Fasilitas Umum

Daniel H.t.

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Bang Ucu: “Langkahi Dulu Mayat Gue!” (episode Jokowi-Ahok vs Bang Ucu?)

OPINI | 06 August 2013 | 17:42 Dibaca: 7108   2

13757856332118128338

Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Blok G Pasar Tanah Abang yang hendak ditutup Pemprov DKI Jakarta seusai Lebaran ini (Kompas.com)

Setelah Jokowi-Ahok atas nama Pemprov DKI Jakarta berhasil mengatasi perlawanan PKL Tanah Abang yang dibekingi Haji Lulung (episode “Ahok versus Haji Lulung”), apakah akan berlanjut pada episode “Jokowi-Ahok versus Bang Ucu”? Bang Ucu adalah nama panggilan dari tokoh sekaligus sesepuh Tanah Abang, M. Yusuf bin Muhi, yang juga adalah “mentor”-nya Haji Lulung.

Episode “Ahok vs Haji Lulung” telah berakhir dengan bersedianya semua PKL Tanah Abang direlokasi ke Blok G Pasar Tanah Abang. Program Jokowi-Ahok itu akhirnya disambut dengan antusiasme penuh para PKL setelah mereka berhasil diyakini Pemprov DKI mengenai program dan niat baik Pemprov DKI Jakarta itu. Peminat PKL menempati Blok G tersebut bahkan melebihi kapasitas pasar. Dari 961 lapak yang ada, semuanya sudah terisi, sehingga pedaftaran terpaksa ditutup lebih awal pada Sabtu, 3 Agustus lalu.

Potensi perseteruan antara Jokowi-Ahok versus Bang Ucu terbuka ketika rencana Jokowi-Ahok untuk menutup dan merelokasi RPH di Blok G Tanah Abang mendapat tantangan keras dari Bang Ucu. Alasannya, karena banyak keponakan, cucu, dan saudaranya yang menjadi tukang jagal di sana.

“Kalau jagal dipindahin dari Tanah Abang, langkahi dulu mayat gue!” kata Bang Ucu di Masjid Al-Makmur Tanah Abang saat buka puasa berasama dengan Walikota Jakarta Pusat dan sejumlah PKL Tanah Abang, Senin, 5 Agustus 2013 (Tempo. co).

Ia menuturkan jagal kambing Tanah Abang sudah ada sejak jaman kemerdekaan. Untuk itu, jagal kambing sudah menjadi ikon atau simbol dari Tanah Abang yang tidak bisa dipisahkan.


Menurut Bang Ucu, dia bersama para keponakan atau sanak saudara lain yang mengusir preman dari Tanah Abang. “
Ingetperjuangan saya dong, perjuangan anak cucu saya,” dia menuturkan.

Namun, perlawanan Bang Ucu kali ini kelihatannya tidak akan sedahsyat omongannya. Bahkan dibandingkan dengan Haji Lulung dengan ormas-ormas pendukungnya yang membekingi PKL, kekuatan Bang Ucu jauh lebih lemah.

Kekuatan paling besar Haji Lulung sebetulnya terletak pada PKL-PKL itu sendiri. Sekuat apa pun Haji Lulung dengan ormas-ormasnya, plus preman-preman Tanah Abang itu, jika semua PKL itu sudah bersatu dan berbalik berpihak kepada Pemprov DKI Jakarta, maka hilanglah sebagian besar kekuatan Haji Lulung cs. Demikian juga dengan kekuatan Bang Ucu.  Apalagi Pemprov DKI Jakarta dibawah kepimpinan Jokowi-Ahok ini begitu solid dengan dukungan luas publik. Bahkan secara tak langsung didukung oleh Kopassus (baca tulisan saya: Bila Perlu, Kopassus pun Siap Membersihkan Premanisme dari Tanah Abang).

Masalah penutupan RPH di Blok G Tanah Abang itu akan lebih mudah diatasi oleh Jokowi-Ahok dibandingkan dengan masalah relokasi PKL ke Blok G itu. Karena tidak ada lagi kekuatan berarti yang bisa menolaknya. PKL yang sebelumnya pro kepada Haji Lulung cs kini malah menjadi salah satu pihak yang paling menghendaki RPH itu ditutup.

Alasan Bang Ucu menolak penutupan dan pemindahan RPH itu tentu saja sangat tidak relevan. Dia bilang, dia menolak, karena banyak keponakan, cucu dan saudaranya yang bekerja di sana. Dan, bahwa pemerintah harus mengingat jasa-jasanya karena telah berhasil menggusir preman (Hercules) dari sana.

Mana yang jauh lebih penting antara kepentingan sanak-saudaranya itu dengan kepentingan publik yang menghendaki penutupan RPH itu? Dengan cara berbicara seperti ini, semakin kentara orang-orang seperti Bang Ucu ini menganggap mereka itu berada di atas hukum, dan bahwa kepentingan mereka juga berada di atas kepentingan publik.

Dengan dipindahkannya RPH itu dari lokasinya sekarang, bukan berarti sanak-saudaranya bakal kehilangan mata pencaharian. Bukankah sanak-saudaranya itu masih bisa tetap bekerja di RPH itu di lokasi barunya nanti?

Apakah benar RPH itu sudah menjadi ikon Tanah Abang? Mana ikon yang justru tidak dikehendaki keberadaannya oleh warga sekitar karena merusak lingkungan di sekitarnya?

Mengenai keberhasilan kelompok Bang Ucu di masa lalu menggusur kelompok preman Hercules dari kawasan Tanah Abang itu publik juga sudah lama tahu. Dari media, publik juga tahu bahwa yang terjadi ketika itu sesungguhnya adalah perang antarpereman. Bukan perjuangan suatu kelompok tertentu demi kepentingan pemerintah/publik. Preman Hercules yang menguasai Tanah Abang saat itu kalah, dan diganti oleh kelompok preman baru di bawah pimpinan Bang Ucu, yang kemudian beralih ke Haji Lulung, dan yang kini menjadi semacam “Godfather” Tanah Abang.

Jadi, hutang budi atau jasa apakah Pemprov DKI Jakarta terhadap Bang Ucu di Tanah Abang itu? Sebaliknya yang ada adalah justru hutang persoalan Pemprov DKI Jakarta terhadap warga Jakarta, untuk membersihkan kawasan Tanah Abang itu dari sampah-sampah premanisme, yang saat ini mulai dilakukan secara sungguh-sungguh oleh Jokowi-Ahok.

Sudah menjadi karakteristik pemerintahan Jokowi, tidak ada kata kompromi dan toleransi untuk hal-hal seperti ini.

Pada Jumat, 2 Agustus 2013, untuk kesekian kalinya Jokowi mengatakan, RPH itu pasti ditutup seusai Lebaran ini. Dia bilang, dengan ditutupnya RPH itu, maka keluhan yang menjadi ganjalan PKL pindah ke Blok G itu, yakni kotor dan berbau tak sedap, tidak ada lagi.

“Pindahlah, enggak mungkin pasar campur RPH, campur penduduknya, campur jualan,” tegas Jokowi di Balaikota, Jakarta Pusat (kompas.com). Mengenai pelaksanaan penutupan dan relokasi RPH itu diserahkan kepada Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah, yang mengatakan saat ini pihaknya bersama pengusaha RPH sedang berunding menentukan lokasi baru yang dianggap paling pas.

Keluhan dan kehendak agar RPH itu segera ditutup bukan hanya datang dari PKL yang hendak direlokasi itu saja, tetapi juga sudah lama dari warga sekitar Blok G, Pasar Tanah Abang itu.

Warga mengeluh, limbah pemotongan kambing itu sangat mengganggu kenyaman mereka di sana. Karena saluran air mampet, limbah itu meluber hingga mengganggu aktivitas warga.

“Kalau banjir segini (selutut), gatal. Kalau hujan, tuh, soalnya limbah darah, kencing kambing dibuang di sini. Lama-lama ngempel (menggumpal), karang, jadi tanah,” kata Rizak, petugas keamanan Pasar Blok G kepada Kompas.com, Rabu,  31/07/2013.

Rizal yang tinggal di belakang Blok G Tanah Abang itu mengatakan, warga RW 09 di Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, sudah menandatangani pernyataan yang isinya meminta agar rumah jagal tersebut direlokasi. Pernyataan warga tersebut sudah disampaikan ke kantor kelurahan pada Selasa (30/7/2013) kemarin.

“Kalau dulu benar (limbah) disedot, tapi mulai tahun 2000-an sudah enggak pernah lagi. Baunya udah kayak lumpur. Kalau hujan banjir,” ujar Rizal.

Selain mengenai keberadaan RPH yang merusak lingkungan sekitar dan menebarkan bau tak sedap itu, keberadaan RPH di sana juga membuat lahan parkir di Blok G itu menjadi sangat terbatas.

“Memang dari dulu yang dikeluhkan adalah parkir yang belum memadai,” ungkap Kepala Pengelola Blok G, Pasar Tanah Abang, Waridimin kepada Kompas.com, Rabu, 17/07/13.

Dengan demikian tentu saja setelah RPH itu ditutup, akan tersedia lahan parkir tambahan yang sangat signifikan dalam mengatasi problem parkis di sana.

Jadi, tidak ada lagi alasan apa pun yang bisa dijadikan pegangan Bang Ucu untuk menolak penutupan RPH di Blok G Pasar Tanah Abang itu.

Jadi, kekuatan apa yang akan diandalkan Bang Ucu untuk melawan Pemprov DKI Jakarta? Kalau dia tetap nekad, maka dia harus berhadapan langsung dengan Pemprov DKI Jakarta di bawah pimpinan Jokowi-Ahok, PKL Blok G Pasar Tanah Abang, dan warga sekitar kawasan tersebut, yang juga sudah lama menghendaki RPH itu ditutup.

Masa kejayaan Bang Ucu di Pasar Tanah Abang saat ini telah berakhir.***

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta