnya, lebih kurang jam 4 kami sampai di Koto Baru. Kebetulan inilah perjalanan pertama saya menuju gunung marapi, pada saat itu masih terlalu pagi, tidak ada orang yang melintas sama sekali. Kami hanya terus berjalan, sambil berharap menemukan sebuah masjid, karena bagi kami masjid merupakan satu-satunya tempat teraman di dunia bagi musafir seperti kami. Kebetulan pada saat itu waktu subuh sudah dekat, kamipun mencari darimana sumber suara tape orang mengaji. Perjalanan kami menelusuri rumah-rumah, yang pasti sipemiliknya sedang nikmatnya di peraduan. Perjalanan mencari masjid tidak terasa sudah cukup jauh, keringat dingin membasahi baju kami.

Dan akhirnya, setelah perjalanan panjang kami tiba di Nagari Batu Palano (klw gk salah), dan tibalah kami di sebuah masjid yang sudah banyak kaum muslimin yang akan melaksanakan sholat subuh.


Tampa pikir panjang, kami letakan cariier yang kami sandang ke serambi masjid, langsung menuju tempat wudhu, agar bisa melaksanakan sholat subuh berjamaah. Orang sumatra barat terkenal akan ketaatanya dalam menjalankan agama islam, meskipun pagi-pagi, dikala orang lain terlelap dalam hangatnya selimut, masjid nampak penuh. Sesekali mereka melihat kami berdua, yang berwajah lusuh akibat perjalanan yang cukup jauh. Ternyata mereka ramah-ramah sekali, menyapa kami dengan senyuman yang khas orang minang.

Beberapa saat kemudian, Muazin mengumandangkan Iqamah kami berdua menyisip di shaf paling pinggir. Shalat bagi kami bukan hanya sebuah ritual, akan tetapi sebuah kewajiban yang telah menjadi kebutuhan, shalat merupakan media komunikasi vertikal dan langsung kepada Allah SWT. Akhirnya, Imam pun mengucapkan salam dan dilanjutkan dengan doa. Setelah doa, kami pun bersalam-salaman kepada seluruh jama’ah, meskipun kami tahu dari raut wajah mereka terdapat tanda tanya besar, tentang siapa kami berdua??? Akan kemana???

Setelah sholat salah satu dari jama’ah menanyakan asal kami, kami jawab bahwa kami dari Provinsi Jambi. Kemudian salah seorang jama’ah menanyakan , Kalian mau kemana (dengan wajah sedikit datar)??? Kami jawab, kami berdua akan mendaki gunung marapi. Hampir semua jama’ah sontak kaget, apalagi jama’aah yang ibu-ibu mereka langsung menyarankan kami, agar tidak melanjutkan rencana kami. Meskipun dengan logat-logat minang yang masih asli, mereka terus berusaha meyakinkan agar kami berdua tetap TIDAK MELANJUTKAN PENDAKIAN. Alasan mereka sungguh beralasan, karena pada saat itu Sedang dilakukan pencarian 2 Orang pendaki yang hilang, hampir seminggu tepat saat saya berada disana. Saya mengerti, karena mereka seorang ibu, naluri keibuanya nampak ketika melarang kami. Meskipun kami hanyalh orang yang baru mereka kenal, tapi rasa khawatirnya sempat
menggoyahkan hati kami. Di tengah kemelut tersebut, ada salah seorang jama’ah yang membisikan kepada kami,”di Iya-kan saja apa yang ibu-ibu itu saranin”. Akhirnya, sudah bebrapa lama ibu-ibu mendesak kami dengan naluri keibuanya, kami pun ikuti saran salah seorang jamaa’ah tersebut, yaitu kami meng Iya-kan saran mereka. Setelah kami meyakinkan mereka, bahwa kami tidak jadi melaksanakan pendakian. Akhirnya ibu-ibu itu berjalan perlahan meninggalkan kami berdua yang masih berdiri di serambi masjid. Setelah ibu-ibu tersebut pulang, salah seorang jama’ah tersebut kembali mendekati kami, dan menyampaikan informasi, bahwa kasus pendaki yang hilang tersebut, dikarenakan mereka tidak melalui jalur pendakian yang ada, mereka membuka jalur baru.

Setelah beberapa lama, bapak yang memberikan saran dan nasehat kepada kami berdua, mengantarkan kami ke sebuah masjid lain di pinggir jalan, yang mana disana terdapat tempat istirahat, dan tempat sarapan, sampai menunggu tiba waktunya untuk memulai pendakian.

Dimasjid tersebut memang berada di tempat yang strategis, berada di jalur lintas yang semalam kita lewati. Di tempat itu, kami mengisi perut dengan sepiring lontong, yang bagi kami cukup menjadi energi sementara. Didepan kedai lontong, mentaripun mulai naik, tepat di depan mata kami Sebuah Gundukan tanah yang menjulang ke angkasa, terlihat jelas dan gagahnya, semakin membuat bulu roma merinding, gak sabar buat cepat-cepat mulai mendaki.

Setelah kami makan, kami pun menuju simpang koto baru, setibanya di simpang kami membeli beberapa logistik tambahan, selanjutnya kami menggunakan Jasa Ojek menuju pemancar TV dan pesanggrahan. Dari simpang lebih kurang 20 menit, dengan kondisi jalan yang menanjak. setibanya di relay tv, jalan yang dilalui
tidak lagi beraspal, jadi kami melanjutkan perjalanan ke pesanggrahan dengan jalan kaki, sebagai pemanasan.

Setibanya di pesanggrahan, Alhamdulilah cuaca begitu bersahabat, nampak cerah dua buah gunung di kejauhan yaitu Gunung Singgalang dan Tandikat, yang rencana awalnya kami berdua juga akan berpindah ke kedua gunung tersebut setelah turun dari marapi.

Dengan do’a, niat dan semangat kami berdua melangkahkan kaki menuju Puncak merpati, kira2 jam 08.00 pagi. Di awal perjalanan kami bertemu dengan sekelompok pemuda yang sedang camping, dengan ramah tamah kami selalu menyapa. Beberapa jam perjalanan, dengan berbagai vegetasi pohon-pohonan yang masih terjaga, di awal pendakian masih terdapat pinus-pinus, bambu-bambu, dan pohon-pohon berbatang yang lebih besar lainya.

Bagi kami medan yang di tempuh cukup menantang, disamping itu banyak terdapat campground yang telah disediakan, dengan atap seng. Ditengah perjalanan kami bertemu dengan 3 orang pendaki, 2 orang Turis dengan 1 Guade yang berasal dari pasaman, tampa pikir panjang kami saling sapa dan minta foto sebagai kenang-kenangan, merekalah satu-satunya pendaki yang kami temui selama pendakian.

Akhirnya setelah beberapa jam, sekitar pukul 11.30 kami sampai di Pintu Angin, selanjutnya kami mencari tempat mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri kami mencari sumber air. Setelah itu kami memasak nasi,dan istirahat. Terlalu nikmatnya istirahat, kami berdua tertidur hampir 3 jam, selanjutnya sekitar pukul 15.00 kami terbangun. Selanjutya kami mandi karena sumber air yang cukup banyak, agar badan kembali segar.


Setelah itu kami berdua sepakat melakukan SUMMIT sore itu juga, tampa pikir panjang karena sudah tidak sabar untuk mencapai paruh merpati, kami pun mulai muncak. Kami terus berjalan, sehungga sampailah pada batas vegetasi dan berganti dengna cadas dan pasir gunung yang menawan. Awalnya jalur menuju puncak tidak begitu jelas, akan tetapi lama-kelamaan jalur tersebut berupa leter S yang memudahkan kita mendaki, kurang lebih 1 jam Summi kami sampai di puncak merapi. Sebuah kebahagiaan, kami susuri puncak marapi yang begitu luasnya, sepanjang mata memandang padang pasir nan indah, mengingatkan pada Tugu Yuda di Gunung kerinci.

Kawahpun terlihat setelah menyusuri dataran luas, ada 2 buah kawah yang satu sudah mati, dan yang satu lagi mengepulkan asap seolah menyambut kami. Setelah puas memandangi kawah, kami pun bergerak menuju Puncak Merpati. Dengan sedikit Sa’i, kami pun berada di puncak, dengan view yang begitu indah, Pemandangan kawah, Pemandangan danau singkarak, begitu membuat kami betah berlama-lama di atas puncak. Di atas puncak, kita semakin mengagumi kekuasaan Sang Maha Pencipta. Yang paling mengesankan juga adalah datangnya Pelangi yang menghiasi Puncak Marapi, kebetulan pada saat itu cuaca agak gerimis. Indaahhhhhhh,,,,,,, Subhannnnnnallllah,,,,,, Pelangi di puncak Marapi.

Selanjutnya setelah beberapa menit kami hinggap di puncak merpati, kami kembali menuju sebuah Tugu, di tempat itu kami kembali di hadiahi pemandangan sore yang menakjubkan, tampak kota bukit tinggi, padang panjang, dan juga sinar sunset yang menggelora, serta gunung singgalang dan tandikek yang mempesona. Kami nikmati itu dengan secangkir kopi panas,,wkwkwk


Setelah Mentari kembali ke peraduan, kami pun melangkahkan kaki kembali tenda mini kami. Dengan sedikit dialog, kamipun membuat keputusan untuk turun gunung malam ini juga, karena kita sudah mencapai puncak dengan segala hidanganya. Tampa pikir panjang, kami pun packing malam itu jug kira-kira pukul 20.00 kami turun dari puncak merapi. Jujur malam itu, merupakan turun gunung malam-malam pertama yang kami lakuin, dengan rasa takut yang menyelimuti, mungkin aku terlalu berhalusinasi, selama perjalanan turun kami berdua berlarian, serasa ada yang mengejar,,hahaha. Tidak jarang dari kami terjatuh, terpeleset, terbanting, di atas medan. Setelah perjalanan, kamipun bertemu dengan serombongan mapala Raflesia, salah satu mapala unand. Yang peling menakutkan, ketika kami berdua sempat terjebak dalam hutan bambu yang cukup menakutkan. Akhirnya kami harus kembali beberapa meter, dan kembali ke jalur semula. Tau gak, ketika kami istirahat setelah sampai di bawah, hampir seluruh badan basah kuyup karena keringat, yang memaksaku untuk menganti pakaian,,hkhkhk. Untuk temenku mempunyai kepribadian yang tenang, jadi dia kadang bisa nenangin saya, tapi terkadang juga terlalu gegabah dan terlalu tenang…..wkwkwkwk

Ketika sampai di simpang koto baru, jam sudah menunjukan pukul 22.00, ketika itu kami berencana untuk mencari angkutan menuju kota solok, karena kita sepakat mengingat waktu dan kesempatan untuk langsung mendaki Gunuung talang, dan untuk gunung Singgalang dan Tandikek kami cancel terlebih dahulu.

Ditengah jam yang sudah lumayan larut, tidak ada lagi terdapat mobil angkutan yang menuju kota solok, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Masjid yang kami gunakan istirahat tadi pagi, untuk sejenak istirahat sambil menunggu pagi dan melanjutkan perjalanan esoknya ke gunung talang. Malam itu kami berdua, menyusuri jalan dari simpang koto baru menuju masjid yang lebih
kurang memakan waktu 1jam jalan kaki, keletihan yang sangat, kami rasakan malam itu. Ketika tiba di masjid, masih banyak pengurus masjid yang sedang mengadakan rapat untuk menyambut Ramadhan 1433 Hijriah, masih teringat ketika salah seorang menyapa, dan selanjutnya kami memohon izin untuk sejenak melepas lelah di msajid tersebut, yah begitulah manusia memiliki sikap dan sifat yang tidak sama.

Setelah semalaman melepas lelah di Rumah Allah, kami pun melanjutkan perjalanan menuju solok, dengan naik mobil penumpang dari bukit tinggi. Di balik jendela kaca mobil, ku pandangi raut merapi, ku sampaikan selamat tinggal, semoga suatu saat kami dapat menyinggahi punggungmu lagi. Perjalanan menuju solok sangat menegangkan, supir mobil yang sudah separuh baya mengendarai mobil seolah-olah hanya dia yang ada dalam mobil tersebut. Baru kali ini aku naik mobil angkutan sekencang ini, terkadang segan dengan penumpang disebelah, yang memaksa kita tidak bisa duduk dengan nyaman. Apalagi ulah Kernet angkot, yang bergelayutan di pintu mobil seperti spiderman yang ketinggalan kereta. Tapi seruuuuuu. Disebelah kiri kaca jendela, terlihat danau singkarak yang begitu indah, yang sebenarnya sayang untuk di lewatkan.

Sekitar pukul 09.00, kami pun tiba di simpang Bypass solok, tepat Pak supir menurunkan kami tepat berada di simpang bukit sileh.

D. Gunung Talang-Solok 2597 M dpl Sabtu, 7 Juli 2012

*PUNCAK TALANG, 4 DANAU, 4 PUNCAK, 1 SAMUDRA*

Setelah sampai di solok, kami pun mencari angkot yang menuju desa bukit sileh yang sama sekali belum pernah kami kunjungi. Ternyata tidak jauh dari simpang
tersebut terdapat angkot yang menuju bukit sileh, kebetulan supirnya masih muda jadi kami lebih leluasa menayakan tentang rute selanjutnya.

Jalanan pedesaan menuju bukit sileh cukup sempit, yang seharusnya hanya untuk satu mobil, dengan tanjakan yang cukup menanjak dan tikungan yang tajam, tentu supirnya haruslah orang-orang yang profesional. Lebih kurang 30 menit kami sampai di Pasar Bukit sileh. Setibanya di pasar, mengingat perut yang semakin lapar, kami menemukan sebuah kedai lontong di pinggir jalan, yang cocok menjadi santapan pagi ini. Sambil menikmati lontong yang lumayan mengenyangkan, sesekali kami menayakan tentang rute dan kondisi gunung pada warga sekitar. Mereka mengatakan bahwa sering warga desa dan daerah sekitar mendaki gunung talang.

Setelah sarapan, kami juga membeli beberapa logistik. Warga bukit sileh sangat ramah, mereka selalu menebar senyum ketika kami sapa, ketika kami bertanya tentang rute. Sebelum sampai kepada pintu rimba, kita harus melewati perumahan warga dan lahan pertanian.

Ketika kami berjalan, kelihatan di kejauhan sekelompok pendaki lokal yang juga akan mendaki gunung talang, tentu saja menambah teman buat kami.

Hampir setiap ada warga yang berpapasan, kami selalu bertanya tentang rute. Sepanjang perjalanan ketika mendekati pintu rimba, terdapat sungai berair panas yang berhulu di kaki gunung talang. Akhirnya kamipun sampai di pinggir hutan, akan tetapi sekelompok pendaki sudah tidak terlihat sama sekali, yang lebih membuat kami ragu tentang jalan ataupun rute yang sesungguhnya. Hampir 1 jam lebih kami berada dalam kebimbangan, kami mencoba menghubungi teman-teman yang pernah mendaki gunung ini. Akan tetapi saya sendiri masih ragu, akhirnya saya mengambil inisiatif
untuk kembali turun bukit, untuk menanyakan jalur yang benar kepada salah seorang petani.

Akhirnya, kamipun mendapat jawaban. Bahwa kami berada di jalur yang benar-benar salah. Jadi kami harus kembali turun bukit, menyebrang kebukit sebelah, yang teryata ada rombongan lain yang juga ingin melakukan pendakian. Akhirnya kita berkenalan, ternyata mereka penduduk lokal, jadi kita bergabung dengan mereka agar tidak salah jalan lagi.

Ketika mendaki, kami juga tidak membawa air, karena kami pikir semua gunung mempunyai sumber air, dulunya terdapat telaga tetaoi kini telah kering. Kebetulan salah satu kelompok membawa air 1 drigen, yang kami bisa melobi mereka. Eheheh

Perjalanan menuju Gunung Talang cukup menantang, kita harus waspada karena banyak terdapat Pacet yang dapat nempel di kaki anda. Setengah perjalanan kamipun istirahat, serta makan. Karena waktu saat itu sudah sekitar jam 2an, setelah keletihan yang sangat.

Sekitar pukul 16.00 kami pun sampai di campgroud Gunung talang, terdapat lebih kurang 4 kelompok pendaki saat itu. Yang menambah keramaian di puncak talang. Dari campground kita dapat melihat view solok, singkarak, marapi, danau atas/bawah, serta telaga talang.

Kami dan teman-teman pendaki lokal membuat camp yang berdekatan, yang paling ekstrem teman-teman pendaki di sebelah saya hanya membuat camp dengan 2 lembar terpal, 1 terpal untuk alas, 1 terpal lagi untuk atap. Saya tidak bisa ngebayangin betapa dinginya, saya saja yang menggunakan tenda merasakan dingin
yang super. Kemungkinan sudah biasa, tetapi saran bagi teman-teman bahwa mendaki gunung tidak boleh main-main, karena nyawa taruhanya.

Setelah tenda berdiri, kami istirahat sambil menikmati view yang begitu indah, ketika sunset saya bertiga dengan teman-teman lokal mencoba mencapai puncak. Senangnya berada di puncak, menikmati pelangi di danau kembar, dan sunset yang begitu indah.

Malam-malam kami lalui dengan enjoy, dengan logistik yang melimpah, tidak jarang kami memasakan mie/minuman hangat buat sahabat lain. Tapi itulah nikmatnya mendaki gunung, persahabatan dan kekeluargaan.

Pagipun merekah, sebelum mentari mengintip dari ufuk timur, kami summit lebih cepat, agar tidak ketinggalan momen sun rise. Tibalah saat yang di tunggu, sinar mentari meberikan kehangatan dinjiwa dan raga, cahayanya terlihat jelas di danau kembar, dan telaga talang, serta samudra hindia, sementara di kejauhan terlihat puncak kerinci, singgalang, marapi dengan gagahnya.

Kami nikmati hari itu, berlama-lama di puncak talang, menikmati ciptaan Allah. Sesekali kulihat di kejauhan Nagari Air Batumbuk. Dimana terdapat padang teh yang membentang luas dengan hijaunya. Dalam hati berkata, Si Dia lagi liat aku pastinya??? Wkwkkw

Setelah lebih kurang 1 jam, kami pun kembali ke campground, terlebih dahulu sarapan dan packing. Ketika kami turun, kembali bersama adek-adek pendaki lokal, yang selalu setia menemani dan menambah keceriaan perjalanan kami.

Setibanya di kaki gunung, kami pun merelaksasikan kaki di sumber air panas, berharap letih berkurang,,,hehehhe. Alhamdulillah, kamipun sampai kembali di pasar
bukit sileh. Menyampaikan salam perpisahan kepada puncak talang yang menawan, yang tak terlupakan.

Jum’at, 20 oktober 2012

Tags:

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta