Back to Kompasiana
Artikel

Layanan Publik

Urang Teun

s1 hukum s2 hukum

Kelemahan Listrik Sistem Pulsa (KWH Meteran Pra Bayar) PLN

OPINI | 28 December 2012 | 17:01 Dibaca: 31337   Komentar: 6   0

PLN sedang gencar-gencarnya mensosialisasikan program pemasangan  KWH meteran listrik sistem Pulsa (pra bayar).  Setiap permohonan pemasangan listrik baru hanya tersedia  satu pilihan,  yaitu Listrik pra bayar. Meteran lama konvensional (pasca bayar) perlahan-lahan akan diganti dengan Pra bayar. Masyarakat dianjurkan bermigrasi dari sistem lama beralih ke Listrik sistem pulsa.

Namun ternyata sistem pra bayar ini bukannya mempermudah, tapi lebih mempersulit.

Berikut ini masalah dilapangan  yang diketahui terjadi di daerah Bintaro dan Rempoa, beberapa konsumen melaporkan kerusakan meteran listriknya. KWH meter tidak bisa di isi pulsa.

Setelah melaporkan kekantor PLN, akhirnya petugas resmi datang kelokasi untuk membantu mengisi pulsa karena KWH meteran listrik error.

Hal ini sangat merepotkan karena setiap pengisian pulsa harus memanggil petugas PLN, apalagi kalau pulsa habis tengah malam.

Penjelasan dari seorang ahlinya adalah sistem pulsa ini terlalu canggih dan KWH meteran terlalu sensitif. Dengan standar pengamanan yang sangat tinggi. Setiap situasi yang dianggap oleh sistem sebagai keadaan abnormal maka sistem langsung error .  Kalau meteran sudah error maka pengisian pulsa listrik tidak bisa dilakukan sendiri , melainkan harus telpon petugas resmi. Situasi ini dikenal dengan situasi  “ CLEAR TEMPER”, dengan status dilayar meteran tertulis :   “P ERIKSA”

Maksudnya adalah :

Meteran sistem lama konvensional hanya dilengkapi dengan metode pengamanan standar,  artinya apabila terjadi kosleting listrik  maka saklar MCB di meteran depan rumah akan turun dan listrik langsung mati sampai diketemukan sumber masalah, baru bisa nyala lagi.

Tapi kalau KWH baru Meteran pra bayar metode pengamanannya lebih rumit lagi.  Selain metode diatas,  Ada lagi tambahan sistem pengamanan

Apabila terjadi peristiwa yang didefenisikan oleh Meteran sebagai situasi “abnormal” maka Meteran langsung macet alias error. Listrik tetap nyala sesuai sisa pulsa yang ada, tapi pengisian pulsa akan macet, tidak bisa dilakukan sendiri sampai petugas PLN datang membantu.

Situasi “Abnormal” itu bermacam-macam penyebabnya. Bisa jadi karena pengaruh petir, atau daun pintu dekat meteran yang terbanting keras, pemasangan alat elektronik yang colokannya kurang rapat. Atau memakai kipas angin yang menggunakan kabel rambut yang terlalu kecil.. dan macam-macam situasi yang didefenisikan oleh meteran secara otomatis sebagai tidak memenuhi standar. Akibatnya di meteran keluar tulisan “PERIKSA” dan harus memanggil petugas resmi untuk memasukan code “CLEAR TEMPER”, baru pulsa listrik bisa di isi ulang.

Apabila kita complain kepada petugas PLN, maka jawaban klise mereka adalah : Ada kerusakan pada instalasi rumah anda, silahkan diperiksa sendiri.  Dan apabila yang complain itu adalah orang awam maka sudah jelas mereka akan diam saja alias “nrimo” nasib apes . Kasihan sekali…..

Bagi yang mengerti masalah maka mereka akan protes lebih keras lagi. Bukankah pada saat pemasangan listrik Pra Bayar instalasi rumah sudah diperiksa oleh AKLI  (Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia) rekanan PLN yang memberikan  supervisi jaminan Instalasi dan Konsuil. Tanpa adanya ini mana mungkin Listrik tersambung. Maka sudah seharusnya PLN bertanggung jawab memeriksa masalah kalau keluar pesan “Periksa” dan “Clear Tamper” pada KWH meteran pra bayar. Jangan paksa konsumen memeriksa sendiri instalasi listriknya. Selain tidak berwenang juga tidak jelas pertanggungjawabannya. Sehingga sampai saat ini apabila keluar tulisan “periksa”pada meteren listrik maka petugas resmi hanya sekedar memasukkan pasword  untuk Clear temper.  Tanpa pernah mau memeriksa penyebabnya.

Listrik pra bayar bertujuan supaya lebih praktis. Tidak ada petugas yang datang mondar mandir mencatat angka meteran , dan konsumen bisa lebih terkontrol dalam pemakaian listrik. Tapi nyatanya listrik pra bayar malah bikin repot, was-was bagaimana kalau listrik padam dan petugas resmi berhalangan datang, apalagi malam hari.

Kesimpulannya dari tulisan ini:  “KWH listrik Pra bayar adalah PROYEK GAGAL”

Dan Tidak layak untuk dilanjutkan. Bagi konsumen yang  telah terlanjur memasang KWH meteran pra bayar ini -apa boleh buat-  anda harus bisa menyesuaikan diri dengan teknologi konyol ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: