Back to Kompasiana
Artikel

Fasilitas Umum

Avia Destimianti

www.hangatnyarumahku.blogspot.com

Belajar dari Blusukan Jokowi - Ahok ke Rusunawa Marunda

OPINI | 27 February 2013 | 11:35 Dibaca: 350   Komentar: 0   1

Sebagai pengikut setia berita duo Jokowi - Ahok, saya tidak pernah ketinggalan menonton unggahan video youtube dari akun Pemprov DKI mengenai kegiatan mereka berdua. Duo ini benar-benar menerapkan berbagai ilmu pengembangan masyarakat yang saya pelajari ketika kuliah dulu bahkan lebih lagi. Setidaknya ada tujuh hal yang bisa saya petik dari blusukan Jokowi-Ahok ke Marunda.


1. Ubah masalah menjadi kesempatan

Ketika banjir melanda Jakarta pertengahan Januari lalu saya, dan juga mungkin sebagian besar warga Indonesia, menanti-nanti apa yang akan dilakukan Jokowi–Ahok untuk menangani bencana ini. Tentu saya kagum akan komitmen mereka bekerja siang dan malam untuk membantu warga yang menjadi koban banjir, perbaikan tanggul Latuharhary yang dikatakan oleh Dinas PU seharusnya selesai dalam waktu sebulan namun ketika diawasi langsung oleh Jokowi dapat selesai dalam 4 hari, dan masih banyak lagi tindakan cepat lainnya yang mereka lakukan di lapangan. Tapi yang membuat saya terkejut adalah bagaimana mereka mengubah musibah ini menjadi kesempatan untuk merelokasi warga yang tinggal secara illegal di atas tanah Pemprov DKI di sekitar waduk Pluit. Saat ini proses normalisasi kali pluit sedang berlangsung tanpa perlawanan berarti dari masyarakat.


2. Gunakan metode insentif dan bukan intimidasi

Sejak Jokowi menjadi walikota Solo, beliau sudah menggunakan pendekatan kemanusiaan dalam menyelesaikan masalah. Menggunakan dialog, bukan golok. Memakai metode partisipasi, bukan tangan besi. Pendekatan ini juga dibawa ketika beliau menjabat menjadi gubernur DKI Jakarta. Meskipun warga menempati tanah Pemprov DKI secara illegal, hal itu bukan menjadi alasan untuk memperlakukan mereka dengan semena-mena. Jokowi-Ahok menyediakan Rusun Marunda dengan harga sangat terjangkau lengkap dengan perabotan untuk warga korban banjir yang bersedia pindah saat itu juga.  Ini merupakan insentif yang cukup besar bagi warga yang kehilangan harta bendanya karena banjir dan tinggal tanpa kepastian di atas tanah yang bukan milik mereka. Memang sampai sekarang proses perpindahan warga ini masih menemukan berbagai kendala di lapangan, tapi sudah menuju ke arah yang benar.

3. Buka jalur komunikasi langsung dengan masyarakat

Ketika mengawasi langsung proses perpindahan warga ke Rusun Marunda, Ahok tidak henti-hentinya membagikan kartu nama agar warga dapat menyampaikan langsung keluhan mereka. Hal ini menghindari sistem ABS (Asal Bapak Senang) yang selama ini banyak berlaku di kalangan pejabat Indonesia. Ini juga memudahkan fungsi kontrol di lapangan.

4. Kontrol langsung

Selain Jokowi – Ahok terjun secara pribadi dan membuka komunikasi langsung , mereka pun mengirimkan tim penyidik untuk mendapatkan verifikasi dari berbagai laporan yang mereka terima. Evaluasi yang tepat sasaran merupakan kunci keberhasilan suatu proyek. Biasanya ada dua jenis evaluasi yang dilakukan, yaitu evaluasi formatif (evaluasi yang berlangsung terus menerus selama proyek berjalan agar dapat melakukan penyesuaian dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan) dan evaluasi sumatif (evaluasi yang dilakukan di akhir proyek  untuk mengetahui keefektifan proyek dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai). Sejauh ini Jokowi-Ahok sangat baik melakukan evaluasi formatif ini dan melakukan perubahan yang dibutuhkan sesuai dengan temuan-temuan yang mereka dapatkan selama mengontrol langsung perpindahan warga ke Rusun Marunda.

5. Penuhi janji

Janji yang diberikan oleh Ahok ketika berhadapan langsung dengan pengungsi banjir sangat menggiurkan. Warga dapat langsung pindah ke Rusun yang dilengkapi dengan tv, kulkas, spring bed, dan perabotan dasar lainnya; dan janji itu dipenuhi. Merupakan angin segar ditengah banyaknya pejabat yang hanya memberikan janji manis tanpa tindak lanjut. Sedikit demi sedikit, Jokowi-Ahok mengembalikan kepercayaan warga terhadap pejabat publik. Kepercayaan ini merupakan salah satu syarat utama keberhasilan suatu pemerintahan dan program-program pembangunannya.


6. Libatkan partisipasi swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM)

Saya cukup kaget juga ketika Ahok mengatakan bahwa dana yang diajukan untuk menyediakann springbed, tv dan kulkas ditolak oleh BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) karen dinilai bukan dianggap kebutuhan korban banjir. Lalu bagaimana dengan janjinya? Ternyata beliau tidak kehilangan akal, melainkan menggunakan kesempatan ini untuk menggandeng pihak swasta untuk membantu pengadaan perabotan yang dijanjikan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) mereka. Saya lihat berbagai LSM juga terlibat dalam menyediakan kebutuhan warga, baik dengan menyediakan paket banjir maupun menyediakan pelatihan pemberdayaan perempuan. Tentu saja partisipasi swasta maupun LSM dapat terjadi karena mereka menaruh kepercayaan pada kepemimpinan Jokowi-Ahok.

7. Mengutamakan kepentingan manusia di atas peraturan

Satu hal lagi yang mengejutkan adalah ketika Ahok membahas persoalan janda miskin yang hidup menumpang di gudang atau dengan keluarga lain karena tidak mampu untuk membayar sewa Rusun. Beliau mengatakan orang-orang seperti ini harus tetap ditampung dan diberikan pekerjaan di Rusun agar dapat berdikari dan dihargai martabatnya sebagai manusia. Untuk dapat melakukan hal ini Ahok mengatakan akan mengubah status Rusun dari Unit Pengelola Teknis (UPT) dan akan diubah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), karena dengan BLUD maka Rusun dapat merekrut karyawan dari luar dan tidak terbatas pada PNS. Beliau selalu mengatakan yang penting adalah manusianya, peraturan dapat selalu diubah dan disesuaikan.

Semoga proses normalisasi kali pluit dan kali lainnya di Jakarta dapat berjalan dengan lancar dan setiap Rusun yang sudah ada atau akan dibangun dapat berfungsi dengan baik sebagai tempat tinggal maupun sebagai pusat kegiatan ekonomi rakyat. Salut untuk Jokowi dan Ahok.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selintas Mengenang Taufik H Mihardja …

Dwiki Setiyawan | | 27 August 2014 | 15:21

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 2 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 3 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 5 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: