Layanan Publik

Carutmarut

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

student who have a bumpy life

Komersialisme Pendidikan

OPINI | 08 August 2013 | 23:15 Dibaca: 173   0

Memasuki tahun ajaran baru ini, saya ingin membahas budaya pendidikan di negara kita yang semakin suram. Dimana ongkos belajar yang semakin mahal, ilmu yang didapat tidak sebanding serta sarana prasarana yang kurang menunjang.

Di Indonesia pendidikan menjadi salah satu syarat bagi masyarakatnya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, meskipun itu tidak menjamin. Yang mana pemikiran orang tua semakin tinggi jenjang pendidikan anak, akan memperoleh feedback yang baik kedepannya.

Namun tanpa kita sadari, biaya untuk sekolah kini sangatlah tidak masuk akal. Beberapa sekolah mulai SD-SMA memiliki biaya bulanan/SPP yang tidak wajar meski ada BOS (bantuan operasional sekolah) dari pemerintah. Itupun kalau sekolah yang dipilih bermutu, kalau tidak?

Selain itu saya rasa manusia kini mulai tidak wajar. Ada beberapa instansi yang mepermainkan pendidikan. Misalnya dengan kualitas guru/dosen yang tidak terlalu bagus tetapi mereka memiliki standar SPP yang cukup mahal. Di beberapa daerah banyak sekolah mahal, tapi kualitas output daerah tersebut sebanding dengan daerah yang tidak perlu bayar SPP. Ironi sekali menurut saya,  lebih baik anak saya nantinya saya didik sendiri, meskipun nantinya tanpa embel-embel gelar tapi  moral lebih baik daripada anak yang bersekolah dengan biaya mahal.

Beberapa faktor diatas membuat saya sedikit kecewa dengan pemerintah, mengapa mereka mudah mengeluarkan ijin bagi instansi yang ingin menyelanggarakan pendidikan tapi dengan cara-cara yang menurut saya tidak akan membuat pemikiran anak didik menjadi lebih baik.

Saya sendiri bersyukur masih ada orang yang peduli dengan pendidikan di Indonesia. Misalnya mereka mau membuat sekolah terbuka bagi warga kurang mampu, warga daerah perbatasan, dll. Adanya mereka sedikit membantu urusan pemerintah dalam hal ini. Kedepannya saya berharap pemerintah perlu mengkaji masalah ini dengan serius, sebab kualitas negara tidak dilihat dari kualitas Sumber Daya Alam yang dimiliki, tapi dari kualitas manusia yang mampu mengolah alam dengan baik. Wassalam

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta