Fasilitas Umum

Christie Damayanti

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino

Mana yang Harus Dipilih : Tambahan Lahan untuk ‘Saleable’ atau Lahan untuk Parkir ?

HL | 03 May 2012 | 21:02 Dibaca: 668   4

By Christie Damayanti

1336035588992730780

medanmagazine.com

Sebenarnya, setiap warga atau perusahaan yang ingin membuat sebuah pusat kegiatan, seperti membuat mall, apartemen, rumah sakit, bahkan sekolah serta bangunan2 kecil yang lain, apapun bentuknya, mereka harus memperkirakan banyaknya parkir yang dibutuhkan, sesuai dengan standard dan aturannya. Karena jika tidak demikian, pusat2 kegiatan itu akan tidak bisa menampung jumlah parkirnya, dan pasti akan menutup banyak akses di jalan2 di sekitranya. Dan itu mengakibatkan kesemrawutan bagi lingkungan sekitarnya.

Jumlah parkir atau volume parkir, untuk mendapatkan jumlah parkir, merupakan kumulatif kendaraan yang parkir di tempat atau kawasan tersebut, dan pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan data kendaraan yang masuk ke pelataran parkir tersebut ( atau bisa juga ke gedung parkir ) melakui pintu masuk parkir tersebut.

Disamping itu, data volume parkir beserta data lamanya parkir dan akumulasi parkir, digunakan untuk menghitung besarnya jumlaj ruang parkir yang perlu disediakan. Sehingga jika ruang2 parkir yang seharusnya sudah dihitung tetapi tidak di bangun ( biasanya karena kebutuhan ruang lain, sehingga sedikit demi sediki, si empunya proyek lebih mementingkan ruang yang bisa di pakai ( atau di sewa ), menjadi kebutuhan parkir pusat kegiatan itu mengjadi kurang …..

Data volume parkir juga merupakan informasi penting yang diperlukan untuk pengendalian parkir dalam kebijakan manajemen lalu lintas. Di negara lain, menurunkan tarif parkir untuk menaikan volume parkir, dalam kaitannya untuk menaikkan daya beli masyarakat di pusat kegiatan tersebut.

Ketika aku sudah bekerja lebih dari 20 tahun, dan menelsuri tentang rumusan tata ruang kota dan berhebungan dengan perparkiran, aku melihat bahwa konsep perparkiran di Indonesia, khususnya di Jakarta, tidak sesuai dengan standard dan aturannya.

Sebagai contoh ( ini hanya illustrasi saja, jika ingin lebih tahu, aku harus mencari tahu standard parkir di Jakarta sekarang ini ) :

Sebagai bangunan umum tingkat kota, sebuah sekolah besar dan terkenal, ternyata tidak mempunyai lahan parkir yang memadahi. Sehingga, mobil2 yang mengantar-jemput siswa2nya, harus memarkirkan mobilnya di sisi jalan di depan sekolahnya. Untuk sebuah sekolah besar dan terkenal, dibutuhkan 1 siswa = 1 mobil, walaupun memang ada yang tidak membawa mobil ( naik bis atau angkot ), atau jika 1 mobil bisa dipakai oleh 2 siswa kakak beradik. Standard mobil untuk sebuah sekolah besar tingkat kota adalah 1 : 5, yang artinya 1 mobil untuk 5 siswa ( sekitar itu ). Artinya lagi, bahwa jika sekolah tersebut mempunyai siswa sekitar 1000 orang, berarti ada 1000 orang dibagi 5 orang = sekitar 200 mobil. Itu adalah perkiraan yang sangat kasar, karena belum lagi kebutuhan mobil tamu2, serta guru2nya.

Jadi dalam sebuah sekolah tingkat kota dari 1000 siswa, dibutuhkan lahan parkir untuk 200 mobil. Jika 1 mobil mempunyai luas sebesar ( mobil standard, bukan sejenis Alphard, 5 m x 3 m ) 15 m2, maka dibutuhkan 200 mobil x 15 m2 = 3000 m2. Belum ditambah sekitar 20% untuk sirkulasi dan manuvernya, menjadi 3600 m2.

Sekarang, apakah si empunya sekolah ‘mampu’ memberikah lahan untuk membuat parkir? Atau membuah gedung parkir? Rasanya, tidak! Karena luas area sebesar 3600 m2 ini, mereka pikir akan bisa lebih ‘bermanfaat’ untuk membangun bngunan baru lagi, untuk ruang2 kelas, atau untuk auditorium atau apapun yang mereka inginkan. Makanya, yang seharusya 3600 m2 untuk lahan parkir, berkurang ( mungkin ) hanya ½ saja, yaitu sekitar 1800 m2 sampai 2000 m2 saja untuk parkir. Sehingga, lagi2, mobil2 akan diparkir di pinggir2 jalan …..

Perhitungan ruang parkir untuk Jakarta, sebenarnya sudah sering disosialisasikan. Dari aku masih duduk di bangku kuliah, sampai mulai bekerja, membuat pusat kegiatan dan jika sudah mengantongi ijin untuk membangun, seharusnya kita sudah harus mematuhi dan sesuai dengan aturan2 pemda dalam perparkiran. Tetapi, kenyataannya tidak demikian. Seperti di tulisanku di atas tentang sebuah sekolah besar tingkat kota yang harusnya membangun lahan parkir sebesar 3600 m2, tetapi lahan tersebut malah dibangun kelas2 lagi …..

Memang tidak gampang bagi si empunya proyek, si epunya lahan atau si boss. Disatu sisi, mereka ingin memenuhi standard dan aturan2 yang berlaku, tetapi di sisi yang lain, standard ini bertabrakan dengan kepentingan dan bisnis untuk mengcari keuntungan yang sebesar2nya. Juga, bukan hanya tentang profit tinggi saja, tetapi lebih adanya warga Jakarta yang memang sangat banyak, dan tidak memenuhi kriteria konsep hidup senuah kota yang manusiawi …..

Ini baru kebutuhan lahan parkir untuk sebuah sekolah. Belum lagi kebutuhan lahan parkir dari pusat2 kegiatan yang lain, seperti hotel, apartemen, mall, bioskop tunggal, restaurant, rumah sakit, dan sebagainya. Belum lagi juga, kebutuhan2 lain disamping lahan parkir, seperti kebutuhan service, kebutuhan fasilitas2 umum seperti klinik atau sekolah di apartemen, dan sebagainya. Banyak sekali kebutuhan2 yang harus di sediakan bagi warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya …..

Parkir di Jakarta memang merupakan permasalahan klasik, tetapi belum ada yang bisa ( atau yang mau?) memulai menyelesaikannya, karena ( seperti yang aku tuliskan diatas ) akan atau selalu bertabrakan dengan kebutuhan bisnis dalam mencari profit sebanyak2nya. Dan kenyataannya, tidak ada pusat2 kegiatan yang menjadi ‘ladang’ sosial, termasuk sekolah atau rumah sakit. Menurutku, sekolah dan rumah sakit, bukan tidak boleh mempunyai profit, tetapi tetap lebih ’sosial’ dibandingkan bangunan hotel, apartemen atau mall …..

Banyak pemiliranku tentang hal tersebut, sesuai dengan keinginanku menjadikan Jakarta lebih baik. Tetapi, apalah aku, seorang wanita biasa, walau konsep pikirku agak tidak ‘terkendali’ dalam menjadikan Jakarta yang lebih baik …..

Jangan pernah menyerah untuk Jakarta kita tercinta ….. seperti aku tidak pernah menyerah dalam penyembuhanku ……

Salam untuk Jakarta …..

Profil | Tulisan Lainnya

Tags: Array

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta